Terkini

UKM/UKK Menggugat Kejelasan

Senin, 3 Januari 2011, ruang sekretariat Dewan Mahasiswa (Dema) tampak ramai. Hari itu, Dema mengundang semua pimpinan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK) untuk membahas dampak pembangunan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

Bagi seluruh organisasi kemahasiswaan intra-kampus, dampak pembangunan ini memang merugikan mereka. Mereka terancam terusir dari sekretariatnya sendiri. Masalahnya, muncul kekhawatiran jika nantinya tempat relokasi yang didapat tidak sesuai keinginan.

Pertemuan ini berlangsung alot. Tiap undangan berusaha mengemukakan pendapatnya masing-masing. Mayoritasnya mempersoalkan jarak lokasi yang baru. Mereka menolak relokasi jika jaraknya jauh dari lokasi kampus Cibiru, apalagi jika sampai harus mengeluarkan biaya transportasi.

Selain itu, masalah jam malam pun ikut menyeruak. Seluruh undangan sepakat, jam malam tidak boleh diberlakukan di lokasi baru. Mereka berpendapat, hampir semua UKM dan UKK lebih sering beraktivitas saat malam hari. Karena itu, pengadaan jam malam tentu akan membatasi ruang gerak mereka.

“Harapan kami, asal tempatnya tidak mematikan kreativitasan saja. Mau di luar atau di dalam, itu frekuensi yang harus diterima. Cuma kalo di luar, kami takut susah masuk lagi. Hampir setiap hari kami membicarakan soal ini. Tapi karena simpang siur, kami pun belum tahu harus bagaimana,” kata Ikbal, anggota Lembaga Seni Lukis dan Kaligrafi (LSLK).

Menurut Ikbal, dirinya belum mendapat informasi kapan tepatnya sekretariat UKM harus pindah. “Tidak jelas. Ada yang bilang tanggal 15 (Januari, red-), ada juga yang bilang April,” ujarnya.

Ikbal berpesan, pemindahan ini harus terlebih dulu disosialisasikan. Jangan sampai dilakukan secara mendadak. “Dulu saat masih di senat, saya pernah mengalami hal kayak gitu. Ketika kami masih tidur terlelap, sekitar jam setengah lima tiba-tiba atap sudah nggak ada. Takutnya seperti itu, makanya kami tiap hari bersiaga di sini. Takut tiba-tiba kebongkaran kayak gitu. Saya harap nanti jangan kayak gitu. Harus ada pemberitahuan lagi. fix-nya tanggal berapa. Lokasikan di mana.”

Akibat kabar yang simpang siur, hingga akhir pertemuan tersebut, belum ada keputusan yang mufakat. Ketua Dema Jatnika Sadili hanya meminta tiap UKM dan UKK membuat sebuah surat pernyataan sikap dan harapan-harapan mengenai rencana ini. Nantinya, pernyataan sikap ini akan diberikan pada rektorat.

Selain itu, ada pula rencana agar perwakilan seluruh UKM dan UKK beraudiensi ke rektorat. Selama ini, audiensi ke rektorat memang hanya dilakukan per UKM. Pertemuan pun dibubarkan. Rencananya, pertemuan akan kembali dilanjutkan pada Rabu, 5 Januari 2011.

“Pihak Dema  mengarahkan penempatan lokasi diserahkan pada masing-masing UKM. Alasannya karena kebutuhan UKM beda dengan organisasi kemahasiswaan yang lain. UKM punya kegiatan yang sifatnya rutin setiap minggunya, sehingga harus memiliki aturan khusus seperti memperbolehkan kumpulan antara laki-laki dan perempuan. Dengan aturan itu, jika lokasinya sangat dekat pemukiman, bagaimana tanggapan masyarakat melihat hal itu. Karena itulah mereka harus bisa mencari lokasi yang tepat untuk UKM mereka,” jelas Jatnika.

Sayangnya, hingga kini rencana pertemuan tersebut tak kunjung dilaksanakan. Dalam selebaran yang ditempel di depan pintu Sekretariat Dema, terdapat informasi yang menyatakan pertemuan tersebut ditunda.

Penundaan pertemuan ini membuat kesimpangsiuran terus terjadi. Apalagi, pada 16 Januari, sekretariat UKM Teater Awal dirobohkan. Teater Awal sendiri akhirnya harus berpindah lokasi sementara ke GOR Badminton, satu lokasi dengan UKM Persatuan Badminton Mahasiswa (Perbama). “Dari awal, kita pengen mempertahankan gedung teater. Setelah melakukan aksi, kita pun mengadakan audiensi dengan pihak rektorat. Salah satu hasilnya adalah Teater Awal pindah sementara ke GOR UIN, sementara gedung kami dirobohkan,” ungkap Wildan, Ketua Umum UKM Teater Awal.

Tadinya lokasi sementara sekretariat Teater Awal akan berada di luar kampus. Namun menurut Ridwan, jika pindah ke tempat yang diajukan pihak Rektorat, mereka khawatir malah menggannggu masyarakat sekitar. “Teater Awal mah mendukung saja kalau buat kebaikan kampus. Tapi kami kurang setuju kalau banyak mahasiswa yang jadi korban.”

Penghancuran gedung teater ini membuat semua UKM dan UKK lain—terutama yang memiliki sekretariat di Student Centre (SC)—waswas. Mereka menunggu kepastian, kapan SC akan mendapat giliran direnovasi. Terkait hal ini, Ketua Bagian Umum, Jainudin angkat bicara. Ia menyatakan, pemindahan akan dilaksanakan pada akhir Mei 2011. “Sementara ini kami baru menemukan dua lokasi untuk UKM, yaitu di STIE Al-Ghifari Cimincrang (belakang Polda Jabar, red-) dan Al-Kifa Cipadung. Jumlahnya ada sepuluh ruangan,” katanya.

Sepuluh ruangan yang masing-masing berukuran 6×8 meter di dua lokasi tersebut akan dijadikan sebagai kantor kesekretariatan bersama bagi para UKM. Namun, Jainudin belum bisa mengatakan mengenai aturan khusus bagi para UKM. “Yang jelas gedung tersebut nantinya dijadikan sekretariat bersama, jadi tidak boleh dijadikan penginapan oleh para UKM,” ungkapnya.

Hanya saja, Jainudin mengaku pemindahan UKM ke daerah Cimincrang dan Cipadung tersebut belum bisa dipastikan. “Dari Bagian Rumah Tangga UIN sudah mencarikannya, namun saya masih meragukan. Apakah mahasiswanya mau atau tidak dipindahkan di lokasi belakang Kepolisian Daerah (Polda) Jabar  tersebut,” lanjutnya.

Karena itulah, Jainudin mengharapkan kerjasama para UKM untuk lokasi UKM ini. Jika UKM memiliki informasi mengenai lokasi yang dapat dijadikan sekretariat UKM, kata Jainudin, maka diharapkan segera melaporkannya.

Jika perpindahan itu terjadi, maka pada akhir Mei 2010 para UKM pindah serentak. “Namun jika mahasiswa tidak mau, berarti kami harus mencari alternatif lain. Jadi ada dua kemungkinan. Kalau yang di Cimincrang tidak diterima, berarti kami harus mencari alternatif lain. Kami akan mengusulkan pada pihak rektorat untuk memberi kebebasan pada UKM menyewa tempat yang lokasinya disekitar kampus,” tegas Jainudin.

Jainudin berharap para mahasiswa harus bersabar. Ia mengharapkan pemahaman dari mahasiswa. “Bukan soal pembekuan kreativitas, namun kita harus berfikir untuk maju. Saya sangat menyayangkan jika mahasiswa beranggapan bahwa perpindahan UKM ke lokasi yang jauh dari kampus dianggap sebagai pembunuhan kreativitas. Tidak ada niatan untuk membunuh kreativitas. Semua ingin berjalan mulus dan kami tetap berusaha mengusahakan yang terbaik untuk para mahasiswa,” tandas lelaki kelahiran Ciamis mengakhiri pembicaraan. []Indah Nuraeni, Ratih Rianti, Fikri F. Hasan/Suaka//Sri Cahya Lestari, Aulia, Annisa, Aris/Magang

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas