Opini

Evidensi dan Ilusi Dibalik Kata-kata

Oleh Asep Koswara*

Kalau dalam acara hitam-putih Trans7, Dedi Corbuzier bilang “hati-hati dengan pikiran anda”, saya disini akan bilang “hati-hati dengan kata-kata anda”. Yang menjadi titik perbedaan disini adalah “pikiran” dengan “kata-kata”, dan sebetulnya antara kedua ini mempunyai hubungan yang erat-yaitu kata-kata merupakan hasil dari “pikiran”; apa yang kita pikirkan terekpressikan dengan kata-kata.  Meski kedua ini mempunyai persamaan namun hal berbeda-pun ada- yaitu dilihat dari segi sifat bentuk implementasi; pikiran lebih bersifat abstrack-tak berwujud karena ada dalam alam pikiran, sedangkan kata-kata merupakan bentuk konkret- yaitu biasanya dalam bentuk tulisan (written) ataupun ucapan (spoken).

Secara sederhana “kata” merupakan gabungan dari hurup yang mempunyai arti. Apakah jika tidak mempunyai arti bisa disebut dengan kata? itu semua memang masih diperdebatkan oleh beberapa ahli bahasa; ada yang mengatakan bisa, dan ada juga yang mengatakan tidak. dalam bahasa inggris kata disebut dengan “word yang artinya (oxford dictionary, 2008) written or spoken unit of language”, yaitu kata adalah unit bahasa yang berbentuk tulisan ataupun ucapan.

Dalam bahasa inggris kata atau “word” secara bentuk/jenis dibedakan menjadi delapan kategori; juga sering disebut part of speech. Terdiri kedalam “noun” (kata kerja), “adjective” (kata sifat), “adverb” (kata keterangan), “veb” (kata kerja”, “conjunction” (kata sambung), “pronoun” (kata ganti), “preposition” (kata depan), dan interjection. Kemudian secara sifat ada yang disebut dengan kata-kata positif dan ada kata-kata negative. Kenapa bisa dikategorikan positif sama kata-kata negative? Adakah kata-kata yang netral?

Adanya pengkategorian kata-kata positif dan negative adalah-ketika kata-kata tersebut sudah dihubungkan dengan konteks budaya, kepercayaan, dan juga etika suatu masyarakat. Pada awalnya bahasa itu satu-dan netral-namun ketika sudah menyebar ke kehidupan masyarakat luas bahasa digolongkan sesuai dengan kebutuhan dan menurut golongan-golongan tertentu. Suatu golongan dengan golongan yang lain mempunyai bahasa-dan style kata-kata yang berbeda baik didasarkan pada perbedaan tingkat ekonomi, sosial, pendidikan, budaya dan juga yang lainnya. Contohnya cara bicara orang miskin tentunya berbeda  dengan cara bicara orang sukses.

Dari perbedaan itulah kaa-kata menjadi banyak dibahas dalam dunia psikologi dan motivasi, sehingga istilah “kata-kata positif” dan “negative”-pun muncul dalam kajian sebagai cara untuk mencapai sebuah tujuan dan kebahagiaan. Sehingga kata-kata sering dianggap mempunyai sihir, keajaiban, kekuatan, harapan, dan keindahannya. Misalnya dalam kata-kata positif muncul istilah kata mutiara, kata-kata pencerahan, kata-kata motivasi, dan syair-syair.

Ada sebuah ungkapan “words can change your worlds”, yang makna dalam bahasa indonesianya adalah “kata-kata bisa mengubah kehidupan anda”. Ungkapan tersebut menunjukan bahwa kata-kata mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengubah kehidupan anda baik kearah yang lebih baik ataupun sebaliknya.

Sebuah kata-kata positif mempunyai makna positif didalamnya, contohnya ungkapan syukur, penghargaan, motivasi dan yang lainya. Begitu juga sebaliknya sebuah kata-kata negative mempunyai makna negative, contohnya kata-kata keluhan, caci maki, penyesalan dan yang lainnya. Dari kedua jenis tersebut menurut ahli-ahli motivasi dan psikologi  mempuyai effek dalam kehidupan. Karena antara manusia dan alam mempunyai hokum ketertarikan. Menurut  (Michael J Losier,2007), hukum ketertarikan merespon apa yang anda rasakan terhadap ucapan-ucapan anda. Disini jelas bahwa baik itu ucapan positif maupun ucapan negative alam akan merespon hal yang sama bahkan menurut Losier dalam jumlah yang lebih besar.

Selain itu RH. Wiwoho dalam bukunya ”The Magic of Language” kata-kata bukan hanya suatu perwakilan atau penggambaran dari dunia pengalaman, tetapi juga ”membingkai” (framing)  pengalaman seseorang. Dia menjelaskan bahwa ”membingkai” (framing) artinya membawa aspek-aspek tertentu sebagai latar depan (foreground) dan meninggalkan aspek lainnya sebagai latar belakang (background). Disini menunjukan bahwa kata-kata bisa dimodifikasi sedemikan rupa untuk sebuah tujuan yang kita inginkan. Mengungkapkan kata-kata positif, meski membohongi perasaan itu lebih baik daripada mengungkapkan kata-kata negatif.

Dedi Corbuzier dalam bukunya (Mantra, 2005) mengatakan bahwa kata-kata yang tepat dapat berguna sebagai “Mantra”, yaitu alat beladiri manusia yang paling ampuh di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Pernahkah anda dengar seseorang yang memenangkan peperangan hanya dengan kata-kata? atau seseorang yang mau menyerahkan uangnya karena di hipnotis? Perlu di ketahui bahwa pikiran manusia itu sangat mudah untuk di manifulasi, dan cara memanifulasi yang efektif adalah dengan cara kata-kata.

Disinilah yang di maksud dengan hati-hati dengan kata-kata; sebetulnya bukan hanya kata-kata yang keluar dari mulut kita saja, namun juga harus hati-hati dengan kata-kata dari luar yang masuk ke pikiran kita. Jagalah setiap perkataan yang keluar dari mulut kita, karena apa yang kita ucapkan adalah cerminan dari kehidupan; dan bukan hanya sekarang saja namun juga masa depan kita. Ucapkan hanya kata-kata positif; tidak hanya buat diri kita sendiri namun juga terhadap orang-orang disekitar kita.

*Penulis adalah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, Konsentrasi Linguistic UIN SGD BANDUNG

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas