Opini

Mahasiswa dan Media Literacy

Oleh Rovi’i*)

“Media Literacy is a set of perspectives that we actively use to expose ourselves to the media to interpret the meaning of the messages we encounter….” – James Potter -.

UNGKAPAN di atas mengingatkan saya kepada sebagian masyarakat akademis di UIN Bandung. Sederhana memang kalau melihat pada pengertian “mahasiswa” dan “media literacy”. Namun, jauh dari itu James Potter mengajak kita agar tidak menjadi pembaca pasrah terhadap berbagai bentuk media. Ia mengungkapkan dalam bukunya “Media Literacy” – 2005 – mengatakan bahwa media literacy ialah sebuah perspekif yang digunakan secara aktif ketika, individu mengakses media dengan tujuan untuk memaknai pesan yang disampaikan oleh media.

Kurang bijak rasanya kalau hanya berkutat satu pengertian belaka. Sebab, terkadang pengertian bisa berbeda dari kenyataan. Ada satu kisah (kenyataan) menarik yang mengajarkan pentingnya media literacy: seorang mahasiswa asyik menikmati sarapan pagi. Dia tak lupa membaca Koran guna memperoleh isu hangat (burning issue) di pagi hari. Kemudian berangkat menuju ke kampus. Di tengah perjalanan sesekali ia memutar lagu kesayangannya, atau sekedar mencari channel radio di mobile phone. Sesampainya di kampus, ia teringat dengan tugas yang belum dikerjakan. Terpaksa ia mengambil jalan pintas pergi ke warnet: men-download makalah di situs scribd.com, kemudian mengirimkannya ke surelek – surat elektronik – Dosen bersangkutan.

Singkat cerita, jam perkuliahan pun usai. Bergegas si mahasiswa itu ke luar kelas. Pulang ke kontrakannya. Setibanya di kontrakan ia duduk santai di depan TV sembari menikmati Mie Ayam yang dibelinya di tengah perjalanan. Cerita pun belum usai, saat Malam menjelang, ia menyempatkan diri meng-up date status di facebook dan twitter. Bahkan, saat hendak tidur ia kembali mendengarkan musik penyejuk hatinya via HP merek LG sendirian.

Narasi di atas mengindikasikan bahwa, kini mahasiswa mengakrabi media teknologi. Mobile phone, internet (tahun 2009 situs mencapai 54,1 juta!), komputer, TV (39 channel), radio (1132 radio swasta), dan platform media sosial telah menjadi bagian hidupnya. Tak bisa dipisahkan bagaikan cinta Romeo and Juliet dalam karya Shakespeare. Pertanyaannya seberapa besarkah kesadaran mereka terhadap penggunaan media teknologi? Apakah kehadiran media teknologi sudah dibarengi dengan media literacy?

Media dapat diartikan perantara, baik berupa benda maupun peristiwa (Pocket Dictionary, 2005). Sementara term “literacy” berarti kemampuan membaca dan menulis (Oxford Dictionary, 2008). Dalam konteks teknologis, “media literacy” ialah kemampuan mencari, mempelajari, menggunakan dan memanfaatkan saluran informasi (information tool) dari pelbagai sumber media teknologi. Dalam bahasa lain, “media literacy” dapat juga diartikan sebagai tingkat kemelekan atas media yang hadir dalam kehidupan.

Bersikap Kritis

Sikap kritis merupakan ciri utama warga melek media. Mereka selalu mempertanyakan keabsahan informasi yang hadir dalam kehidupannya. Sikap kritis akan membuka selubung ideologi dari konten informasi, sehingga tidak – meminjam bahasa Gramsci (1971) – dihegemoni subjek media. Karena, tidak sedikit konsumen media (koran, TV, tabloid, internet) yang menerima berita dengan kepasifan buta. Sehingga eksistensi konsumer tidak muncul sebagai penafsir yang merdeka. Maka, kesadaran ”media literacy” penting dimiliki agar bisa memfilter mana informasi sampah dan mana informasi yang berkualitas.

Kehadiran media baru (new media) telah mempengaruhi pola hidup mahasiswa. Kultur membaca media cetak berganti pada media digital. Ada semacam loncatan kebudayaan dalam kultur membaca dan menulis. Lantas bagaimana kita menyikapinya? Berdasarkan pada pada hasil Konferensi bertajuk ”21 Century Literacy Summit” di Jerman, 7-8 Maret 2002 ihwal ”media literacy”. Penulis hanya mengambil dua bentuk media literasi, di antaranya: Pertama, literasi teknologi (technology literacy). Individu dapat memanfaatkan media teknologi. Misalnya ketika mahasiswa dibebani tugas oleh Dosen untuk mencari referensi. Kita dapat menggunakan perangkat komputer dengan akses internet dengan kemampuan mengoperasionalkannya.

Kedua, literasi informasi (information literacy). Beragam informasi bisa ditemukan dalam berbagai media. Jika mahasiswa tidak dapat menyaring informasi alias serba dilahap, itu akan berdampak pada kematian sikap kritisnya. Sehingga peran mahasiswa sebagai individu kritis seolah tenggelam. Pembacaan teks pun menjadi tidak bermakna, karena mahasiswa tidak dapat menafsirkan secara merdeka. Dalam kondisi demikian, tidak akan terjadi evolusi kebahasaan yang cergas. Perilaku haram seperti plagiasi, misalnya, kerap terjadi ketika mahasiswa mengerjakan tugas karena keinstanan memeroleh informasi.

Karena itu, sejatinya kita membaca, memahami, dan memanfaatkan pesan di media. Kemudian mengupayakan dialektika pemahaman antara kita dengan pesan media. Kiranya begitulah kenapa perlu mendorong kesadaran bermedia (baca: melek media) di kalangan mahasiswa. Sehingga produksi kebahasaan sebagai petanda suprastruktur peradaban dapat terwujud. Dengan ”media literacy” inilah mahasiwa bakal mampu bersikap kritis, berwawasan luas, merdeka, dan berpengetahuan.

*) Penulis: mahasiswa sastra inggris UIN Bandung
bergiat di komunitas IRFANI (Institute for Religion and Future Analysis ) Bandung
serta aktif sebagai kontributor di website http:// www.jejaringku.com

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas