Cerpen

Sehabis Duka

Oleh Aras Abdul Rasyid

“Aku tak mengerti dukamu,” katamu ketika mendengar nada yang kulantunkan dengan sederhana. Gitar berdawai yang kupetik dengan jari seperti naik turun tangga dan terus melompat-lompat hingga kaku itu hanyalah nada hambar. Aku yang sekedar musisi telanjang dengan suara sumbang hanya mampu menyanyikan lagu dari bait pelarian duka. Lirik yang sepenuhnya adalah tentang senja yang terpanah air mata.

“Aku melihat maut dimatamu,” itupun katamu juga ketika menatap binar mata sehabis mengecup keningku. jika sedih menjubahi tubuhku dan membayang maut dimatamu, biarkanlah ia tetap ada. Dan sunyi akan terus hinggap sampai aku tak mampu bercakap dengan segala perasaan.

“Aku tak mengenal cintamu,” ini adalah kata setelah perpisahan panjang yang kau putuskan tempo hari yang lampau.

*Penulis adalah mahasiswa Aqidah Filsafat

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas