Cerpen

Capruk Ala Penyair

Oleh Jamaluddin Husein*

Rentang waktu yang semakin bertambah, ada garis yang semakin jelas warnanya di balik halimun jalanan. Aku telah melihat gambar dari semua perjalanan yang telah aku tempuh. Begitu berwarna, seperti pakaian di dalam lemariku yang begitu banyak. Aku senang jika mempunyai banyak pakaian. Ada warna merah dengan lipatan kerah yang sering aku pakai ketika masih kuliah. Biru seperti langit yang sering aku pandangi kala embun menguapkan kegelisahan malam. Putih yang tidak sering aku pakai karena gampang terkotori. Hitam, satu warna yang hanya satu-satunya aku miliki. Dan banyak warna lagi yang masih tersimpan di dalam lemariku.

Aku juga senang, pernah berkenalan denganmu. Pada waktu hujan menjebak kita di bawah rerindangan. Aku tak begitu ingat baju apa yang aku pakai ketika itu. Mungkin biru kehitam-hitaman, atau mungkin merah dengan aksen garis kuning diantara lipatan saku dimana aku menyimpan rokokku. Atau memang pada saat itu, aku tidak begitu menghiraukan baju apa yang aku pakai karena mungkin aku hanya mengingat warna langit yang begitu kelabu. Atau mungkin bisa saja aku teringat dirimu, lalu seolah-olah aku menjadi lupa pada diriku di waktu itu. Mungkin saja..

Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah melihat beragam warna si jalanan. Mungkin jika kau tanyai aku mengenai warna, aku akan dengan rela menghabiskan waktu berjam-jam menjelaskan warna apa yang kau maksudkan. Jika kau tanya, apakah warna biru itu, aku akan menjawab warna teduh, seteduh wajahmu yang sedang melihat langit lazuardi. Jika kau tanya, apakah hitam, aku menjawab warna yang sering aku temui di malam-malam panjangku. Jika kau tanya apakah, aku akan menjawab itulah. Jika kau tanya a, maka aku akan jawab b. Jika kau menanyakan. Maka aku akan menjawab.

Tapi selebihnya hanya suara hujan yang terdengar. Suaramu kecil begitu larut dalam hening langit yang berwarna kelabu. Sempat aku berniat untuk menanyakan terlebih dahulu, hendak pergi kemana nona, tapi aku urungkan saja. Langit masih berwarna kelabu ketika aku melihat raut mukamu yang sedang menengadah pada waktu itu. Kau seperti yang sedang ingin berlari menembus hujan, mengejar mentari yang sedang main petak umpet dengan teman sebayanya. Namun kau enggan, ada yang menahanmu disini. Sesekali kau melihat ke arah dimana kau datang. Menunggu kendaraan yang lewat sekedar mencari tumpangan. Tetapi bukan itu. Aku kira matamu yang berbinar mengatakan sesuatu padaku. Namun ia hanya berbisik, tak berani berteriak. Ia takut dicongkel dari wajahmu dan kemudian kau lemparkan ke tengah jalanan.

Aku urungkan diri untuk bertanya. Oh, aku jadi ingat warna apa yang aku pakai pada waktu itu. Coklat tua yang sedikit keabu-abuan. Seperti pohon tempat kita berteduh.

Hujan reda, jalan berkubang. Sontak kau berlari tanpa permisi. Aku tak begitu mengenalmu terlalu banyak, jejakmu terlihat jelas sepanjang jalan. Aku bayangkan tapak-tapak itu kukejar, sekedar ingin tahu kemanakah tuannya melangkah dan berhenti kembali dipersinggahan yang serupa dan melihat warna-warna lain disepanjang perjalanan tersebut.

*Penulis adalah mahasiswa UIN SGD Semester VI jurusan Sains Matematika aktif di UKM Teater Awal

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas