Kampusiana

Mahasiswa, Laptop dan Semangat Ke-ngeblog-an

Oleh : Miftah Natsir*)

Keserba-mudahan ini tidak serta merta menjadikan mahasiswa semakin produktif. Lantas, apa yang bisa kita banggakan kepada Bangsa Indonesia, tentang amanat yang disematkan pada pundak kita sebagai agen perubahan?

Ada perubahan signifikan dalam kebiasaan saya menulis ketika akhirnya (setelah bosan berangan-angan), memiliki laptop yang saya anggap seperti ‘senjata’, atau sebagai pengganti pena untuk menulis. Ini kemudian menjadi semacam pembuktian saya kepada pemerintah bahwa saya telah menggunakan uang Negara di jalan yang mudah-mudahan benar dan lurus. Bagi saya pribadi, laptop sangat penting untuk membiasakan diri menulis. Mencurahkan perasaan, menulis kejadian menarik, ide, perasaan, ataupun sebatas coretan tak bermutu untuk kemudian bertumpuk dalam satuan kilobyte.

Menulis, khususnya nge-blog menjadi semacam pelarian atas realitas. Ketika tidak ada ruang lagi untuk menyalurkan ide, perasaan atau untuk sekedar besantai ria maka blog menjadi sebuah penampungan semua kegelisahan hidup dengan menuliskannya. Semua itu sebagai alternatif pelepasan kepenatan setelah bergelut dengan berbagai keseriusan. Kurang indah rasanya kalau kehidupan akademis ini hanya melulu berkutat dengan buku, makalah, tugas, perpustakaan, dosen killer dan hal-hal yang berbau serius lainnya. Maka, menulis dan juga nge-blog menjadi salah satu alat pelampiasan efektif untuk melawan kejenuhan ngampus. Atau, ketika teriakan tak lagi dengar oleh elit kampus, maka menulis adalah senjata terakhir dan cukup efektif untuk melawan ketidakadilan.

Tak bisa dipungkiri bahwa, kemajuan teknologi ternyata merubah cara manusia dalam melakukan sesuatu. Hampir-hampir budaya tulis dikertas mulai ditinggalkan, digantikan budaya menulis di komputer jinjing yang kini kehadirannya tidak lagi menjadi barang mewah, khususnya bagi mahasiswa. Dengan keberadaan benda berteknologi ini, semakin memudahkan mahasiswa untuk mengakses informasi lewat internet yang mulai tersedia di setiap sudut kampus.

Semakin ditinggalkannya buku, dan beralihnya ke laptop bukanlah hal yang perlu disesali karena mahasiswa telah terbantu dengan fasilitas ini. Bayangkan saja, dengan berat antara 1-2 kg, benda sekecil laptop ini bisa menyimpan ribuan buku-buku elektronik, yang jika dicetak bisa memenuhi ruangan kelas. Kemudahan dalam mengakses jutaan informasi di seluruh dunia, menjadi kelebihan tersendiri teknologi ini.

Perubahan tanpa Semangat

Perubahan adalah suatu keniscayaan. Muhammad Iqbal menegaskan bahwa manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan akan terlindas dan tersingkir oleh zaman. Ketidakmampuan dalam memahami perubahan menjadikan manusia diam ditempat. Begitu pula dengan menulis, yang asalnya menggunakan buku bertransformasi menjadi laptop yang mobilitasnya tinggi, sehingga kegiatan menulis dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah perubahan ini menjadi sebuah pemicu berubahnya suatu kreatiitas? Apakah dengan majunya teknologi manusia semakin produktif dalam berkarya? Atau malah terlena dengan kemajuan teknologi sehingga menjadikan manusia semakin malas untuk berkarya ? transformasi dari buku ke laptop tentu sangat dirasakan manfaatnya. Beberapa tahun kebelakang sebelum laptop booming, seorang mahasiswa membuat tugas dengan membuat tulisan tangan di kertas bergaris bisa memakan waktu berhar-hari, atau bersusah payah mengetik di mesin tik hingga jari rasanya mau patah.

Namun, saya kira, perubahan yang terjadi sekarang lebih kepada perubahan sikap mental yang cenderung hedonistik dan instant. Ternyata, kemudahan tidak serta merta meningkatkan kualitas dan kuantitas berkarya. Justru dengan kemudahan ini mahasiswa semakin ternina bobokan. Dan membuat mereka tidak sadar akan perubahan itu sendiri.

Kesadaran dalam konteks ini adalah adanya refleksi atas perubahan yang terjadi. Kegigihan masa lalu dalam membuat karya tidak lantas hilang dengan adanya perubahan. Justru dengan perubahan yang semakin memanjakan dan memudahkan ini menjadikan produktifitas meningkat. Tidak elok juga kalau kemudahan teknologi malah semakin mereduksi semangat dan kegigihan dalam berkarya. Jika dulu untuk menjadi penulis saja harus bersusah payah. Menyiapkan kertas dan pensil untuk mencatat ide. Belum lagi harus mengetik di mesin tik yang membuat jari terasa mau patah. Atau memasang pita yang sangat sulit memasangnya. Sekarang, semua itu bisa dikerjakan hanya cukup dengan memijit tombol power dan kegiatan menulis pun bisa dikerjakan pada waktu dan tempat yang tak terbatas.
Selain hal diatas, fakta lain yang menyedihkan adalah tugas-tugas mahasiswa yang seharusnya berbobot dan kaya akan muatan intelektualnya malah terkesan tidak bermutu dan dipandang sebelah mata hanya karena dikerjakan dalam sistem kebut semalam. Parahnya lagi, mahasiswa banyak melakukan plagiat dengan hanya copas (copy-paste) langsung dari internet.

Pentingnya Kesadaran

Perubahan memang harus terjadi, namun kesadaran akan perubahan dan bagaimana mengaktualisasikan spirit masa lalu dalam konteks kekinian harus dipertahankan. Sangat tidak sehat juga ketika keserba-mudahan menjadikan manusia tertidur dari kesadarannya. Refleksi atas perubahan ini perlu agar manusia tidak semakin terasing dengan dirinya sendiri. Terlebih lagi jika perubahan mampu memperkaya diri manusia dengan semangat berkarya dan pengetahuan.

Romatisme semangat masa lalu bukanlah hal yang melangit untuk direalisasikan dalam konteks kekinian. Justru, menjadi ironis jika kegigihan masa lalu menjadi semakim melempem dalam era keserba-mudahan ini. Semoga saja, mahasiswa sekarang bisa merfleksikan segala perubahan demi perbaikan diri yang pada akhirnya menempatkan mahasiswa sebagai the real agent of change.

Menurut Anda bagaimana?

*) Penulis adalah salah satu kru magang SUAKA

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas