Fokus

"Kebersihan Itu Indah, Tapi Pendapatan Kami Tidak Indah"

Para OB berjalan menuju Gedung Al-Jamiah sambil mengarak  gerobak sampah, Senin (28/04) lalu.  (Foto : Restia Aidila Joneva)

Para OB berjalan menuju Gedung Al-Jamiah sambil mengarak gerobak sampah, Senin (28/04) lalu. (Foto : Restia Aidila Joneva)

“Kebersihan itu Indah, tapi pendapatan kami tidak Indah,” itulah satu dari bermacam tulisan di gerobak sampah dalam aksi demo Office Boy(OB) di kampus UIN SGD Bandung, Senin (28/04) lalu. Aksi demo tersebut dimulai pada jam 08.30 WIB. Berbagai atribut demo dan bunyi musik membuat ramaikampus UIN Bandung. Berawal dari gedung kuliah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), sekumpulan OB memulai aksinya dengan menyuarakan keluh kesah lewat pengeras suara.

Para OB menggelar aksi demo sebagai bentuktuntutan kenaikan gaji pada PT. Dewi Mukti Selaras, selaku pihak yang menaungi para OB di lingkungan kampus UIN SGD Bandung. Demo tersebut diwarnai aksi mogok kerja di pagi hari, lalu mulai bergerak maju melewati rektorat sampai ke depan kantor bagian pengawas dari PT. Dewi Mukti Selaras di belakang aula lama UIN SGD Bandung. Dalam aksi tersebut, nampak sebagian demonstran melakukan tarian yang melambangkan keresahan mereka dalam masalah penerimaan upah.

Arak-arakan berjalan semarak sampai akhirnya berhenti di depan kantor pengawas. Para OB menunggu cukup lama dari pihak bagian pengawas PT. Dewi Mukti Selaras.Mereka menunggu sambil duduk dengan harapan aksi direspon pihak terkait. Sementara itu, sebagianlainnya tetap memainkan alat musik dan menyuarakan keinginan mereka lewat oratornya. Sedangkan sisanya terus memegang kartonyang berisikan keinginan-keinginan mereka.

“Sudah 8 tahun saya bekerja di kampus ini, tapi baru kali ini demo kami adakan untuk menuntut kenaikan gaji. Latar belakang lainnya juga karena ada ketidaksetaraan gaji antara OB lama dengan OB yang baru. Paling juga kalau ada kenaikan gaji Cuma 100 ribu, zaman sekarang serba mahal kalau kenaikan cuma segitu tidak cukup” Ujar Entang, salah satu OBsenior di kampus UIN SGD Bandung.

Baca juga:  Fundamentalisme: Makna Lebih Dalam Dibanding Riset Setara Institute

Para  OB berkumpul di depan kantor Pengawas dari PT. Dewi Mulya yang berada di belakang aula utama Kampus UIN SGD Bandung. (Foto : Restia Aidila Joneva)

Para OB berkumpul di depan kantor Pengawas dari PT. Dewi Mulya yang berada di belakang aula utama Kampus UIN SGD Bandung. (Foto : Restia Aidila Joneva)

Setelah cukup lama berdemo dan menunggu respon dari pihak PT, akhirnya diadakan audiensi terbuka antara pihak PT, OB, dan beberapa pihak yang terlibat. Audiensi tersebut menghadirkan langsung pemilik PT beserta stafnya. Dalam audiensi itu, kedua pihak saling menyampaikan pendapat dan sesekali emosi terpancar dari raut wajah mereka.

Audiensi dibuka oleh perwakilan OB dengan menyampaikan maksud dibalik aksi demonyatersebut. Kemudian dilanjutkan oleh Ketua LPM Cipadung, Acong. Dalam pernyataannya, Acong berharap audiensi tersebut bisa memecahkan masalah dengan keputusan bersama. “Penyelesaian masalah ini sebaiknya dengan kepala dingin, hati yang tenang, agar keputusan bersama bisa diambil.Jangan saling emosi dan menuduh,”ujarnya.

Sedangkan Pihak PT. Dewi Mukti Selaras menyatakan tidak ingin adanya kenaikan gaji karena mereka baru dua bulan menaungi para OB UIN SGD Bandung. Sebelumnya OB tersebut dipegang oleh PT yang lama. Untuk kenaikan gaji akan diperhitungkan pada bulan ketiga PT Dewi Mukti Selaras berada di UIN SGD Bandung. Selain itu, Pihak PT juga menyatakan tidak menerima surat lamaran langsung dari OB, melainkan mereka menerima “warisan” pekerjaan tersebut dari pihak PT yang lama.

“Memangnya kalian melamar ke PT saya ? Enggak kan. Kalian diterima karena PT yang lama. Kalau mau, bisa saja saya lakukan pembersihan pegawai. Semuanya mendaftar ulang lagi, diberi pelatihan dan saya beri batasan umur dari 17-40 tahun,” ujar Atut selaku pemilik PT.

Para OB menunjukkan kekesalannya kepada pihak Kampus dengan melakukan atraksi dan juga menari-nari.  (Foto : Restia Aidila Joneva)

Para OB menunjukkan kekesalannya kepada pihak Kampus dengan melakukan atraksi dan juga menari-nari. (Foto : Restia Aidila Joneva)

Suasana menegangkan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Setelah istirahat shalat zuhur, audiensi pun dilanjutkan. Suasanasama masih terlihat, dibarisan depan terdapat tiga pihak yang duduk sesuai dengan posisinya. Dari sebelah kiri ada beberapa pihak OB yang mewakili, di tengah duduk beberapa pihak PT beserta pemiliknya, dan disebelah kanan adalah para penasihat dari LPM, masyarakat, maupun pihak kampus.

Baca juga:  Kontroversi UIN Bandung Paling Fundamentalis: ‘Dugaan Unsur Kepentingan’

Setelah perundingan yang awet dan melibatkan pihak-pihak tertentu, akhirnya tawar-menawar kenaikan gaji pun berlaku saat itu. Dari pihak OB, Doden selaku ketua OB meminta kenaikan gaji sebesar 300 ribu dari gaji yang semulanya 700 ribu. Namun, pihak PT menyatakan keberatan dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan. Perdebatan kembali terjadi antara kedua belah pihak. Pihak PT hanya akan memberikan kenaikan gaji sebesar 200 ribu diluar uang kesehatan dan kecelakaan kerja. Pernyataan tersebut dirundingkan beberapa menit oleh pihak OB dan mereka menyatakan tidak setuju.

Kesepakatan kenaikan gaji para OB kampus UIN SGD Bandung yang mayoritas masyarakat Cipadung itu mencapai titik terang.Perundingan tersebut menghasilkan perjanjian tertulis. Dalam perjanjian itu tertera kenaikan gaji menjadi 250 ribu yang mana didalamnya termasuk tunjangan dan lain sebagainya.

“Kenaikan gaji dari 700 ribu menjadi 950 ribu. Jadi kenaikan yang kita dapat 250 ribu. Dalam perjanjian tersebut kami tidak boleh lagi mengadakan demo. Kalaupun lembur itu dapat tambahan dari Fakultas aja,” Ujar Dodensaat ditemui di Gedung Z sambil memperlihatkan pernyataan tertulisnya.

Salah  satu  OB menunjuk  tulisan yang terpampang di Gerobak  sampah, Senin (28/04) lalu. (Foto : Restia Aidila Joneva)

Salah satu OB menunjuk tulisan yang terpampang di Gerobak sampah, Senin (28/04) lalu. (Foto : Restia Aidila Joneva)

Dengan dinaikkannya gaji tersebut, para OB tetap bekerja lembur karena mereka mengejarkan tugas sesuai dengan keadaan kampus. Mereka bekerja dari mahasiswa belum hadir sampai mahasiswa pulang. Namun, jadwal kerja yang ditentukan oleh pihak PT.Dewi Mukti Selaras hanya sampai pada pukul 4 sore, terlepas dari itu uang lembur ada atau tidaknya itu adalah urusan dari Fakultas masing-masing dimana OB tersebut ditempatkan dan juga bergantung pada kinerjanya.

Beberapa OB mengaku bahwa kenaikan gaji yang ada Kepala Bagian Umum, Fathujaman mengatakan bahwa gaji dan kinerja OB bukanlah tugas penuh dari pihak Kampus, karena para OB tersebut sudah dinaungi oleh PT. “ Dalam masalah karyawan, OB ataupun Satpam itu sudah ada PT masing-masing yang mengurusinya. Mau mereka kerja lembur atau bagaimana itu pasti ada uang insentif dari pihak fakultas karena bekerja lebih dari jamnya. Kami dari pihak kampus hanya sebagai pengawas saja,” jelas Fathujaman saat ditemui di kantornya.

Baca juga:  Menghitung Ulang Persetujuan Mahasiswa UIN Bandung Dicap Fundamental

Saat ini harus diterima sebisa mungkin. Untuk kerja lembur tetap dilakukan, sedangkan upah tambahan diberikan oleh Fakultas dimana OB tersebut bekerja sesuai dengan kinerja mereka. Setiap Fakultas memiliki upah tambahan yang berbeda.” Kalo kerja lembur pasti ada upah tambahan dari masing-masing Fakultas dan itu jumlahnya berbeda antara Fakultas,” pungkas Dani, salah seorang OB di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Reporter         : Restia Aidila Joneva

Redaktur        : Adam Rahadian Ashari

11 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas