Opini

Antara Bahasa Lebay Dan Bahasa Puitis

Zaman modern ini memang kita tidak bisa menafikan kehadiran tekhnologi. Rasanya mudah sekali untuk mencari informasi, salah satunya dalam media di google internet. Bila kita ingin mencari informasi tentang sastra atau karya sastra (khususnya puisi) dengan mudahya kita bisa menemukannya dengan beberapa detik. Namun, setelah itu tidak lama ini kemunculan media komunikasi social (facebook) seiring dengan merambahnya internet, tidak sedikit pula orang-orang menulis puisi karyanya sendiri di media tersebut. dengan kata lain tidaklah sulit bagi kita untuk bisa menikmati atau mengapresiasikan puisi.

Disisi lain, dengan kehadiran facebook sebagai media maya dalam apresiasi karya sastra (puisi) tetapi hanya sedikit orang yang bisa memahaminya. Maksud disini bukan sedikit orang yang bisa memahami maksud atau makna puisi melainkan apa itu puisi? Kemunculan karya sastra pun menjadi praktis, seseorang tinggal mempbulikasikanya dengan hanya sekedar mengomentari lalu mengacungkan jempol. Memang ini sudah sejak lama menjadi problematika diantara sastra media cetak( Koran, majalah, bulletin) dan menjadi ajang diskusi yang panjang, semenjak kemunculan sastra cybernet.

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas panjang lebar tentang apa itu karya sastra cybernet. Tapi saya akan memberikan pandangan lain tentang karya sastra yang menjadi problematika pengguna jejaring social facebook itu sendiri, dari mulai masyarakat awam yang tidak mengenal apa itu bahasa sastra atau pun mahasiswa sastra yang kuliah di jurusan sastra yang tidak bisa membedakan apa itu bahasa lebay dan bahasa puisi.

Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa yunani yang berarti poema ‘membuat’ atau poesis ‘pembuatan’ dalam bahassa inggris disebut poem atau poetry. sebab dalam proses pencitaan puisi seorang penyair bisa membuat dunia sendiri dalam imajinasinya yag dituangkan dalam puisi yang berisi pesan tertentu, dengan kata lain puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi.

Lalu apa ada hubungannya antara puisi dengan lebay? Memang dari segi kata-kata yang digunakan puisi menggunakan bahasa yang tidak lazim dan sulit difahami atau ditafsirkan, meminjam pemahaman linguistiknya adalah konotatif atau sering kali puisi yang baik yang menggunakan symbol (semantic) dan majas, tentu saja banyak yang menggunakan bahasa yang paradigmatic juga.

puisi mempunyai bahasanya sendiri yaitu bahassa puitis bukan bahasa lebay, diantaranya metaphor, metonim, anaphora, oksimoron, personifikasi, simile . saya ambil contoh, Metaphor yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain dari makna sebenarnya, misalnya “cemara pun gugur daun” mengungkapkan makna “ketidak abadian kehidupan” atau “kau gadaikan jassadku pada tanah” mengungkapkan makna “kau menginginkan ku mati”. Berbeda dengan bahasa lebay cara pengungkapan maknanya secara langsung tetapi dilebih-lebihkan contohnya “aku ingin kau cepat mati karena telah menyakitiku”.

Kita ambil contoh lain dari bahasa lebay dan bahasa puitis, dari bahasa lebay “sayang, aku rindu padamu tapi aku tidak bisa hadir dikesendirianmu karena hujan” berbeda yang di ungkapkan bahasa puitis “rinduku menjelma dalam hujan, setiap ricik yang menetes melantun nada menghangatkan sepimu” dari contoh bahasa lebay secara otomatis pertama kali kita membaca kata tersebut .seseorang dapat langsung mengetahui maksudnya setelah membacanya, yakni seseorang yang rindu kepada seseorang. tapi dari contoh bahasa puitis kita harus mencari makna dari bahasa konotatif tersebut untuk memahami maksudnya apakah rindu kepada seseorang atau rindu kepada hujan, karena bahasa puitis bahasa yang jarang digunakan dikehidupan sehari-hari.

Menurut Ralph Waldo Emerson seorang penyair amerika claisic “puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sedikit mungkin”. Jikalau kita bandingkan dengan lebay, lebay ialah berlebihan (hiperbola), secara sederhana puisi tidak menghambur-hamburkan kata sebaliknya bahasa lebay sesuatu yang melebihkan kata-kata. Lebay atau hiperbola dalam buku bahasa Indonesia didefinisikan sebagai ucapan atau kiasan yang dibesar-besarkan yang dimaksudkan untuk memperoleh efek tertentu.

Apabila puisi diidentikan dengan lebay maka secara otomatis puisi itu haram dan para penyair pun berdosa tentunya, dengan merujuk pada ayat Al-Qur’an “sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (lebay)”.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas