Kampusiana

Kehidupan Malam Kampus

Selalu ada cerita yang menyertai kehidupan malam, tak terlepas dari sebagian kalangan remaja, dewasa, termasuk kalangan mahasiswa di dalamnya.   Dewasa ini banyak kita temui peristiwa-peristiwa yang sangat mengejutkan di kalangan remaja di Indonesia. Banyak  media memberitakan pergaulan remaja yang sudah melewati batas kewajaran. Kehidupan malam mereka sungguh memperihatinkan, dan merupakan salah satu faktor penghancur moral bangsa. Mereka mengenal berbagai obat-obatan terlarang, minuman berakohol, bahkan yang paling parah adalah seks bebas.

Langit malam yang pekat dihiasi bintang-bintang gemerelap memberikan sensasi unik tersendiri. Suasana itulah yang menjadi alasan tepat, menjadikan keindahan malam sebagai tempat untuk berkumpul bersama kerabat dekat. Kehidupan malam ini  pun tampak memunculkan dirinya dikalangan mahasiswa dan para mahasiswi UIN SGD Bandung. Banyak diantara mereka yang menghabiskan waktunya untuk nongkrong malam. Hal itu sepertinya sudah menjadi rutinitas bagi sebagian dari mereka, terutama kaum adam. Taman kampus merupakan salah satu tempat yang selalu ramai dikunjungi, terutama saat sore hari menjelang magrib hingga larut malam.

Deni Solihin (48) salah satu satpam UIN ikut memberi komentarnya, “Terkadang mereka nongkrong di taman kampus ini hingga larut malam,  sekitar pukul sembilan malam  atau bahkan bisa lebih dari itu. Saya ingin kedepannya mereka bisa ditertibkan, karena tidak enak dengan pandangan masyarakat sekitar jika sampai terlalu malam” tuturnya.

Menurut Deni, Taman Kampus UIN setiap harinya hampir selalu ramai dikunjungi oleh para mahasiswa, terutama di malam minggu. Ada  yang hanya berdua dengan pasangan dan ada juga yang nongkrong untuk hanya berkumpul dengan teman-temannya,

“Kita disini hampir setiap hari nongkrong malam sampai jam sembilan, terkadang kita diskusi  masalah kuliah dan lainnya. Inti diskusi ini, yang terpenting adalah kebersamaan dengan yang lain, dari pada sendiri di kostan,“ tutur Pakdisung, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab dengan penuh senyum ketika diwawancara.

Kehidupan malam remaja sekarang menjadi perhatian khusus para psikolog di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari mental remaja yang tidak dapat menerima pengaruh globalisasi yang sangat pesat. Mereka belum siap menerima arus globalisasi yang menyebabkan mereka terlena akan kesenangan sesaat yang menjerumuskan ke kehidupan malam yang tidak sehat.

Pergaulan remaja seperti inilah yang menjadi musuh dalam selimut. Tidak hanya dengan yang sesama jenis, bahkan dengan lawan jenis mereka pergi ke tempat-tempat hiburan malam di kota mereka. Mahasiswa dan remaja lainnya sekarang ini sudah tak canggung lagi apabila berpacaran di tempat tempat umum. Di taman, halte, mall, bahkan  ditempat lain yang menjadi  favorit mereka untuk melakukannya.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan pergaulan malam sebagai sarana mencari uang. Banyak remaja putri yang menjadi pekerja seks komersial (PSK). Di Yogyakarta, pernah ditemukan seorang mahasiswi yang berprofesi sebagai kupu-kupu malam.

Kehidupan remaja yang seperti itu dapat menyebabkan HIV/AIDS dan penyakit kelamin menular (PKM). 97,05 persen di antara 1.600 mahasiswi di 16 kampus yang kos di wilayah Jogja Utara mengakui pernah berhubungan seks sebelum menikah (tak perawan), pendapat itu pernah dikemukakan oleh Iip Wijayanto (2002). Hal ini bagaikan tamparan bagi bangsa Indonesia. Di saat Indonesia mempunyai keinginan untuk menjadi negara yang maju dan terdepan, justru para penerus bangsalah yang menjadi penghambat cita-cita mulia tersebut.

Pengaruh lingkungan tempat tinggal dan media masa juga mempunyai andil yang cukup besar. Lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat akan mempengaruhi perilaku mereka sehari-hari. Berbagai media masa banyak menampilkan hal-hal yang tidak patut diterima kalangan remaja. Tidak sedikit seks bebas yang disebabkan oleh pengaruh media masa.

Dorongan ekonomi disebut-sebut sebagai faktor yang dominan di dalam praktek kehidupan malam. Selain tiga faktor  di atas, ketidakharmonisan dalam keluarga juga meyebabkan remaja-remaja terjerumus pada perilaku menyimpang, khususnya obat-obatan terlarang. Para remaja bukanlah tersangka, akan tetapi merupakan korban dari arus globalisasi.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah praktek kehidupan malam yang tidak sehat yaitu dengan memberikan pengertian tentang bahaya pergaulan bebas dan gemerlap kehidupan malam, sehingga diharapkan dapat mengubah pandangan remaja yang hanya mengarah ke kesenangan semata. Mereka akan mengubah arah sikapnya untuk menjadi lebih arif dan bijaksana dalam memilih dan melakukan pergaulannya. [] Sri Cahya Lestari/ SUAKA

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas