Kampusiana

Yang Paling Penting adalah Metode Belajar

Dunia pendidikan tidak terlepas dari berbagai proses pencarian ilmu yang merupakan tujuan inti dari pembelajaran. Salah satu dari proses tersebut adalah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang biasa dilakukan oleh setiap institusi pendidikan. Terlebih pada tingkat Perguruan Tinggi, proses KBM ini sangat variatif dilakukan oleh para pendidik demi menciptakan kenyamanan pada saat KBM berlangsung baik di kelas maupun di luar kelas. Pendidik dalam hal ini adalah dosen yang mempunyai tanggung jawab secara moral terhadap kemajuan intelektual mahasiswanya. Untuk itu, setiap dosen mempunyai ciri khas tersendiri dalam mengajar. Berbicara masalah ciri khas maka disinilah ada kreatifitas.
Rohmanur Aziz, dosen mata kuliah Komunikasi Politik Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini merupakan segelintir orang saja yang melakukan metode pengajaran dengan cara yang tidak biasa. Jika mahasiswa terbiasa dengan metode ceramah dan diskusi, ia melakukan hal yang agak berbeda.
Seperti lazimnya perkuliahan, mahasiswa melakukan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas dimana dosen ceramah dan mahasiswa mendengarkan, atau diskusi antar dosen dan mahasiswa. Namun ada yang berbeda di salah satu ruang kelas lantai tiga gedung Z. Bangku kuliah dibuat setengah lingkaran. Ini dilakukan agar tidak ada mahasiswa yang duduk dibelakang.
Setelah situasinya dirasa nyaman, ia mulai mengabsen dan tak segan-segan menegur mahasiswa yang terlambat dengan tidak dicantumkan dalam daftar absen. Setelah itu, untuk membuat suasana lebih santai, ia menciptakan suatu permainan kecil. Namanya “Angin Bertiup”, para mahasiswa tersenyum-senyum dibuatnya. Mereka harus bertukar tempat sesuai instruksi, selain memecahkan ketegangan, permainan ini melatih kejujuran dan partisipasi.
Dosen yang akrab disapa Azis ini juga mengungkapkan alasan pentingnya seorang dosen mempunyai persiapan yang matang sebelum mengajar, “Yang paling penting adalah metode belajar, harus dipersiapkan jauh-jauh hari sedangkan materi pengajaran nomer dua. Kasihan mahasiswanya kalau kita nggak siap,” terangnya saat ditemui seusai mengajar, Senin (4/4).
Selain pentingnya sebuah persiapan, ia mengaku bahwa mengajar bukanlah ritual semata. “Saya mau jadi dosen karena naluri dan saya suka, karena itu hakikat seorang dosen. Jika tidak sesuai, jiwa pendidik tidak akan terpanggil dan proses pengajaran dipandang sebagai persyaratan administrasi semata,” jelasnya.
Berbeda halnya dengan Azis, Setia Mulyawan mengaku profesi dosen yang disandangnya saat ini bukanlah cita-citanya. “Sebenarnya dulu cita-cita saya ingin menjadi pengusaha, tapi kemudian garis hidup mengantarkan saya menjadi dosen. Saya terlahir dari seorang pendidik. Saya sangat menikmati profesi ini. Ada kebahagian tersendiri ketika saya bisa mentransfer informasi yang saya ketahui kepada rekan mahasiswa. Sebaliknya, saya juga bisa belajar dari mahasiswa,” tutur dosen ekonomi di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Dosen yang gemar berpenampilan sporty ini pun mempunyai cara yang cukup berbeda dari kebanyakan dosen lainnya dalam hal mengajar. Sebelum menginjak kepada materi perkuliahan yang akan disampaikan, kelas dibuka dengan sharing membahas topik-topik yang aktual. Karena menurutnya mahasiswa mempunyai interest yang berbeda, ketika ada topik yang happening di masyarakat. Maka yang terjadi adalah timbulnya rasa penasaran dan ingin tahu.
“Jangan terlalu menggurui, harus menciptakan interaksi dua arah yang seimbang dan banyak sharing yang proporsional. Dosen juga jangan merasa pintar sendiri, mungkin masalah umur dan pengetahuan dosen lebih dulu, tapi daya nalar analisis lebih baik, itu belum tentu,” ujar Setia.
Ia juga mengungkapkan pengalamannya agar mahasiswa bisa menyukai mata kuliah yang disampaikan, “Ketika saya kuliah, untuk tertarik atau tidak pada sebuah mata kuliah, saya harus menginternalisasikan diri saya terhadap yang saya pelajari. Misalnya, belajar akuntansi, saya ngitung angka uang, ngapain kita ngitung uang yang gak ada? uang orang juga? nah, semangat belajar itu akan hilang. Kita harus meyakini bahwa teori yang dipelajari itu berasal dari wilayah praktis, yang dikembangkan dari wilayah praktis. Siklus pengembangan ilmu kan dari fenomena, dipelajari dan menjadi sebuah teori, dan teori itu kembali dipraktekkan.”
“Untuk menginternalisasinya, saya mengantarkan dulu mahasiswa kepada wilayah fakta sebelum membahas definisi. Saya akan mengantarkan dulu mahasiswa ke sebuah fenomena yang menjadi hal tersebut harus dipelajari. Jadi bahwa teori ini muncul karena sebuah fenomena dari prilaku umum dan diyakini bersama,” lanjut Setia.
Keanekaragaman metode mengajar yang diterapkan oleh para dosen merupakan bentuk kreatifitas yang harus terus ditingkatkan. Karena kreatifitas itu akan menjadi sebuah ciri khas yang nantinya membentuk branding khusus di benak mahasiswa.
Tolok ukur keberhasilan seorang dosen dalam mendapatkan respon yang baik dari mahasiswa, tentunya berbeda. Setia Mulyawan memandang bahwa kehadiran mahasiswa adalah indikator ketertarikan mahasiswa terhadap kuliah yang dia sampaikan. “Saya tidak pernah mewajibkan mahasiswa datang kuliah, tidak pernah setiap hari mengabsen dan kehadiran mahasiswa tersebut untuk mengevaluasi diri. Kalau mahasiswa tingkat kehadirannya tinggi berarti mereka tertarik mengikuti kuliah saya. Bisa anda cek 80% mahasiswa hadir, dan masih wajar kalau dua atau tiga orang tidak hadir dalam sekelas, yang mencapai jumlah empat puluhan,” ujar Setia.
Kriteria dosen mengajar pun diharapkan sesuai latar belakang bidangnya, seperti pendapat Azis, “Seharusnya memang disesuaikan dengan kompetensi, mesti linear dan searah. Saya mengajar mata kuliah Komunikasi Politik juga terpaksa, karena terlanjur ditugaskan. Ini kan tidak sesuai sama saya, yang harusnya di bidang dakwah. Analoginya, orang dakwah bicara hukum, seperti harimau bersuara domba, saya dipaksa melakukan hal yang berbeda,” katanya.
“Makanya untuk kedepannya, harus disesuaikan, dievaluasi dan dikembalikan lagi sesuai porsinya. Pemimpin seyogyanya tegas, karena dikhawatirkan dosen akan tersiksa. Tapi semua dikembalikan lagi kepada masing-masing dosen. Intinya kita harus memaksimalkan apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita. Dosen harus banyak bersyukur dengan posisinya yang sekarang, implementasi rasa syukur itu dengan cara melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai dosen, itu wajib hukumnya. Sebagaimana firman Allah, kalau tidak bersyukur berarti telah kufur, ini berakibat inna adzabi lasyadiid,” lanjut Azis optimis.
Senada dengan yang diungkapkan Azis, Setia Mulyawan turut menanggapi hal ini yang secara pribadi merasa bangga mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum. “Secara pribadi, saya bangga mengajar di tengah mahasiswa Syari’ah, dan saya memberikan mata kuliah yang memang on track, masih based kompetensi saya,” ujar Setia.
Selain itu, dosen ekonomi yang mengabdikan dirinya di UIN SGD Bandung sejak tahun 2005 ini, memberikan tips agar mahasiswa tidak cepat bosan dan menyenangi kelas. “Orang jenuh dapat disebabkan berbagai faktor, bukan hanya karena materi tidak menarik atau dosen yang kurang kreatif. Mahasiswa juga harus gaul, jangan jadi kutu buku. Saya tidak menyarankan mahasiswa untuk terus belajar dari buku. Kuliah tidak harus selalu formal dengan gaya klasik, seperti dibawah pohon juga bisa,” ungkapnya santai.
Lain dengan Azis dan Setia, Dosen Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuludin, Siti Chodijah. Demi KBM tidak monoton dan dapat diterima oleh mahasiswa, dosen yang satu ini menyiasati dengan mengurangi ceramah di depan mahasiswa dan membuka diskusi agar mahasiswa berpartisipasi secara aktif. Menurutnya, dengan latar belakang mahasiswa yang berbeda bisa menjadi variasi cara mereka berfikir dan berargumen ketika berdiskusi.
Oleh karena itu, pada prinsipsinya mengajar adalah proses pencarian titik temu chemistry antara dosen dengan mahasiswa. Setelah chemistry it
u mengenai tepat pada sasarannya, maka proses belajar mengajar pun akan menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Dimana dosen dan mahasiswanya akan mendapatkan feedback seperti yang diharapkan dari proses tersebut.
Tentunya proses pengajaran yang baik versi mahasiswa berbeda-beda. Berbagai tanggapan pun muncul mengenai hal ini. Menurut Indrianeu, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik mengungkapkan, “Dalam metode mengajar, dosen diharapkan mempunyai cara yang mudah dipahami. Membuat saya bisa mengerti dengan mata kuliah yang telah disampaikannya,” jelas mahasiswi semester dua ini.
Tidak hanya Indrianeu yang mengungkapkan harapannya. “Kebanyakan dosen mengajarnya monoton, hanya ceramah sambil duduk di meja, cara ngomongnya kayak orang males, jadi tidak memberi semangat dan motivasi kepada mahasiswa. Kadang saya jadi beranggapan dosen itu terpaksa menyampaikan materi kuliahnya karena tidak mau disebut makan gaji buta atau yang penting masuk, ngajar, dan nyampein materi, udah deh tugas selesai tanpa ada esensi yang bisa didapatkan dari hasil mengajarnya,” ungkap Yunita mahasiswa jurusan Muamalah semester enam.
Mojang Bandung yang akrab disapa Ninit ini, berharap dosen-dosen UIN SGD Bandung, harus bisa membangun suasana keakraban di kelas. “Tidak hanya menjelaskan materi saja, tapi lebih mengarahkan kita juga terhadap fenomena yang update. Dosen juga diharapkan bisa menghargai pendapat mahasiswa dan tidak bosan, memberi semangat serta motivasi kepada mahasiswa.”[]Tri, Tina, Ikhmah, Nia, Sri.M, Ririn/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas