Kampusiana

Kakek Motor Galaksi Unik, Nyentrik

Ihh…, lebay, heboh!!!, apa gelo mereun nyak eta bapak???” seorang mahasiswi asal Bekasi itu mencibir ketika sebuah sepeda motor nyentrik melenggang dihadapannya, di pintu gerbang SMK Karya Budi Cileunyi. Celetukannya itu disambut tawa teman-temannya. Bahkan yang lain ikut berkomentar. “Pengen cari perhatian kali itu si Bapak,” sahut salah seorang teman lainnya.

Delapan kaca spion terpajang gagah di moncong motor. Dua replika lampu lalu lintas, merah, kuning dan hijau terselip diantara spion, di sisi kiri dan kanannya. Diantara dua lampu itu, sebuah kalimat dalam papan persegi panjang tertulis, “Selamatkan Keluarga dengan Nada dan Dakwah”.

Bagian belakang motor tak mau ketinggalan eksis. Disana juga terpajang sebuah kata. “Galaksi”. Menurut sang empunya motor, kata yang juga menjadi nama motor nyentrik ini adalah kepanjangan dari tiga kata: gaya, lagu dan kreasi.

Penampilan unik nyentrik seorang kakek beruban dengan ‘Galaksi’nya ini lantas mengundang beragam komentar dan rasa penaaran. Siapa dan kenapa dia?. Seorang pedagang baso ikan Karyabudi, Abas, mengaku mengenalnya kakek ‘tak lazim’ ini sebagai tukang obat dan pengemen di Gasibu.

“Yang saya tahu, dia jualan obat dan tukang ngamen di daerah gasibu. Dia juga katanya orang baru disini, asalnya tinggal di daerah atas,” tutur leleaki enap puluh dua tahun yang sedang sibuk melayani pelanggan-pelanggannya.

Kakek yang akrab disapa Ayah ini bukannya tak menyadari bahwa ia kerap jadi bahan omongan. Suatu kebiasaan tak lazim kadang menimbulkan pro dan kontra, mengundang pujian bahkan cibiran. Ia tetap bertahan dengan profesi yang sudah dilakoninya selama sekitar tiga tahun ini.

Namanya Lukman. Seorang kakek asal Cirebon namun sudah dua puluh tahun tinggal di Bandung. Bersama keluarga, kakek berusia enam puluh tujuh tahun ini menghabiskan masa tua di sebuah kontrakan mungil. Terselip diantara deretan rumah penduduk yang berjajar di sepanjang jalan gang Tagog, Cileunyi, Rt 06/03. Mengenai casing motor nyentriknya, Lukman punya alasan tersendiri.

“Saya hanya ingin mencari ridho Allah. Saya tak mau minta-minta, jika saya masih bisa, buat apa merepotkan orang. Saya melakukan ini untuk menyuarakan kebenaran, mengajak kebaikan dan kampanye taat pelanggaran lalu lintas,” tuturnya saat Suaka menyambangi kediamannya.

Ia juga menuturkan bahwa yang ia lakukan bertujuan untuk pengumpulan uang biaya operasi penyakit hernia yang dideritanya. Ia tak mau minta-minta. Lagipula menurutnya, kegiatannya tersebut sudah mendapat dukungan dan ijin dari pihak pemerintahan terkait seperti Rt, Rw bahkan pihak kepolisian.

Tentang hal ini, Elly Marlina, Dosen mata kuliah Pengantar Psikologi fakultas dakwah dan Komunikasi ini turut memberikan tanggapan. “Perilaku semisal ingin beda dan lebih menonjol dari pada orang lain merupakan bagian dari kebutuhan, apalagi bagi remaja.”

“Kebutuhan akan rasa superior, ingin menonjol, ingin terkenal dalam arti positif atau negatif. Jadi, jika ada wadah yang membimbing, mereka bisa jadi adalah anak-anak yang berpotensi dan kreatif. Namun jika kasus ini terjadi pada orang tua, kemungkinan ia bertujuan mengaktualiasikan diri atau karena desakan ekonomi, memaksa dia lebih keras mencari cara untuk mencari nafkah,” tambahnya.

Matahari sore menampakkan rona kemerahan. Rupanya hari menjelang maghrib. Sang kakek maih bersemangat menceritakan kisah hidupnya. Tiap minggu, ayah beranak tiga ini bersama keluarga melakukan aksi dakwahnya di daerah lapangan gasibu, depan gedung sate, melakukan aksi Galaksi, kolaborasi Gaya, Seni dan Kreasi.[]Nia/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas