Kampusiana

Cerita Sepulang Kuliah

Oleh : Sonia Fitri*

Siang ini akhirnya mereka bisa tersenyum lega. Setelah penat mendengarkan ceramah pajang lebar ibu dosen tentang Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Kaitannya dengan Teknologi Mutakhir. Setelah menutup ceramahnya, para mahasiswa lantas berhamburan keluar. Mereka mulai membentuk kelompok-kelompok mereka masing-masing. Sedangkan aku masih belum beranjak, kebetulan selaku Kosma atau dalam bahasa SMA disebut KM (Ketua Murid), Bu Eka memintaku membantunya merapikan tumpukan makalah di mejanya kemudian menyimpan di kantornya di fakultas.

Makalah-makalah itu betul-betul tak berharga. Aku tahu, mereka semua pasti  menyelesainya dengan mudah, copy-paste dan nyontek sana-sini. aku tak yakin mereka betul-betul paham apa yang telah mereka buat. Memang ada-ada saja mahasiswa zaman sekarang, dengan mengandalkan biaya orang tua tiap bulan mereka bersenang-senang di kota besar. mereka suka yang praktis dan serba cepat.

Ah, kenapa pula si dosen menugaskan sesuatu yang sia-sia. Aku tak yakin pula ia akan memeriksa tugas-tugas plagiator itu dengan teliti. Sudah beberapa kali kami mengerjakan makalah sembarangan. Contohnya aku, selain menyontek, makalah kami asal-asalan, tak memperhatikan kaidah penulisan makalah yang dicontohkan para ilmuan dalam buku-buku panduannya.

Aku harus terus berakting ramah dan tetap tersenyum sampai tumpukan makalah berat ini sampai di meja fakultas. Ini sangat penting, aku harus pintar-pintar mengambil hati para dosen dan pegawai fakultas agar mendapatkan banyak kemudahan dalam jalur birokrasi dan pemberian nilai nantinya. Meski mahasiswa lain sering iri dan mengataiku penjilat, aku tahu mereka tak jauh beda denganku.

Pakaianku harus selalu rapi. Ini menjadi modal untuk mengambil hati para dosen. Kemeja dan celana bahan jadi andalan. Jika kepepet karena cucian masih di laundry, minimal pakai kaus berkerah, jangan sampai aku dianggap anak tak beretika. Memang tak habis pikir, kemarin si Mamat diusir dari kelas hanya karena pakai kaus oblong. Ada-ada saja. Memangnya apa pengaruh kaos oblong terhadap perkuliahan? Sang dosen beranggapan si Mamat tak menghormati mimbar akademik. Padahal jika saat itu tahu diusir, sekalian saja si Mamat tak pake baju sekalian agar tampak jelas bagaimana tudingan perilaku tak hormatnya.

Pada akhirnya timbul pertanyaan, kenapa mereka ingin dihormati? Bukankah rasa hormat bisa datang dengan sendirinya. Hormat bukanlah sesuatu yang harus diminta atau dipaksa. Jika memang benar-benar terhormat, pasti ia dihormati. Lalu seenaknya mereka yang mengaku berilmu tinggi dengan enteng menghakimi orang lain hormat atau tidak dengan melihat pakaiannya saja.

Ups!!! Satu pesan baru. Sobatku Nasep memberitahu posisinya dan memintaku untuk segera bergabung dengan sahabat-sahabat yang lain, Isah, Icih, Marni, Urip dan Komar. Kami bukanlah bagian dari kelompok manapun di kampus. Bukan pula anggota salah satu organisasi-organisasi resmi yang eksis dan tenar. Dengan bangga kami menyebut diri kami independen, tidak masuk golongan apapun.

Keseharian kami setelah pulang kampus adalah jalan-jalan dan berbelanja. Seperti hari ini. Kami akan memulai rutinitas ini dengan penuh semangat. Pasalnya masih tanggal muda, pundi-pundi saku masih segar dan tebal. Hari ini kami berencana pergi nonton ke bioskop. Setelah itu berwisata kuliner sampai Maghrib.

Sebuah gedung kulewati. Bangunan itu cukup besar namun terkesan angker. Dimuka bangunan tergantung papan lusuh bertuliskan serangkaian kata, PERPUSTAKAAN. sebuah nama tempat yang seharusnya istimewa, dijuluki lumbung ilmu, jantungnya lembaga pendidikan. Tapi yang kudapati di sini, ditempat sekelas universitas, ia lebih layak disebut sebagai sebuah bangunan tua yang sungguh tak menarik. Sesekali aku pernah masuk ke sana, sekedar ingin tahu. Mungkin saja akan menemukan sisi baik dari tempat ini. Kala itu, sambutan dingin penjaga mewarnai langkahku saat pertama masuk. Mata mereka melotot penuh curiga, mengawasi para pengunjung takut-takut ada yang menyelipkan sesuatu di balik baju mereka.

Setelah tas dititipkan, aku segera masuk menghampiri deretan rak-rak berisi buku-buku yang berjajar rapi. Seperti lazimnya perpustakaan, disana terdapat meja-meja dan kursi-kursi untuk membaca. Beberapa mahasiswa asyik membaca, berdiskusi bahkan ada yang asyik tidur dalam heningnya suasana. Hmmm… inilah salah satu sisi positifnya. Bahkan dalan bingkai bangunan tua, buku-buku hebat yang usianya sudah tak lagi muda, sepuh bin karuhun ini masih punya peminat, terbukti dari keberadaan pengunjung yang datang.

Tak ada alasan untuk tidak belajar, membaca dan mengkaji, kapanpun dan di manapun. Bangunan angker, fasilitas minim, kurangnya ketersediaan buku dan para pegawai jutek hanya akal-akalanku saja yang memang malas datang ke perpus untuk membaca.

Kali ini, si cempreng Icih telepon. Ia memintaku cepat bergabung agar sampai ke Bioskop tepat waktu. Namun, langkahku agak terhambat oleh iring-iringan sekelompok mahasiswa. Dua orang yang berjalan paling depan membawa bendera-bendera besar yang dikibarkan. Di jajaran kedua, sekitar lima mahasiswa kerempeng bertelanjang dada. Tubuh dan wajah mereka dicoret-coret aneka warna, didominasi warna merah dan putih. Dibelakang mereka puluhan mahasiswa lainnya bergabung meneriakan sesuatu yang sampai saat ini masih tak kumengerti. Katanya mereka sedang memperjuangkan idealisme, membela hak seluruh mahasiswa yang katanya jadi korban kebohongan kaum birokrat.

Tiba-tiba seseorang menghentikan langkahku lagi. Dengan tersenyum manis ia memberikan sebuah tabloid gratis. Oh, ini toh hasil karya para wartawan kampus itu, yang rajin memberitakan dan mendokumentasikan peristiwa seputar kampus. Katanya mereka menggunakan cara berbeda dalam menyuarakan aspirasi mahasiswa. Hmmm… untuk yang satu ini, No Coment…

Kata para aktivis itu, aku dan kawan-kawanku termasuk golongan mahasiswa apatis. Setelah kuliah langsung bermain dan bersenang-senang tak karuan. Kuakui, aku belum tahu apa yang ku perjuangkan dalam status kemahasiswaan. Aku harus jadi anak manis yang menurut saja apa kata Mamah, “Jangan aneh-aneh di kampus, belajar saja yang benar.” Ia selalu mewanti-wanti agar aku bisa menjalin hubungan baik dengan para pejabat kampus. Apalagi pamanku adalah salah satu petinggi di rektorat. Aku setuju, seminimal mungkin menghindari masalah dengan pihak-pihak yang bisa menyulitkan proses kelulusanku.

Adzan Dzuhur berkumandang ditengah matahari yang belum puas memanggang ubun-ubun. Keringat-keringat mulai mengucur melumerkan bedak-bedak para mahasiswi dan mahasiswa metroseksual. Kulihat sebagian orang-orang disekitar teras mesjid masih belum beranjak. Mereka masih asyik dengan kesibukan masing-masing. Dari mulai berdiskusi sampai bergosip. Ada pula yang sekedar kumpul sambil makan-makan serta yang tenggelam dalam kesendiriannya di depan laptop. Teras itu sudah tak tampak seperti punya masjid lagi. Atau apakah memang telah beralih fungsi jadi tempat nongkron, piknik atau pengungsian???

Namun, tak sedikit pula yang beranjak. Beberapa ikhwan dan akhwat sholeh-sholehah, pelopor dakwah Islam serta orang-orang yang tahu dan mengerti agama, bergegas memenuhi panggilan adzan. Menuju tempat wudlu masjid yang kerannya kerap macet serta berbau pesing.

Adzan yang masih belum usai itu juga bersaing dengan musik-musik cempreng kaleng rombeng yang berasal dari balik dinding aula. Kebetulan letaknya berdekatan dengan mesjid. Saat itu tengah diadakan audisi band kampus. Wah-wah, makin tak karuan saja kampusku tercinta.

Bagaimana denganku, adzan itupun tak kuhiraukan karena di sebelah sana anak-anak telah melambaikan tangan, memintaku cepat bergabung. Toh masih ada waktu sekitar tiga jam lagi. Aku akan shalat jika ingat. Baiklah, sekarang kami mulai menaiki motor-motor kebanggaan kami. Motor yang kuperoleh dengan cara merengek-rengek dengan alasan untuk keperluan kuliah.

Hmmm… bagaimana bisa ada mahasiswa macam aku. Bi
sa jadi apa negara ini, jika menghasilkan para lulusan sampah yang selalu berpikiran negatif. Pemikiranku yang tak karuan dan komentar-komentar negatif ini hanyalah manipulasi belaka karena sesungguhnya aku masih belum benar-benar tahu apa yang sesungguhnya kuinginkan. Inilah aku apa adanya.

* Penulis adalah Mahasiswa Jurnalistik Semester 3

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas