Cerpen

Burung Pipit

Burung Pipit

Oleh Acuz Sasterajingga

-Jika kau hanya seekor Pipit, maka bunuhlah mimipimu untuk menjadi Elang, sampai kau memahami bahwa cukuplah menjadi dirimu kau bahagia…

***

Pagi, ketika moncong mentari seperti enggan untuk menampakan diri, sungguh aku jadi tak bergairah untuk berkicau apalagi menari-nari disekitar reranting pohon seperti yang telah sering kulakukan. Pagi ini bukan lah pagi yang seperti biasa kusambut dengan nyanyi dan tarian selamat datang, aku seperti di buat kaku untuk melakukan ritualku itu.

Engkau tahu? Bahwa hari ini dadaku sedang sesak, dan bukan disebabkan oleh penyakit semacam flu burung, tetapi karena sebuah peristiwa yang tak kusangka telah mampu mencubit ulu hatiku. Akar eksistensiku seperti di cerabut dari tanah kenyamanannya, hingga berguguranlah seluruh daun keyakinanku, satu persatu mulai layu dan hilang di urai bakteri waktu.

Dan dirimu pasti sudah bisa menebak, tentang apa yang kini tengah terjadi pada diriku. Aku seperti bangsa manusia yang sedang terkena virus influenza, dadaku sesak tak tertahankan, sementara seluruh bulu-buluku seperti rontok hingga menyebabkan dingin yang teramat hebat mencumbu di sekujur tubuhku. Sekali lagi bukan karena penyakit, tetapi karena ada sesuatu yang tengah mengganjal dalam insting dan sanubariku. Akulah siburung pipit yang tengah sakit, di balut kepayahan hingga tak kuasa menari, benyanyi, bahkan tak sanggup untuk terbang menggauli arak-arakan awan sebagai ritual menyambut pagi.

***

Sementara di langit yang lain, satu-dua elang tengah larut gembira bermain-main dengan mangsa kelinci. Lihat itu si elang merajai udara, tengah terbang dengan segala aksesoris kegagahannya, matanya memicing mangsa yang berusaha berontak harap tak tertangkap. Sementara si elang yang lain tengah lahap memangsa kelinci naas diatas tebing batu, puas dia mendapatkan buruannya, kebuasannya tertampak dari caranya menyantap si mangsa, pelatuknya dilumuri darah dan bulu-bulu putih kelinci kalah.

Dan engkau tahu?, bahwa begitu banyak cerita yang telah banyak aku dengar tentang kegagahan siburung elang, bahkan tak sedikit bangsa manusia yang menjadikannya sebagai lambang negara, atau hanya sebagai simbol keperkasaan belaka.

Sementara, aku tengah nyinyir menyaksikan mereka dari jauh, aku begitu ingin seperti mereka yang gagah, dielu-elukan bangsa burung dan manusia. Siang dan malam mimpi ini terus menggerogoti hasratku, hingga hampir menjadi mimpi buruk karena tak kunjung terwujudkan. Aku begitu ingin seperti mereka, yang hidup dalam kesempurnaan, mereka tak mengenal kata cibiran, atau caci maki, yang ada adalah kehormatan dan bongkah kuasa yang berlimpah, ya, merekalah ras tertingi dari bangsa burung. Pernah suatu ketika aku hendak bergabung dengan mereka, dengan segala kerendahan diri kutawarkan, dengan harapan agar bisa diterima bergabung ke dalam dunia mereka, tapi, sungguh tak seperti yang kuharapkan, sikap rendah ku tak diterimanya, malah dihina tanpa daya. Dan engkau tahu? Kejumbawaannya semakin membuatku melahar berapi untuk menaklukan mereka.

Hari-hari yang kujalani serasa panjang tak berarti, sungguh tak kusangka, hanya karena sebuah keinginan, aku jadi kehilangan keriangan ku. Sampai-sampai aku bersumpah, merekalah yang kelak akan memohon belas kasihku.

***

Di suatu malam, ketika badanku semakin gigil di peluk sunyi, dan semakin sakit ketika deras hujan meninjuku bertubi-tubi. Dan tiba-tiba,muncullah suara parau itu diantara sela-sela rintik hujan,
“wahai anakku, sudah waktunnya kau akhiri penderitaanmu. Kau harus menerima takdirmu dengan bahagia, sesungguhnya jika engkau mengetahui, Bahwa setiap yang terlahir adalah unggul, namun mereka mesti mencarinya, dan itu tidak terletak diluar sana, tapi kehakikian itu justru melekat dekat didalam setiap urat nadi. Maka carilah mutiara itu anakku, hanya itu yang dapat menyelamatkanmu. Engkau harus tahu, Jika kau hanya seekor Pipit, maka bunuhlah mimpimu untuk menjalin kekariban bersama Elang, sampai kau memahami bahwa yang benar justru sebaliknya”.

Lalu suara itu berhamburan dalam riakan deras hujan, sampai akhirnya lenyap seiring lenyapnya hujan deras yang diganti gerimis.

***

Inilah hari baru, ketika matahari terbit berbinar disertai arak-arakan kemawan putih. Lihatlah aku yang tengah bahagia menari diantara rerumput safana yang digoda angin timur. Aku yang telah lupa tentang dongeng kegagahan burung elang yang mati dimakan ulat jumbawa. Aku yang tengah maksimum dalam buncah bahagia, kini sedang asyik mabuk, melaksanakan ritual pagiku yang pernah lama kutinggalkan.

***

Sementara dilangit yang lain,

“Aku lah sang elang yang lapar dan haus darah mangsa, bagaimana bisa aku hentikan rasa lapar yang terus menghujamku setiap waktu. Aku tak pernah kenyang, sungguh aku tak bisa menghentikannya. ooh deruta yang tiada akhir, Ooh keinginan…sampai kapankah kau terus menawanku?”

*Penulis adalah mahasiswa aqidah filsafat

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas