Terkini

Garsel: Desa Binaan Sekaligus Lokasi KKM

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung semester delapan tengah  disibukkan dengan kegiatan rutin yakni Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM-dulu KKN). Tidak jauh berbeda dengan tahun kemarin, lokasi KKM masih di Kabupaten Garut tepatnya Garut Selatan (Garsel).  Penetapan lokasi ini dikarenakan Garut merupakan kabupaten tertinggal di Jawa Barat. Selain itu Garut Selatan merupakan daerah terpencil.

Kegiatan KKM mahasiswa UIN semester akhir ini akan dilaksanakan pada 10 Maret – 10 April  di  8 kecamatan yang tersebar di Garut Selatan. Adapun kecamatan yang menjadi lokasi KKM 2011 adalah Caringin, Cimahi, Bungbulang, Cisewu, Pakenjeng, Talegong, Pamulihan, serta Mekarmukti. Dari delapan wilayah yang menjadi lokasi KKM, salah satu wilayah tersebut merupakan desa binaan Fakultas Ushuludin.

Desa binaan merupakan program Fakultas Ushuludin dalam membina sebuah desa tertinggal yang ada di daerah Garsel. Adapun desa binaan Ushuludin meliputi Kiara Kohok, Cikelet, Pakenjeng dan berakhir di kecamatan Mekarmukti sebagai pusatnya.

Terpilihnya Mekarmukti sebagai pusat desa binaan karena di kecamatan tersebut terdapat satu desa yang sebagian penduduknya telah mengalami kristenisasi. Selain itu, kecamatan Mekarmukti merupakan wilayah Garsel yang kurang tersentuh. Yang menjadi sentra desa binaan adalah kecamatan Mekarmukti, Desa Jagabaya, Kampung Kubang Salawe, dimana lokasi tersebut pernah terkepung oleh kristenisasi. ‘’Sekalipun sekarang sudah tidak kena kristenisasi, tetap harus dibina karena daerah ini jauh dari peradaban’’, ungkap Mulyana selaku Koordinator Lapangan desa binaan.

Program desa binaan Dosen Ushuludin dibantu Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi ini mulai berjalan pada Januari 2010 dan rutin diadakan setiap bulan. ‘’Sampai sekarang kami membina disana setiap bulan. Dosen-dosen Ushuludin berangkat dan membawa mahasiswa Tasawuf Psikoterapi,’’ tutur Mulyana saat ditemui di ruang kerjanya pada (7/3).

Adapun program yang dilaksanakan Ushuludin adalah pembangunan sarana dan prasarana seperti penyediaan air, pengembangbiakan domba, pembinaan ekonomi masyarakat yang dipimpin langsung oleh Nanat selaku Rektor UIN, serta training management mesjid yang bekerjasama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UIN Bandung.

Senada dengan Mulyana, menurut mahasiswi Jurusan Tasawuf Psikoterapi bernama Nely, kegiatan yang dilaksanakan adalah membantu masyarakat disana dalam memperbaiki fasilitas hidup masyarakatnya. ‘’Masyarakat disana hidup kekurangan, tidak seperti kita yang disini,’’ tutur Nely pada (8/3) via ponsel.

Meskipun program desa binaan ini mendapat apresiasi dari Rektor, namun Mulyana menilai bahwa Ushuludin belum maksimal dalam memajukan dan mengubah daerah tersebut. ‘’Yang kami lakukan belum maksimal hanya baru aspek luarnya saja. Yang penting masyarakat disana sudah terbina dan ada ikatan emosional dengan kita disini,’’ kata lelaki kelahiran Garut ini.

Menurut Mulyana, selain menyadarkan kembali agar tidak kemasukan lagi orang nasrani. Tujuan desa binaan ini adalah menjaga akidah masyarakat, pembinaan aqidah akhlak, meningkatkan taraf kehidupan ekonomi desa, serta meningkatkan pendidikan. Ketua Jurusan Tasawuf Psikoterapi ini menambahkan, pihaknya berencana memperluas desa binaan di daerah lainnya. ‘’Rencana Ushuludin bukan hanya di desa Jagabaya kampung Kubang Salawe saja, tapi kami berniat ingin menggarap daerah lainnya sebab masyarakat disana memang membutuhkan pembinaan dari segala aspek,’’ tuturnya.

Desa binaan yang dipimpin langsung oleh Dekan Ushuludin , Pembantu Dekan Ushuludin, serta Dosen Ushuludin ini diakui Mulyana haruslah berkesinambungan. Program desa binaan akan terus dilanjutkan, namun Untuk 2011 ini hanya akan melakukan pemantauan. ‘’Desa binaan tersebut kami serahkan pada mahasiswa yang KKM disana. Meskipun kami tidak terjun langsung, tetap komunikasi dengan masyarakat disana terus berjalan,’’ ujar Mulyana.

Untuk dosen pembimbing KKM Ushuludin memang ditempatkan di kecamatan Mekarmukti karena ada desa Jagabaya  binaan Ushuludin. Staf pengajar Ushuludin ini menegaskan, Setelah KKM selesai, dosen dan mahasiswa Ushuludin akan terjun lagi, karena program desa binaan ini harus berkesinambungan dan berkelanjutan.

Menanggapi mahasiswa yang mengeluh jauhnya lokasi KKM, dosen pembimbing KKM ini pun berpesan pada mahasiswa agar tetap semangat. Mulyana menilai jika KKM di perkotaan maka penerimaan masyarakatnya akan kurang karena pembangunan sudah ada, SDM-nya maju, dan sudah ada peradaban. ‘’Pasti kurang begitu dihargai dan asas manfaatnya pun sangat minim,’’ jelas lelaki kelahiran Garut tersebut. Berbeda dengan di desa, mahasiswa akan merasakan manfaat dari masyarakat dan kita juga belajar dari masyarakat ternyata ilmu itu luas.

‘’Selain belajar dari masyarakat, Tridarma Perguruan Tinggi yakni penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat  pun terterapkan,’’ lanjut Mulyana.

Terpilihnya Garut Selatan menjadi lokasi KKM, Nely menambahkan ‘’dimana saja juga baik, namun lebih baik KKM diadakan di pedesaan,” ucap mahasiswa semeter delapan ini.

Mulyana mengajak peserta KKM untuk tetap semangat dan mensukseskan KKM 2011 ini. Mahasiswa jangan hanya terpaku oleh dinding-dinding kuliah. Kita harus bisa dan mampu merasakan apa yang terjadi di luar. Merasakan apa yang ada dalam masyarakat sesungguhnya. Mari kita lihat ke bawah. ‘’Mari sukseskan KKM dengan program yang menyentuh dan bermanfaat. Jadi kita disana bukan hanya mengajari masyarakat tapi apa yang bisa dilakukan bersama dengan masyarakat,‘’ pesan adik rektor UIN Bandung ini  mengakhiri pembicaraan. []Indah/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas