Kampusiana

Mengapa Kita Harus Bertindak Anarkis?

Oleh : Dra Heny Gustini Nuraeni M.Ag

Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang, mas intan yang kau kenang. Hutan gunung, sawah lautan, simpanan kekayaan. Kini ibu sedang lara. Merintih dan berdoa.

Rasanya, syair di atas benar-benar cocok untuk menggambarkan kondisi bangsa tercinta ini. Indonesia selalu menyebut dirinya Negara hukum. Namun, sekarang negeri tercinta ini seperti hutan belantara. Siapa yang kuat dia yang menang. Pantas jika masyarakat kehilangan pegangan dan teladan. Tak ada kepercayaan pada para pemegang tampuk kepemimpinan yang selalu berkelit dan berbohong. Masyarakat pun menjadi labil. Mereka cepat sekali tersinggung, cepat marah, dan akhirnya tindakan anarki ada di mana-mana.

Penulis sering kali menangis saat melihat kemarahan masyarakat. Terlebih jika yang dilampiaskan secara anarkis, merusak fasilitas yang tersedia, dan terkadang diikuti dengan tindakan kekerasan. Bahkan, hingga pembunuhan. Lebih menyedihkan lagi, tindakan anarkis pun merambah pada lingkungan kampus yang notabene berisi orang-orang intelek yang memiliki kedudukan tinggi dan istimewa dalam mata masyarakat. Ironisnya, masyarakat selalu berharap kampus mampu melahirkan para pemimpin.

Sebagai insan kampus yang hidup dengan masyarakat, kita harus mulai menyadari ada beberapa hal yang wajib kita lakukan. Pertama, jangan menyalahgunakan kedudukan kita sebagai insan kampus yang dihargai dan dihormati masyarakat untuk kepentingan diri kita sendiri. Kedudukan itu seharusnya kita gunakan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.

Bimbing tangan masyarakat dengan sepenuh hati dan akhlak yang indah. Cintai masyarakat dengan kasih sayang. Tebarkanlah kebahagiaan untuk dan dalam masyarakat.
Kedua, jangan terlalu asik dengan diri sendiri dan tak peduli dengan kehidupan masyarakat sekitarnya. Ilmu pengetahuan menjadi tidak berguna bagi masyarakat jika kita tidak mau bergaul baik dan mengenal masyarakat tempat kita berpijak. Pada akhirnya, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk masyarakat. Untuk apa kita kuliah jika bukan untuk hidup dengan masyarakat?

Ketiga, jaga dan pelihara kepercayaan masyarakat. Hati- hati berjalan di tengah masyarakat, karena insan kampus menjadi sorotan mereka. Akhlak kita dijadikan alat penilai dan pengukur. Ilmu yang segudang, kegiatan kampus yang menumpuk, berbagai organisasi kita masuki, dan kemahiran kita dalam berkomunikasi menjadi tidak bernilai jika akhlak kita rendah. Jika moral kita bejat.

Peristiwa penyerangan baru-baru ini, harus kita sikapi dengan hati-hati dan bijaksana. Kita harus mengambil hikmah dari kejadian ini, biarkan hukum yang berbicara. Tidak perlu melontarkan statement yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ini harus menjadi bahan renungan yang berharga bagi kita sebagai insan kampus khususnya UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Kita harus menghindarkan diri dari persepsi yang salah. Persepsi yang salah dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Sebab, persepsi kadang berubah-ubah tergantung pada subjek yang melakukan persepsi itu. Persepsi selalu subjektif, tidak objektif. Jadi, tidak mudah untuk mengetahui mana yang benar.

Contohnya, penyerangan yang dilakukan oleh kelompok pemuda NTT ke Keluarga H. Odang. Itu akibat dari salah persepsi, karena di rumah tersebut ada orang berbaju merah yang dianggap telah melukai Ridwan, salah satu pemuda asal NTT.

Konflik yang berujung dengan tindakan anarki ini seharusnya tidak terjadi jika masyarakat atau pun kelompok lain bisa menahan diri. Namun, dari konflik tersebut ada aspek positif yamg bisa diambil. Berbagai penelitian membuktikan, konflik juga mempunyai aspek-aspek positif, seperti memperkuat identitas kelompok, meningkatkan prestasi kelompok ( Jehn: 1945), memberi peluang untuk belajar, dan meningkatkan konsensus ( Franz & Jin: 1995).

Perilaku Kelompok

Menurut Peter L. Berger (1985), di berbagai komunitas, cara-cara kekerasan dapat digunakan secara resmi dan sah manakala semua cara paksaan gagal. Kerusuhan yang telah berkembang menjadi gerakan anarki, seringkali secara terpaksa dibubarkan dengan dan diatasi oleh petugas dengan cara kekerasan, seperti melempar gas air mata atau membubarkan kerumunan dengan pentungan, tetapi jika masa tidak terima perlakuan tersebut bahkan mereka menjadi baku hantam.

Aparat sebagai kontrol sosial seringkali tidak sabar dalam menghadapi konflik yang terjadi. Mereka seakan tidak memahami, jika kekerasan diberlakukan sebagai cara untuk menghentikan kerusuhan, yang terjadi adalah massa yang makin membabi buta. Masyarakat makin sulit dikendalikan.

Padahal, bentuk kontrol sosial terhadap masyarakat dapat dijalankan dengan cara persuasif atau dengan cara koersif. Cara persuasif terjadi apabila pengendalian sosial ditekankan pada usaha mengajak atau membimbing. Sedangkan cara koersif merupakan tekanan yang terpaksa dilakukan.

Konflik yang berujung huru hara dan tindakan anarkis merupakan perilaku kolektif. Menurut Gustave Le Bon, kelompok memang lebih agresif daripada individu, karena jiwa kelompok lebih irasional, lebih inpulsif, dan lebih kekanak-kanakan daripada jiwa perorangan. Namun, bagaimana pun, sebagian pakar menganggap bahwa setiap perilaku kelompok –termasuk perilaku yang tergolong kekerasan seperti yang terjadi akhir-akhir ini di kawasan Cipadung—selalu berawal dari prilaku individual.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis mengajak, mari kita belajar dari apa yang sudah kita lihat. Sebagai seorang Muslim, kita harus renungkan perkataan Rasulullah. Dari Abdilah bin Umar, ia berkata bahwa Nabi SAW telah bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang menyebabkan Muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang yang hijrah adalah orang yang berpindah dari apa yang telah dilarang oleh Allah SWT.”
Jadi mengapa kita harus bertindak anarki?

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas