Terkini

Dialog Lintas Agama

[Suakaonline]-Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung bekerjasama dengan stasiun TVRI pusat Jakarta dan Bank BRI Ujung Berung Bandung. Mengadakan dialog lintas agama dengan menghadirkan 6 pemuka agama yang berbeda, yakni Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, dan Konghuchu. Kamis (26/04) di Auditorium UIN Bandung.

Pada sesi pertama, pemateri yang hadir adala Rektor UIN Sunan Gunung Djati  Bandung Dedi Ismatullah, Pendeta Albertus Pati dari agama Kristen Protestan dan  Handojo Ojong ketua Walubi (Perwakilan Umat Budha Indonesia) Jawa Barat.

“Adanya konflik antar pemeluk agama karena adanya miskonsepsi,  agama bukanlah sumber konflik tapi sebenarnya orang-orang sendirilah yang menyebabkan konflik.  Piagam madinah adalah salah satu bentuk pluralisme yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad,” ungkap Dedi.  “Rahmatan lil alamin menjadi pedoman agama islam untuk menjaga kerukunan, karena islam harus bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain,” sambungnya.

Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan saling menyalahkan, cinta kasih yang diajarkan umat kristen merupakan salah satu bentuk pluralisme yang dianut Kristen. “Sebenarnya bukan agama yang menyebabkan konflik tapi faktor politik, faktor ekonomi dan sebagainya,” ungkap Albertus. Begitupun agama Budha “Budhisme juga mengajarkan perlu adanya cinta kasih untuk menuju kehidupan lebih baik,” tambah Handojo.

Fundamentalisme agama tidaklah menjadi suatu masalah ketika hal itu tidak dibawa kedalam ranah publik. Hal itu bukanlah yang harus diperdebatkan karena itu tidaklah akan membuat rakyat menjadi sejahtera “Hari ini perjuangan umat beragama hendaklah membentuk suatu kerjasama bagaimana bisa menolong rakyat miskin agar lebih sejahtera,” papar Albertus.

Agar terjadi kerukunan antarumat beragama Dedi menyimpulkan bahwa kerukunan umat beragama bisa tercapai dengan mendahulukan kerukunan antarumat beragama terlebih dahulu, atau dengan membentuk FKUB (Forum Komunikasi Antar Umat Beragama). “Dengan mengadakan pertemuan-pertamuan yang tidak hanya sekedar berkumpul dan makan saja. Tapi mencari solusi akan suatu masalah,” Lain halnya dengan yang diungkapkan Albertus “Justru menurut saya bukan pemimpin yang harus terlebih dahulu menjalin kerukunan tapi berawal dari umatnya. Dengan mengambil contoh sumpah pemuda menjadi langkah awal untuk pemimpin mendengar aspirasi pemuda,”

“Hendaknya pemimpin yang kita pilih adalah pemimpin yang mempunyai tiga kriteria yaitu negarawan, teladan dan melayani,” ungkap Handojo mengakhiri.

Acara diakhiri dengan penampilan grup musik The Project dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. [] Iis/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas