Kampusiana

Mahad Al-Jami’ah, “Sebuah Oase di Tengah Gurun Pasir”

Senja yang merona menyinari bangunan bercat hijau yang kokoh nan megah itu, Ma’had Al-Jamiah Assayidah Khodijah namanya. Asrama atau pesantren program pihak rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, terhitung sejak dua bulan lalu difungsikan. Ia menjadi kebanggaan di antara bangunan-bangunan tua lainnya.

Mudir (Direktur) Ma’had, Izzudin Musthafa menyatakan, perubahan nama Ma’had Aly menjadi Ma’had Al-Jamiah mengadopsi dari UIN Malang. “UIN Malang sukses dan mendapat respon bagus dari Depag, untuk itu semua UIN menggunakan nama Ma’had Al-Jamiah. Jika menggunakan Ma’had Aly takutnya disamakan dengan pesantren awal, mutawasithoh, dan ulya,” ungkap lelaki kelahiran Serang, Banten itu saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/11).

Izzudin juga menambahkan kebahasaan seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi menu utama santri ma’had. “Kalau ada yang lain, itu hanya tambahan saja. Apalagi guru diambil dari Pusat Bahasa yang telah berpengalaman dan kompeten di bidangnya,” kata Izzudin yang pernah mengenyam strata duanya di Ma’had Khartum Ad-Dauli, Sudan.

Santri putri yang berjumlah 120 orang dimanjakan dalam bangunan berlantai empat ini. Menurut salah satu dari tiga Musrifah (pembimbing wanita), Ima, santri-santri mahad adalah mahasiswi terpilih yang dinyatakan lulus melalui Penerimaan Calon Mahasiwa Baru (PCMB) serta yang lolos beasiswa Bidik Misi. “Tapi calon santri tidak bisa begitu saja langsung diterima di Mahad Al-Jamiah, harus melalui beberapa tahap tes seperti seleksi wawancara, kesanggupan, mengisi formulir, dan tes bahasa secara tertulis,” katanya.

Menurut salah satu Musrif (pembimbing laki-laki) Mahad Al-Jamiah, Bazran, dengan membayar 1,75 juta setahun, para santri bisa menempati kamar yang sudah dilengkapi dengan tempat tidur, lemari pakaian, meja dan kursi belajar. “Ada empat kamar berukuran 6×8 dan dua kamar mandi disetiap lantai. Setiap kamar diisi 9-10 orang. Kemudian setiap kamar mandi dilengkapi dengan 3 shower dan 2 WC. Santri juga mendapat fasilitas mencuci menggunakan mesin cuci dan dibebaskan uang makan,” katanya.

Santri hanya tinggal selama dua semester atau satu tahun. Hal ini dilakukan supaya mahasiswa baru mendatang dapat merasakan bermukim di ma’had ini sehingga terjadi regenerasi. Santri unggulan nantinya akan dipakai sebagai regenerasi untuk Musrif/Musrifah.

lingkungan ma’had, para santri hanya diperbolehkan menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tujuannya, kata Bazran, agar para santri terbiasa menggunakan kedua bahasa tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Mereka juga diarahkan untuk berkontribusi dalam lomba baca kitab, lomba pidato bahasa Inggris dan bahasa Arab tingkat nasional atau tingkat internasional.

Kegiatan di Mahad Al-Jamiah disesuaikan dengan jadwal kuliah para santri. Pada hari-hari kuliah, kegiatan dimulai setelah shalat Shubuh dan sore hari. Sedangkan, pada akhir Minggu kegiatan ditambah pagi dan siang hari. Kegiatan tersebut diantaranya belajar bahasa Inggris dan Arab, kajian kitab kuning, public speaking, dan pembelajaran kosakata.

Setiap sabtu malam diadakan acara mingguan yang dinamakan Mahad Got Talent, yaitu semacam pertunjukkan aksi dan bakat dari para santri. Santri bebas berekspresi dan mempertunjukkan bakatnya sesuai dengan aturan yang telah diberlakukan. Selain itu, diadakan kegiatan nonton bareng film berbahasa Inggris dan Arab. Di akhir minggu ini juga para musrif dan musrifah mengadakan evaluasi pembelajaran selama satu minggu ke belakang.

Untuk menunjukan eksistensinya, para santri Mahad Al-jamiah ini berencana membuat hymne dan mars Mahad Al-Jamiah dalam bahasa Inggris. Ini menunjukkan bahwa program Mahad Al-Jamiah sangat serius dijalankan. Dalam satu tahun ini pihak pengelola mahad optimis bisa menghasilkan mahasiswa berbasis pesantren yang bukan hanya unggul di bidang keagamaan tapi juga dalam bidang umum.

Asisten Direktur Bidang Akademik, Dindin Jamaludin berpendapat, mahasiswa UIN terkadang bersikap pesimis terhadap kemajuan UIN. Seharusnya mahasiswa UIN lainnya ikut mendukung program Mahad Al-Jamiah. “Kita harus optimis untuk kemajuan UIN, dalam waktu empat bulan saja Obama yang tadinya seorang senator bisa menjadi seorang presiden, kenapa UIN gak bisa?” katanya.

Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan Mahad Al-Jamiah. Dengan berbagai kemajuan teknologi dan gaya pesantren modern yang diterapkan, tidak lepas dari beberapa kekurangan yang memang harus dibenahi. Seperti belum tersedianya perangkat komputer dan laboratorium bahasa, meski demikian pihak pengelola mahad telah bekerja sama dengan Pusat Bahasa untuk setiap pembelajaran yang membutuhkan teknologi komputer.

Namun, bangunan itu pun masih berdiri angkuh, menjadi salah satu bukti kesungguhan pihak UIN Bandung setelah sekian lama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas mahasiswanya. “Saya tahu kampus kita ini banyak kekurangan, tapi ini adalah oase di tengah gurun pasir,” tutur Dindin mengakhiri pembicaraan. (Yane Lilananda)

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas