Opini

Hari-Hariku Terpenjara Dalam Kota Cairo

oleh M Irfan Al-Anshar

Tanggal 23 Januari 2011 adalah hari kebebasanku, bagaimana enggak? selama sebulan lebih kami disini memusatkan konsentrasi kepada buku-buku pelajaran untuk ujian yang sangat menguras fikiran dan energi.

Hari itu rasa sesak, kepenatan, stress dan beban hilang dengan selesainya masa-masa ujianku yang pertama di Universitas Al-Azhar.

Planning sudah tercatat dalam otak untuk berlibur melepaskan penat dengan berlibur, mungkin inilah rute perjalanan yang masih saya ingat sampai sekarang :

Rute pertama, Perjlanan ke Giza untuk mengunjungi Pyramid

Rute kedua, Kota Mansouro (tempat terjadinya perang Salib yang dipimpin Salahuddin el Ayyubi)

Rute ketiga, Kota Thanta

Rute keempat, Kota Zagazig

Rute kelima, masih belum ingat :D

itulah rencana yang akan aku lakukan bersama rekan2 mahasiswa Indonesia lainnya.

********

Tanggal 25 Januari 2011, terdengar kabar adanya demontrasi di Tahrir. Ketika itu aku masih berada di rumah teman bersilaturahmi dan esok harinya kami masih bisa bermain Basket di Nadi Central Zahro, sambil sesekali melepaskan gelak tawa. Dan ternyata hari jum’at itu hari terakhir kami merasakan kebebasan dalam kota Cairo.

*********

Tanggal 27 Januari 2011, kami disni tak menyangka demontrasi akan berlangsung terus-menerus dan meningkat. Keamanan mulai tak terkendali, malam hari mulai mencekam dan jam malam mulai diberlakukan mulai jam 4 sore sampai jam 8 pagi, Inilah awal penjara bagiku.

Koneksi internet diputus oleh pemerintah dan koneksi telpon pun ikut di bui.

Aku tak bisa melakukan apa2, tak bisa mendapatkan informasi dari Mesir ataupun keluarga di Indonesia.

Kebutuhan makanan sulit karena toko-toko banyak yang tutup, dan kalaupun buka hanya beberapa jam saja di siang hari mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Itupun harus antri dan harga meningkat.

Ditambah transportasi yang lumpuh total sehingga mahasiswa sulit untuk mencari informasi entah itu ke teman ataun Kedutaan Besar Indonesia cab. Cairo.

Mahasiswa tidak dapat mengambil uang di berbai ATM karena dirusak dan sebagian tutup sehingga menambah penderitaan kami yang kebetulan hal ini terjadi di bulan tua.

Kehidupanku terkotak di dalam sebuah rumah yang terdiri dari 3 kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu yang kami huni bersama teman lain yang berjumlah 7 orang mahasiswa Indonesia.

Sesekali aku keluar rumah pada siang hari untuk membeli kebutuhan pangan.

Udara dingin Cairo dan suasana mencekam kurasakan ketika hentakan kaki pertama dari pintu rumah kontrakanku.

Pemandangan pertama yang kulihat adalah beberapa pemuda membawa tongkat besi, pisau, pedang, samurai dan senjata api. Siapa yang tidak takut dengan pemandangan seperti ini???

sesekali ku pandangi wajah mereka tapi ketika mereka memalingkan wajah ke arahku, ku palingkan wajahku secepat mungkin diiringi getaran ketakutan di dada.

Ku lihat suasana “kota mati” di wilayah rumahku yaitu Mahattah Gamie-Nasr City, yang pada hari2 sebelumnya merupakan kawasan ramai oleh warga yang berlalu lalang dan juga kawasan syuting Ketika Cinta Bertasbih I bagian scene ( Azzam naik taksi mengejar buku Anna Althofunnisa yang tertinggal di Bis dan ketika menabrak tomat di toko sayur) hahhaha :D

itulah kawasan rumahku.

Ketika sampai di Thariq er Rayis (Jalan Raya dlm bhs Arab-Mesir) ku tak melihat kendaraan yang biasanya macet karena wilayah itu merupakan Syuq es Sayaroh (Pasar Mobil) yang merupakan pasar mobil terbesar di dunia *red.TVone. Yang ku lihat hanya beberapa mobil pribadi dan Ugroh (Taxi) dan beberapa Iring-Iringan Tank baja El-Quwaah el Musalahah (Pasukan Bersenjata) di jalan lain.

Itulah suasana yang ku lihat di kawasanku padahal hanya sebatas membeli pulsa dan makanan.

Ketika ku membayar ternyata uang yang ku genggam tidak cukup membeli barang2 yang ku inginkan padahal sebelumnya ku telah memperhitungkan jumlah keseluruhan belanjaanku itu, ternyata barang-barang mulai melambung.

Sebagai contoh harga Rasyid ay Kart (Pulsa) sebelumnya 10 Pound menjadi 12 Pound sekitar 20 ribu Rupiah.

Sejak hari itu kami seperti berada di wilayah perang, dan merasakan keadaan Indonesia ’98 ketika reformasi penggulingan Soeharto yang memang sama seperti penguasa Mesir yaitu Hosni Mubarok yang berkuasa lebih dari 30 tahun, tapi ternyata disni lebih dan jauh sangat berbeda dengan Reformasi di Indonesia. Mungkin inilah perbedaan yang saya tahu;

* Kerusuhan disini lebih anarkis dan korban jatuh lebih dari 300 orang dan mungkin akan bertambah seiring bentrokan hari ini antara Kubu Pro Pemerintah dan Anti Pemerintah.

* Hosni Mubarok tak mengangkat wakil presiden selama masa pemerintahannya yang lebih dari 30 thn

* Transportasi lumpuh

* Terjadi di seluruh Provinsi di Mesir dengan kerusuhan dan efek yang sama

**********

Tanggal 02 Februari 2011, Harapan untuk keluar dari situasi dan penjara ini timbul dalam diri WNI di sini, senyuman dan ucap syukur menyebar diantara kami setelah dipastikan evakuasi dari pemerintah dan hari kemarin sebagian dari kami telah berpulang ke negri tercinta INDONESIA.

Semoga Evakuasi ini berjalan lancar dan aku masih menunggu hari itu..

Doakan kami disini teman!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Ya Rabb!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

…………………………………………………………………………………ttd. Para Pencari

Pesawat Evakuasi :D

M Irfan Al-Anshar pernah kuliah di UIN Bandung tetapi hanya sampai semester 3 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dia pindah ke mesir karena mendapatkan panggilan beasiswa.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas