Opini

Kongkow Sastra

Ada yang tak biasa di taman kampus UIN Bandung. Tepatnya pada pertengahan April 2011 yang lalu. Selepas adzan isya berkumandang para mahasiswa berduyun menuju taman. Mereka mencari tempat duduk yang nyaman untuk mengahadiri sebuah diskusi Kongkow Sastra.

Kongkow Sastra adalah sebuah acara bulanan yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SUAKA dan beberapa komunitas yang ada kampus UIN Bandung yang bekerjasama dengan sebuah situs remaja Ceritamu.com. Kongkow Sastra merupakan sebuah acara lesehan yang santai menampilkan para penggiat sastra dengan membacakan puisi. Selain itu menampilkan juga musikalisasi puisi dengan menggunakan beberapa alat musik adat sunda seperti Karinding dan Celempung oleh Kapak Ibrahim dan Nemah Pati.

Acara ini sudah digelar untuk kedua kalinya. Yang pertama membahas tentang Sastra dan Media di bulan Maret yang lalu. Dan yang kedua ini  membahas buku antologi puisi “Bersama Gerimis” yang menghadirkan dua penyair Bandung, Matdon dan Bambang Q Anees sebagai pembicara. Sekaligus mengenalkan puisi pada khalayak kampus. Acara ini didukung juga oleh beberapa media yang tersebar di kampus UIN Bandung. Beberapa buletin kreatif dari berbagai media jurusan dan komunitas yang selalu memuat rubrik sastra seperti bulletin Muntah, Sasaka, Ilegal, Jalaran, Addicted Area, NoiseYouth, Tabloid Suaka dan bulletin StreakCome. Salah satu tujuan Kongkow Sastra adalah mengenalkan masyarakat kampus kepada dunia literasi khususnya sastra, karena di zaman yang serba modern ini mahasiswa dituntut untuk bisa menguasai literasi sekaligus melek sastra. Untuk pengenalan awal, Kongkow Sastra lebih menekankan pada proses kreatif penulisan puisi agar mahasiswa secara bertahap mengenal akan sastra. Juga, puisi bisa ditulis dengan cara pendek namun padat makna. “Mending kita membuat puisi yang pendek, untuk menutupi nafas kita yang pendek,” kata Bambang Q Anees di sela pembicaraannya.

Proses Kreatif

Pada saat membuat puisi, biasanya penulis mengumpulkan gagasan yang terkandung dalam imajinasinya. Hal itu yang mesti dikembangkan oleh penulis, karena penulis mempunyai daya imajinasi yang kuat dari berbagai pengalaman yang dirasakan. “Pada saat proses kreatif kita punya kegelisahan lalu kita tuliskan, tidak puas kita tuliskan yang kedua, tidak puas dengan yang kedua, kita tuliskan yang ketiga…dan sebagainya. Tapi ada tahap yang terakhir yang sering kita lupakan. Kita harus memilih puisi yang lahir dari kegelisahan yang paling mewakili kegelisahan kita,” tambah Bambang Q Anees.

Menurut Sapardi Djoko Damono, seperti yang diceritakan Bambang, bahwa menulis itu mesti mempertimbangkan karyanya, siapa pembaca yang satu ide dengan karya yang kita tuliskan. apakah pembaca karya kita memiliki kegelisahan yang sama dengan kita atau tidak. Selain itu penulis mesti pandai memilih diksi dari sebuah puisi, karena puisi adalah suatu karya yang dituntut keindahan strukturnya.

Menulis puisi adalah menulis pengalaman. Menulis sebuah perjalanan yang dirasakan oleh si penulis. “Puisi itu mungkin pengalaman pribadi, tapi bagaimana penyair bisa mengungkapkan perasaan tersebut menjadi pengalaman bersama, itu yang paling penting  dan itu harus melalui proses yang sangat panjang dan penulis harus memelihara kegelisahan terus menerus,” kata Matdon, salah satu penyair Bandung sekaligus Rais Am Majelis Sastra Bandung (MSB).

Menerbitkan Karya

Selain menerbitkan karya lewat buku, kita juga bisa menerbitkan lewat media lain. Kita bisa mengirim karya puisi kita ke koran-koran atau majalah yang ada, walaupun proses seleksinya ketat. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi, saat ini kita mengenal yang namanya blog, sebuah wadah yang bisa menampung gagasan dan kreatifitas yang cukup bermanfaat buat kita. Atau ada juga situs jejaring sosial facebook dan twitter yang masing-masing memiliki tempat menyimpan halaman catatan kita.

Seperti facebook misalnya, orang-orang banyak memanfaatkan halaman note/catatan untuk menyimpan dan mem-publish karya tulis kita. Ini juga yang sering dilakukan oleh beberapa penyair yang suka men-tag puisi-puisinya kepada teman-teman penyair yang lain. Nah, mungkin kita bisa melakukan cara yang sama. Sebagai penulis yang sedang belajar, kita bisa coba-coba menulis puisi dengan membagikannya (share) ke teman kita yang lain. Kita bisa mencoba menulis puisi yang ringan dan tak usah yang berat, yang pemilihan katanya terlalu serius.

Bambang Q Anees berpendapat bahwa menerbitkan karya adalah mengkomunikasikan dan hukum berkomunikasi adalah saling memahami apa yang dikomunikasikan. Begitu juga dengan menerbitkan puisi dalam sebuah antologi atau mengirim ke media misalnya. Apakah puisi kita bisa dipahami orang atau tidak. Tentu saja penulis punya ego sendiri seperti bilang “Biarin yang penting ini karya saya, mau dipahami atau enggak, terserah”. Kalau ego penulis masih dipertahankan seperti itu, maka seperti yang Chairil Anwar katakan kegiatan penyair akan “Mati Iseng Sendiri”. []

Miko Alonso, penulis adalah penggiat sastra dan aktif di Komunitas Kabel Data

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas