Opini

Resensi Naskah Satru : Manusia Sunda

Oleh Pungkit Wijaya*

Cingciripit tulang bajing kacapit
Kacapit kubulu paré, bulu paré seuseukeutna
(Tongtolang Nangka)

BARANGKALI sejak mula peradaban, dosa seperti beban yang enggan enyah dalam diri manusia, dosa itu diturunkan. Menjadi beban, setiap jengkal tubuh manusia seperti telah diguratkan dosa. Nampaknya sulit untuk melupakan dosa. Apalagi dosa turunan; dari mulai nenek-kakek, embah, eyang, sampai tujuh turunan, katanya, dengan bersumpah. Sepertinya laknat jika harus berteman atau berdamai dengan seteru. Pada mulanya adalah perbedaan, kepentingan dan arogansi yang bertelur, beranak pinak dan lebih parah menjadi tradisi bagi kita, manusia. Apakah manusia dicipta dari dosa, hasil perseteruan?

Satru karya Nazarudin Azhar (Nunaz)realitas politik, cinta, menjadi bernas, di samping dialog yang sederhana (realis) namun satire, penuh guyonan, terkait latar, realitas politik dalam lingkar sederhana (desa), meskipun dibingkai dalam tambahan alur, pemilihan kuwu dan beberapa penggalan adegan. Mungkin saja ini sebenarnya menegaskan, identitas manusia Sunda.

Kendati demikian, Satru menjadi salah satu pilihan naskah dari Festival Drama Basa Sunda (FDBS-12) Teater Sunda Kiwari, FDBS 12 itu pun telah berlangsung pada tanggal 12 Maret-5 April di GK Rumentang Siang. Naskah tersebut pula yang dipinang Teater Awal UIN Bandung untuk dipentaskan. Tersebutlah pada tanggal 13 Maret Teater Awal mementaskannya, sebagai salah satu teater kampus yang sudah melanglang buana di jagat pementasan itu, Awal ingin kembali mempertahankan gelar yang sempat diraihnya ketika Festival dua tahun lalu. Setelah itu, sebagai juara bertahan, Teater Awal akan mementaskannya kembali di Audotorium UIN SGD Bandung, pada tanggal 27-28 Maret, di Sutradarai Dani Jauharudin dan segenap awak Teater Awal.

Politik- Satire
Maka, setelah membaca itu, mari kita lihat apa itu Satru? Dalam kamus Sunda-Indonesia R. Satjadibrata (Kiblat: 2011) ialah musuh atau seteru; bisa nyatru; memusuhi; jagasatru nama pegawai zaman dahulu. Dari kata satru itu, menurut saya akan menjelaskan apa yang ada dalam naskah drama yang ketika dipentaskan akan menjadi teks baru, teks dari realitas yang dialihkan ke dalam panggung pementasan melalui narasi dan penggambaran tokoh, dialog, latar dan setting.

Satru karya Nunaz tersebut, seperti bercermin pada kehidupan sosial, politik masyarakat Sunda atau bisa jadi terhadap diri kita sendiri. Siapa satru? Bisa saja dia orang terdekat dalam komunitas kita, komunitas sosial kita.

Narasi pementasan tersebut membicarakan persoalan; politik, cinta dan desa, penggalan peristiwa yang disatukan dalam beberapa adegan. Bahasa realise- satire, penuh guyonan, terkait latar, realitas politik pemilihan Kuwu. Di antaranya tokoh Suminta dan Karyana menjadi lawan atau seteru, Karyana adalah keturunan mantan Kuwu Sahri dan Suminta anak dari Kuwu Darta, telah lama bermusuhan dan masih memperebutkan tahta kepemimpinan desa. Dalam dialog awal, pada adegan pertama tokoh Karyana:

Karyana: Drs. Karyana kudu ganti baju. Teu sudi teuing kudu sarua jeung baju si Suminta!
Begitu pula terkena implikasinya yakni Rahmat dan Dini, dua tokoh anak muda yang sedang menjalin asmara. Bila dikata sedang pageugeut-geugeutna. Rahmat, anak lelaki dari Raden Suminta dan Dini dari Drs, Karyana, sungguh menarik, dua seteru yang berbeda yang sungguh sulit disatukan. Dalam dialog Rahmat dan Dini:
Rahmat : Iraha rek alakurna nya?
Dini : Nya engek we mun urang nikah, kang…
Rahmat: Lila keneh atuh, pan iteungna ge kuliah keneh dua taun deui…
Dini : Katambah deui ayeuna rek pemilu kuwu. Beuki angot. Itu ieu nganggap satru. Lieur Iteung mah…
Rahmat : Sarua, akang ge lieur, Nyi…

Pada sisi lain tokoh Darsih istri Karyana dan Sutinah istri dari Suminta. Memperlihatkan sekali realitas keluarga saheng. Adanya tim sukses Kodar, dan Sodik. Kodar menjadi juru kampanye dan pemimpin Laskar Suminta, sementara Sodik menjadi juru kampanye Karyana.

Ditambah pula, dalam kampanye tersebut dangdut menjadi pilihan, pada semesta saheng. Tokoh Imas Vibrator, sebagai penyanyi dangdut, membuat heboh, kedua belah pihak yang akan mencalonkan kuwu dan peristiwa acara dangdut tersebut mengejutkan yang pada akhirnya membuat seteru itu menjadi bersatu.

Identitas
Dunia modern; cara pandang dan wawasan, menjadi titik tolak dalam naskah tersebut. Tradisi yang mulai diselaraskan dunia modern, seperti halnya pandangan tentang demokrasi. Maka dari itu, dalam Satru tersebut, suspense dan realitas imajinatif menjadi pelengkap. Dengan epilog yang sederhana, inilah indentitas kita, identitas masyarakat Sunda pasca reformasi 98, pasca kedatangan demokrasi. Saya rasa, pementasan Satru ini tidak hanya para aktor teater, sutradara, penikmat pertunjukan, tapi para politikus, para pejabat harus menonton pementasan ini. Selamat menjadi manusia Sunda!

*Penulis bergiat di Forum Alternatif Sastra (FAS) dan Anggota Teater Awal Bandung

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas