Kampusiana

Inay, Gadis Pendaki dari Mahapeka

Dalam sekejap, pandangan 31 mahasiswa tertuju pada seorang gadis yang baru saja datang di depan pintu. Ekspresi kaget, heran dan penasaran yang bercampur kagum begitu ketara kala itu. Ekspresi tersebut tentu bukan karena keterlambatannya di ruang Iran Corner, Fakultas Ushuluddin yang dipakai sebagai lokasi perkuliahan dadakan. Layaknya tamu agung, ia dipersilakan masuk oleh sang dosen.

Ia dipersilakan duduk di depan, disandingkan dengan Ira dan Ifan, dua mahasiswa yang baru sekitar lima menit menyampaikan materi persentasi. Rupanya, saat itu sedang diadakan diskusi kelompok. Namun, seiring kedatangannya, diskusi tersebut berubah menjadi semacam acara talk show dan wawancara.

Gadis itu bernama Inayatul Fajriah. Ia termasuk salah seorang mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berkesempatan mendaki Gunung Binaya, Pulau Seram, Maluku. Istimewanya, pendakian ini diliput oleh Metro TV, dan ditayangkan pada pertengahan Januari mendatang dalam acara Ekspedisi.

Ketika UIN Bandung merayakan dies natalies ke-43, namanya terpampang dalam spanduk besar di depan aula. Namanya bersanding dengan dua temannya sesama anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa Pecinta Kelestarian Alam (UKM Mahapeka), Iman Suparman dan Lela Sopamena.

Dari lima kali pengalamannya mendaki gunung, baginya Gunung Binaya adalah yang paling istimewa. Bukan sekadar karena acara tersebut diliput, namun juga dari karekteristik gunung yang lembab, basah serta berawa-rawa. Meski ketinggian gunung hanya 3027 meter di atas permukaan laut, ia tetap harus melalui perjalanan yang tidak mudah.

Untuk sampai ke puncak tidak cukup dengan dengan sehari atau dua hari perjalanan. Ditambah lagi, ia dan teman-temannya tidak memakai jalur utara yang mudah dan cepat. Mereka harus melalui jalur selatan yang terbilang ekstrim. “Itu karena kita harus meliput tradisi dan kebudayaannya beberapa desa di sana, serta ikut upacara adat penduduk setempat,” tutur gadis yang akrab disapa Inay ini.

“Syuting di sana ternyata nggak mudah, karena cuacanya sedang hujan dan rentan longsor. Banyak momen penting dan menarik yang nggak bisa diambil karena kondisi jalan licin dan sangat berbahaya. Kendala lainnya, Sano, kameramen dari Metro TV mengalami gangguan fisik karena kakinya kena kutu air akibat kondisi tanah yang lembab,” sambung Inay, yang mengaku menghabiskan waktu 16 hari sampai ke puncak.

Situasi dingin dan lembab, serta banyak binatang penghisap darah seperti lintah dan nyamuk hutan mengharuskan mereka lebih berhati-hati. Selama perjalanan, mereka makan ransum, makanan yang sering dipakai para tentara. Selain itu, mereka juga makan kasbi (singkong), pisang, dan buah-buahan yang mereka temukan di hutan. Saat singgah di desa, mereka mendapat sambutan baik. Mereka dibantu pembawa barang yang direkrut dari penduduk setempat dalam mengatasi kendala bahasa.

Masalah sesuungguhnya ialah ketika sebelas orang dalam tim ini harus terus menjaga kekompakan. Jika konflik tak dapat diatasi, maka akan berujung pada pecahnya tim dan kegagalan ekspedisi. “Kebersamaan itu penting, jangan mementingkan ego pribadi. Utarakan masalah dan sering briefing, karena kekuatan tim ada pada kekompakan,” lanjut Inay yang telapak tangannya terlihat berbintik hitam akibat gigitan binatang penghisap darah.

Pernyataan yang mengejutkan sempat diungkapkan oleh Inay. Ia mengaku selalu merasa menyesal tiap kali naik gunung. “Setiap naik gunung, selalu ada penyesalan. Sering saya bertanya-tanya, kenapa mau saja buang-buang duit dan tenaga untuk kegiatan kayak begini. Tapi perasaan menyesal itu akan selalu lenyap saat nyampe puncak,” ujar Inay.

Pengalaman Inay mendaki Gunung Binaya adalah hasil proses perjuangan panjang. Sebelum proses kerjasama dengan pihak Metro TV, ia dan rekannya Lela Sophamena sebagai penggagas ide harus menjawab tantangan anggota Mahapeka lain yang sempat meragukan ide mereka. “Pada akhirnya, semua ucapan mereka yang terkesan mematahkan semangat justru menjadi pendorong bagi kita untuk terus berjuang sampai akhirnya berhasil.”

Menurut salah seorang senior Mahapeka, “Maruk” Azhar, untuk menjawab rasa penasaran mahasiswa, kata Maruk, nantinya akan ada sosialisasi hasil ekspedisi. Ia pun sangat penasaran ingin melihat hasilnya. “Insya Allah akan ada bedah film untuk ekspedisi ini.”

[]Sonia Fitri, Yane Lilananda, Sova Sandrawati/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas