Kampusiana

Buku "Agama NU untuk NKRI" Ungkap Permasalahan Sosial

 

Dok. LPIK UIN SGD Bandung.

Dok. LPIK UIN SGD Bandung.

SUAKAONLINE.COM — Persentase kemiskinan dan korupsi di Indonesia semakin meningkat. Bahkan Indonesia menjadi salah satu negara terkorup di dunia. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam dan juga sumber daya manusia yang sangat memadai. (BACA: Peringati Milangkala ke- 18, LPIK Gelar Diskusi Marxisme dan Agama)

Hal inilah yang sangat disayangkan Ahmad Hasan Ridwan, saat mengisi bedah buku “’Agama NU untuk NKRI” di acara Milangkala LPIK ke-18, di Aula Program Pasca Sarjana UIN SGD Bandung, Selasa (13/5/2014).

Baginya, buku karya cendikiawan Nahdatul Ulama (NU), Ahmad Baso ini mengungkapkan permasalahan-permasalahan yang terjadi di mayarakat luas. Termasuk dalam dunia politik, kehidupan di pedesaan yang tulisannya sangat menyentuh bagi Ahmad Hasan.

Intelektual organik menjadi pilihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin Indonesia, yakni pemimpin yang tak hanya melaksanakan tugas administratifnya, namun juga melakukan perubahan yang lebih baik di masyarakatnya.

“Bekerja untuk merubah situasi, melakukan perubahan, mewakili rakyat dan dirinya sendiri,” kata Ahmad yang mengaku mengenal Ahmad Baso Sejak tahun 1999.

Ahmad Hasan menghimbau, jika ingin menyelamatkan rakyat maka tugas yang harus dilakukan adalah mengawasi.

“Jika ingin menyelamatkan rakyat maka harus adan pengawasan terhadap pejabat, pemodal produk kapitalis, dan juga melakukan pembelaan menggunakan istilah-istilah agama NU,” katanya. “Mudah-mudahan bisa menciptakan buku lagi untuk masyarakat luas,” tambahnya.

Penulis Buku Tak Hadir

Sementara itu, Ahmad Hasan selaku cendikiawan Persis, menyayangkan tidak hadirnya Ahmad Baso, penulis buku “Agama NU untuk NKRI” dalam acara tersebut. Ia berharap kehadiran penulis setidaknya bisa mendukung berjalannya bedah buku. Dengan begitu pertanyaan audien dapat dijawab dengan objektif dari berbagai sudut pandang penulis dan juga pembandingnya.

Tak hanya Ahmad Hasan, mahasiswi Sosiologi semester empat, Wini Rahmawati yang menjadi peserta Bedah Buku pun merasakan hal yang sama. “Karena penulisnya sendiri tidak dateng ya, jadi pembandingnya kurang. Jika penulisnya ada otomatis kita bisa tahu dasar pemikiran dari penulisnya sendiri, “ kata Wini kepada Suaka seusai acara.

Meski demikian, acara tetap berlangsung dengan lancar dan antusias peserta yang hadir pun mencapai 56 orang. “Secara mendasar memang sudah terjawab, untuk penyampaian materi cukup bagus, cukup baik,” lanjut Wini.

Penyelenggara Milangkala LPIK menjelaskan, tidak hadirnya Ahmad Baso, karena adanya miss komunikasi antara pihak penyelenggara dengan sang penulis. “Saya mohon maaf kepada karena ada masalah teknis panitia. Semoga tidak berkecil hati dan tidak marah-marah,” jelas Zulfi.

Reporter : Hilda Kholida/Suaka

Redaktur : Adi Permana

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas