Kampusiana

Keberagaman dalam Bhineka Tunggal Ika

Diskusi dengan pembicara di acara Dialog dan Kampanye Photo Keberagaman dalam rangkaian acara memperingati Hari HAM Sedunia, di Gedung Lecture Hall UIN SGD Bandung, Sabtu (13/12/2014).

Diskusi dengan pembicara di acara Dialog dan Kampanye Photo Keberagaman dalam rangkaian acara memperingati Hari HAM Sedunia, di Gedung Lecture Hall UIN SGD Bandung, Sabtu (13/12/2014).

 

SUAKAONLINE.COM – Komnas Perempuan dan beberapa komunitas di Bandung, menggelar acara Dialog dan Kampanye Photo Keberagaman dalam rangkaian acara memperingati Hari HAM Sedunia, yang jatuh setiap tanggal 10 Desember.

Komunitas yang tergabung dalam acara tersebut adalah Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama), Sapa Institut (Pusat Pendidikan, Informasi, dan Komunikasi Perempuan), Praxis (Komunitas Pemberdayaan Masyarakat), serta Gereja Kristen Pasundan.

Acara yang diselenggarakan pada pukul 13.00 WIB ini, dikemas sederhana. Dimulai dengan hiburan musik dari The Kocak Band, dan dilanjut dengan talkshow yang dipandu oleh dua orang host.

Tema yang diambil yaitu Bhineka itu Indonesia. “Diharapkan teman-teman bisa sharing bahwa damai itu indah, dan selamat melihat bahwa bhineka itu Indonesia,” ungkap Ismoro selaku Ketua Panitia dalam sambutannya di Lecture Hall lantai 1, Sabtu (13/12/2014).

Pembicara yang dihadirkan yakni dari Anggota Komisi X DPR RI Dadang Rusdiana, Pendeta Gereja Kristen Pasundan Leonard Bayu, dan Ketua Komunitas Jakatarub Wawan Gunawan yang juga dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

Pada kesempatan ini, bhineka yang dimaksud lebih menekankan kepada keberagaman beragama. Walaupun tema yang diambil begitu sensitif, tetapi pembicara mencoba mengajak kita untuk bisa terbuka dan tidak tabu akan hal itu. Wawan menjelaskan, keberagaman itu takdir, agar kita fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Acara yang dihadiri sekitar 40 orang dari berbagai universitas ini, berlangsung interaktif dan cukup meriah. “Bersyukur bisa ikut acara ini, pematerinya keren-keren, jadi bisa membuka diri untuk menerima perbedaan, karena kita hidup di tanah air yang mejemuk,” ujar salah satu peserta Lia Riski.

Reporter: Anjar Martiana

Redaktur: Adi Permana

 

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas