Kampusiana

Minim Lahan Parkir, UIN Bandung Berlakukan Parkir Berbayar

Foto: Dede Lukman Hakim

Foto: Dede Lukman Hakim

 

SUAKAONLINE.COM — Kepala Pusat Pengembangan Bisnis UIN SGD Bandung, Ayi mengatakan, meski minim lahan parkir, struktur bangunan UIN harus diikuti dengan implementasi kerapian dan keamanan dengan menggunakan lahan kosong.

Pembelian lahan atau membangun gedung parkir masih dalam rencana, untuk sementara ini sistem pakir berbayar dinilainya perlu dalam upaya penertiban kendaraan. Sampai saat ini belum ada kepastian kapan mulai diberlakukan aturan tersebut.

”Jumat besok akan ada rapat dengan Dema, Rektor dan beberapa pejabat UIN membahas lebih detil, lebih mendalam tentang perparkiran ini,” kata Ayi, Rabu (5/11/2014).

Kepala Bagian Umum, Fathujaman mengatakan sampai sekarang masih banyak kendaraan yang parkir di bahu jalan karena minimnya lahan parkir sejak pembangunan gedung baru UIN selesai. “Cuma kita gak punya pilihan lain dan memanfaatkan saja lahan yang ada,” ungkapnya.

Perbaikan infrastruktur dilakukan agar menunjang ketertiban parkir kendaran seperti pelebaran jalur masuk kendaraan dan perbaikan lahan kosong. Ayi menyebutkan ada lima titik lahan kosong yang sedang dipersiapkan untuk dijadikan lahan parkir, diantaranya lahan kosong di belakang Fakultas Ushuluddin, samping selatan Aula Baru dan Gazebo.

“Untuk Dibawah Pohon Rindang (DPR) belum ada kepastian, mungkin hari Jumat akan ada kepastian soal itu,” paparnya.

UIN bekerjasama dengan PT. Triglobal menyepakati dua sistem pembayaran yang bebas dipilih oleh seluruh masyarakat UIN. Pertama finger print, pengendara masuk dengan menscan jari kemudian membayar Rp. 1000/hari untuk kendaraan roda dua dan Rp.2000 untuk kendaran roda empat.

Bagi Pengendara yang keluar-masuk kampus berulang kali, cukup menscan tanpa membayar lagi. Kedua, menggunakan simcard. Kepemilikan simcard akan diputuskan Jumat besok. “Apakah dibagikan secara gratis atau dibeli, keputusannya nanti,” ungkap Ayi.

Penggunaan simcard sama dengan fingerprint.Bedanya, sistem pembayaran simcard dilakukan setiap bulan. “Bisa jadi biaya perbulan lebih murah dari pada biaya perhari,” tambahnya.

Pendapatan perbulannya kata Ayi, dari aturan yang sudah berlaku, 60 persen untuk kampus dan 40 persen untuk pengusaha.Namun aturan itu belum definitif. Ketika sudah deal, uang itu masuk ke Pengelola Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU).

“Ini yang patut diawasi ketika uang sudah masuk ke BLU, karena ketika uang ke BLU sudah bukan ranahnya pusat pengembangan bisnis, sebetulnya dari BLU akan balik lagi ke masyarakat kampus, namun kita tidak tahu realitasnya nanti seperti apa,” imbuhnya.

Jumlah mahasiswa UIN semakin bertambah setiap tahunnya, tidak sebanding dengan mahasiswa yang lulus. Lahan parkir yang ada sekarang di beberapa tahun ke dapan akan semakin menyempit, Fathujaman mengungkapkan dua konsep sebagai solusi.

“Membangun gedung parkir atau membeli lahan, pendapatan anggaran jika tidak dari pemerintah, kita akan melakukan konsorsium dengan pihak perusahaan”, jelasnya.

Reporter : Dede Lukman Hakim

Redaktur : Adi Permana

12 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas