Aspirasi

Basis Perekonomian Pesantren

Dok. Gontor.ac.id

Dok. Gontor.ac.id

Oleh: Wahyu Iryana*

Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama.Namun, dalam perkembangannya, pesantren semakin memperlebar wilayah garapannya.Tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertical (dengan memompa materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial bermasyarakat).

Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum), tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kekinian masyarakat (society-based curriculum).

Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespon carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya. Dengan kata lain para alumni pesantren sudah biasa “beradaptasi” dengan dunia luar, mereka mulai berkecimpung di dunia pendidikan, politik, social-budaya, kewirausahaan dan lain sebagainya (Mastuki HS, dan M. IshomEl-sha, 2006:1).

Keberadaan pesantren di tengah-tengah masyarakat mempunyai makna sangat strategis. Karena kekuatan pesantren berakar pada masyarakat, menjadi kekuatan tersendiri dalam membangkitkan semangat dan gairah masyarakat untuk meraih kemajuan menuju ke arah kehidupan yang makin sejahtera. Apalagi dalam menghadapi era globalisasi yang berdampak kepada berbagai perubahan terutama di bidang ekonomi maupun sosial-budaya.

Para pengasuh pesantren menyadari bahwa arus globalisasi dan modernisasi merupakan proses transformasi yang tak mungkin bisa dihindari, sehingga semua kelompok masyarakat termasuk masyarakat pesantren harus siap menghadapinya dan perlu menanggapi dampak-dampaknya secara terbuka dan secara kritis. Karena pesantren memiliki ciri khas yang kuat pada jiwa masyarakatnya serta dasar-dasar keagamaan dan tradisi, menjadikan pesantren memiliki kekuatan resistensi terhadap pengaruh-pengaruh budaya dari luar.

Dalam hal ini pesantren dianggap sebagai “benteng” nilai-nilai dasar di masyarakat terhadap intervensi budaya asing. Inilah pentingnya keterkaitan pesantren dengan masyarakatnya yang tercermin dalam ikatan tradisi dan budaya yang kuat dan membentuk pola hubungan fungsional dan saling mengisi antara keduanya. Oleh karena itu pesantren membutuhkan gerakan pembaharuan yang progresif terhadap segala bidang, terutama dalam menghadapi permasalahan sosial-kemasyarakatan..

Tantangan terbesar dalam menghadapi globalisasi dan modernisasi adalah pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) dan ekonomi. Berpatokan dengan hal ini, maka pimpinan pesantren berupaya menumbuhkan SDM-SDM yang berkualitas dan tangguh yang diharapkan akan mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dan mengatasi ekses-eksesnya.

Perkembangan SDM terjadi sebagai hasil dari interaksi antara pertumbuhan ekonomi, perubahan sosial budaya termasuk kedalaman pengamalan ajaran dan nilai-nilai agama serta perkembangan modernisasi dan teknologi. Dua hal tersebut (SDM dan pertumbuhan ekonomi) harus diarahkan pada pembentukan kepribadian, etika dan spritual. Sehingga ada perimbangan antara keduniawian dan keagamaan. Dengan perkataan lain pesantren harus dapat turut mewujudkan manusia yang IMTAQ (beriman dan bertaqwa), yang berilmu dan beramal dan juga manusia modern peka terhadap realitas sosial kekinian. Dan itu sesuai dengan kaidah ”al muhafadotu ’ala qodimish sholih wal akhdu bi jadidil ashlah” (memelihara perkara lama yang baik dan mengambil perkara baru yang lebih baik).

Etos Kerja Santri

Masalah perekonomian menjadi langkah penting bagi pesantren dalam mengorganisir masyarakat. Mengingat dalam arus ’pasar bebas’, masyarakat dituntut untuk berkompetisi hidup dalam melanjutkan kehidupannya. Era globalisasi telah meruntuhkan kekuatan ekonomi masyarakat kecil karena dominasi monopoli pelaku pasar yang sudah meguasai hampir di seluruh pelosok desa. Maka pemberdayaan masyarakat melalui kesejahteraan dan kemandirian ekonomi perlu digerakkan.

Santri dituntut menjadi agamawan yang ”luwes”, mempunyai jiwa sosial-kemasyarakatan serta kepribadian mandiri dan intrepreneurship.Dalam hal ini santridiharapkan mampu menjadi ”pioner perubahan” yang membentuk sebuah gerakan yang praksis di masyarakat. Pengembangan ekonomi juga diperlukan keahlian-keahlian khusus untuk diterapkan meliputi: manusia yang berjiwa sosial, intrepreneurship, bangunan jaringan (baik untuk perdagangan/wirausaha, permodalan dan pemasaran). Masyarakat, khususnya bagi pesantren harus bisa melepaskan diri dari belenggu ”pasar modernisasi” dan lingkaran ekonomi sudah tidak merakyat lagi bagi rakyat kecil.

Adapun lanngkah-langkah yang dilakukan oleh pesantren dalam hal menyiapkan santri era globalisasi adalah: Pertama, Pendalaman keilmuan. Dalam hal ini keilmuan agama dan pengetahuan umum. Ajaran agama merupakan pemupukan nilai-nilai spiritual untuk tetap teguh dalam menjalankan ajaran agama di kala moderinisasi sudah merasuk pada wilayah jati diri manusia. Serta pengetahuan-pengetahuan keilmuan umum dalam perkembangan zaman terus meningkat dan setiap manusia harus bisa mengikutinya. Dan SDM inilah yang menjadi kunci dari peradaban manusia itu sendiri. Maka diharuskan hidup secara serasi dalam kemodernan dengan tetap setia kepada ajaran agama.

Kedua, Menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Etos kewirausahaan dijadikan bagi penumbuhan dan motivasi dalam melakukan kegiatan ekonomi. Gerakan-gerakannya adalah membangun wirausaha bangsa kita sendiri, terutama dari kalangan pesantren dan masyarakatnya. Serta dapat menumbuhkan pengusaha-pengusaha yang tangguh yang mampu bersaing baik di pasar internasional apalagi di pasar lokal itu sendiri.

Pesantren diharapkan dapat melahirkan wirausahawan yang dapat mengisi lapisan-lapisan usaha kecil dan menengah yang handal dan mandiri. Sebenarnya yang diperlukan hanyalah menghidupkan kembali tradisi yang kuat di masa lampau dengan penyesuaian pada kondisi masa kini dan pada tantangan masa depan.

Ketiga, Etos Kerja dan kemandirian. Realita di masyarakat pada umumnya etos kerja ini belum sepenuhnya membudaya. Artinya, budaya kerja sebagian masyarakat kita tidak sesuai untuk kehidupan modern. Pesantren, dimulai dengan lingkungannya sendiri, harus menggugah masyarakat untuk membangun budaya kerja yang sesuai dan menjadi tuntutan kehidupan modern. Sedangkan waktu adalah faktor yang paling menentukan dan merupakan sumber daya yang paling berharga. Budaya modern menuntut seseorang untuk hidup mandiri, apalagi suasana persaingan yang sangat keras dalam zaman modern ini memaksa setiap orang untuk memiliki kompetensi tertentu agar bisa bersaing dan bermartabat di tengah-tengah masyarakat. Karena hanya pribadi-pribadi yang punya watak kemandirian saja bisa hidup dalam masyarakat yang makin sarat dengan persaingan.

Selain hal di atas, langkah-langkah kongkrit yang dilakukan oleh pesantren adalah: Pertama, menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks ekonomi, para alumni dan masyarakat didorong untuk berkarya melalui usaha-usaha kreatif yang mandiri yang berpusat di rumah-rumah masyarakat sekitar pesantren (home industri). Kedua, menjadikan pesantren sebagai pusat pengembangan ekonomi kerakyatan. Hal ini dilakukan dengan mendirikan koperasi-koperasi di lingkungan pondok pesantren. Semoga saja kehadiran pesantren mempunyai dampak yang sangat signifikan dalam merubah perekenomian masyarakat berbangsa.

*Penulis adalah Dosen Sejarah UIN SGD Bandung, Pengurus ICMI Orwil Jabar.

1 Comment

1 Comment

  1. aji ridwan firdaus

    1 Maret 2012 at 17:02

    makasih udah di publikasikan..
    salam Fruktosa dari kami warga kimia 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas