Puisi

Detik Terakhir

Di batas mistik maghrib
Mataku menguning diterpa langit renta yang mulai runtuh
***
Dan dari lembah kerinduan kuziarahi laut putih
Lalu pada gunung-gunung kegelisahan
Waktu telah mengendap di dadaku
***
Derak nyiur berhamburan di lidah pantai
Geliat cahaya bulan dan temaram lentera
Berpendar pada sehelai rambut
***
Perlahan, pikiranku terberai
Denyut jantung tak beraturan
Melebur bersama pecahan hujan dan serpihannya
Saat kusambangi dinding hati yang retak
***
Ada yang menyayat malam dengan runcing pisau
Melecutkan anak panah dalam silir angin
Segalanya retak berdarah
***
Setelah detik terakhir di pipi gunung
Serak badai menelan anyelir merah
Aura fajar memecah sela nafas
Yang menghembuskan siluet
***
Lagi, cawan anggur memabukkan perjalanan
Ruh apiku menuju tubuhmu
***
2011 Herton Maridi, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas