Opini

Normatif-Parsialistik VS Positivistik-Sekuleristik

Oleh Fauzal Ihsan

Paradigma akut telah menjalar kepada sebagian orang dewasa ini bahwa ilmu dan agama adalah aspek berbeda yang merupakan otonom independen. Dikotomi ini mengelakar jauh sampai susah untuk mengintegrasikan keduanya. Banyak terjadi belakangan ini seorang yang berpengetahuan agama diklaim tidak pantas membicarakan keilmuan umum. Ilmu-ilmu yang dianggap umum seperti sosialogi, fisika, astronomi hanya diserahkan kepada mereka yang mampu menguasai bidang itu saja. Asumsi masyarakat bahwa seorang yang dilabeli ustadz tak pantas menyikapi masalah demikian bahkan yang paling parah ustadnya juga ogah untuk menyikapi ilmu-ilmu umum, terutama ketika perkembangan tekhnologi melaju pesat. Paradigma yang melekat pada kebanyakan orang bahwa ulama, ustadz dan kiyayi hanya mampu berkutat dan bergelut di dunia fiqh, hadits dan tafsir saja. Kapasitas yang disandang hanya jadi mufassir bukan sosiolog atau seorang faqih bukan fisikawan.[1]

Pada pihak lain sains, setali tiga uang dengan nasib ilmu agama yang oleh kebanyakan ilmuwan barat sudah ditumpas-habiskan dari hal yang berbau agama. Kebanyakan para ilmuwan tidak menjadikan Tuhan sebagai hipotesis dalam penelitian mereka. Ini terjadi karena konsekueansi perkembangan pemikiran pada zaman Renaisance yang berimplikasi pada pendikotomian agama dan ilmu. Mungkin sekularisasi itu reaksi dari kejenuhan para pemikir ataupun ilmuwan yang tidak bisa mengeksplorasi penemuan mereka sebab bertentangan dengan doktrin gereja. Terbukti ketika Galileo menyatakan teori Heliosentrisnya, kaum gereja menolak sebab bertentangan dengan fatwa mereka.

Kecenderungan agawan yang normatif-parsialistik akan menjadikan mereka kaku dan rigid. Tidak akan responsif terhadap perkembangan zaman. Hal itu akan terjadi bilamana agamawan memahami Quran dan Hadits secara tekstual yang berimplikasi kepada “Islam non-aktual”. Ketika ilmuwan bergerak maju justru agamawan cenderung stagnan dan seolah tidak apressied terhadap perkembangan zaman.

Hal tersebut bisa dimengerti karena agamawan (mungkin) terlalu bersikap hati-hati ataupun sebagai tindakan prefentif karena takut adanya asimilasi pada tubuh agama itu. Tapi ketika kita (sebagai umat beragama) terlalu takut dengan hal-hal baru yang datang dari luar, justru dari situ agama hanya dijadikan simbol saja dan kita akan dininabobokan oleh romantisne kejayaan Islam zaman dulu yang memang sekarang sulit tercapai. Terbukti ketika Ibnu Shalah mengkritik abis ilmu mantiq yang merupaka transformasi dari logikanya Aristoteles kepada bahasa Arab.

Terlalu deffensif akan membuat agama tidak aktual di arena kemegahan tekhnologi dan sains. Bukankah agama itu evolutif dan kondisional[2] seperti dalam ungkapan para ulama “Taghayyurul ahkam bi taghayyuril azminati wal amkinati.” (Perubahan suatu hukum tergantung perubahan tempat dan waktu).

M. Amin Abdullah mendiagnosa adanya keterpisahan dengan spritual dan moral ketika ilmu umum dan agama serba bipolar-dikotomis.[3] Para ilmuwan khususnya yang anti theist beranggapan bahwa Tuhan tak perlu dijadikan hipotesis dalam observasi dan eksperimen mereka. Mereka juga beranggapan bahwa tidak pantas ketika kita membicarakan metafisika yang memang disanalah daerah sensorium Tuhan. Bahkan Freud mengatakan bahwa manusia pada hakikatnya makhluk bumi yang segala aktifitasnya terdorong oleh libido, sedangkan agama yang berpangkal pada Oedipus complex dengan demikian Tuhan hanya ilusi belaka. Pernyataan seorang psikolog yang benar-benar mengkikis kekuasaan Tuhan dalam analisis psikologinya.

M. Amin Abdullah mencoba mengintegrasikan dua entitas yang seolah berseteru lama itu dengan gerakan rapprrochment, yaitu gerakan pemersatu epistimologi atau reintegrasi epistemologi keilmuan yang kemudian beliau sebut Teantroposentrik-Integralistik.[4]

Untuk menengahi kedua problem yang dianggap episteme berbeda dan independen itu. Meminjam istilah Karl Otto Apel dalam menggunakan fenomenologi (padahal penulis belum memahami secara betul apa itu fenomenologi). Agaknya Apel dengan fenomenologinya berusaha mengintegrasikan dua kutub yang bersebrangan itu. Epistemologi tradisional yang bersifat absulut-normatif menjadi tidak cukup ketika memahami agama secara utuh. Berbeda dengan normatif, fenomenologi berupaya memperoleh gambaran yang utuh serta struktur fundamental keberagamaan manusia secara universal. Berbeda juga dengan historis-empiris yang bersifat free value, fenomenologi Apel bersifat value laden yang terikat oleh norma-norma agama.[5]

Mulyadhi Kartanegara menyebut reintegrasi epistemologi keilmuan ini dengan istilah “Islamisasi Sains”. Beliau memberi syarat penggunaan Islamisasi sains. Pertama, unsur islam dalam kata Islamisasi sains tidak secara ketat harus ditemukan dalam Al-Quran dan hadits, tetapi dilihat dari segi spiritnya yang tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua, Islamisasi sains yang beliau kemukakan tak harus melabeli sains dengan Al-Quran atau hadits yang dipandang cocok dengan penemuan ilmiah, tetapi bekerja pada sistem epistemologis yang dikonstruk oleh para pemikir Islam dulu. Ketiga, Islamisasi sains didasarkan pada asumsi bahwa sains atau ilmu tidak pernah bebas dari nilai.[6] Walaupun banyak yang mengemukakan pendapatnya tentang integrasi episteme keagamaan dan positivistik, tapi belum ada realisasi dari jembatan tersebut. Masih banyak yang memang sudah didikotomi dan sulit mensilaturrahmikan dua bipolar ini, terutama yang penulis rasakan di kelas.[7]

Wallahu a’lam bi ash-shawab

[1] Dipresentasikan pada diskusi regular LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman)

[2] Ada beberapa masalah yang dapat dikondisionalkan, tetapi ada pula yang absolute seperti shalat, pasti akan wajib selamanya

[3] M. Amin Abdullah. Islamic Studies, hlm. 94

[4] M. Amin Abdullah. Ibid, hlm. 97

[5] Samsuri. Hermeneutika Transendental, hlm. 164

[6] Mulyadhi Kartanegara. Pengantar Epistemologi Islam, hlm. 130

[7] Mari kita diskusikan dengan merokok dan ngopi sana-sini

*Penulis adalah mahasiswa tafsir hadits

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas