Kolom

Kampus Parkiran

parkir

Motor sedang terparkir di belakang Aula UIN SGD Bandung. Lokasi ini kerap dijadikan pula lapangan basket oleh mahasiswa. (Dok.Suaka)

 

 

Sepanjang sejarah di UIN SGD Bandung, baru kali ini kampus tersebut menerapkan sistem parkir berbayar secara profesional. Hal itu bisa terlihat dari pengelolaannya yang melibatkan pihak swasta. Ya, kampus Islam yang akrab dengan sebutan Kampus Hijau ini kini tak jauh berbeda dengan mall-mall besar. Kebijakannya seakan berbau komersial, seluruh sivitas akademika pun harus rela merogoh kocek untuk sekedar keluar-masuk kampus.

Pemberlakuan parkir berbayar tersebut dimulai sejak akhir November 2014 lalu, bekerjasama dengan Trustparking sebagai pengolola. Menurut Kepala Bagian Umum (Kabag Umum) UIN SGD Bandung Fathujaman, berasalan bahwa diberlakukannya parkir berbayar karena melihat kondisi parkiran yang belum tertata rapih dan banyaknya aksi kriminal berupa pencurian.

Ia juga berjanji uang parkir akan dialokasikan untuk fasilitas parkir dan asuransi kendaraan. Itikad baik itu memang perlu kita apresiasi, karena kondisi parkir di UIN SGD Bandung kini sudah sedikit tertata rapih dari sebelumnya. Tapi untuk fasilitas parkir, sayang sekali masih jauh dari harapan.

Idealnya di sebuah lembaga pendidikan setingkat universitas, yang harusnya terlihat adalah hiruk pikuk kegiatan mahasiswa; diskusi, belajar, organisasi dan yang lainnya. Namun yang lebih dominan di UIN SGD Bandung adalah geliat kendaraan bermotor yang berlalu lalang mencari lahan parkir kosong. Tempat-tempat yang semulanya untuk mahasiswa berkegiatan, misalnya Di Bawah Pohon Rindang (DPR), kini sudah beralih fungsi menjadi lahan parkir.

Melihat kondisi lahan parkir seperti itu, maka akan berdampak pada kegiatan-kegiatan mahasiswanya sendiri. Celakanya mereka akan kesulitan mencari tempat nyaman untuk belajar, diskusi atau mengadakan acara tertentu. Apakah akan kondusif ketika membaca buku, diskusi, atau mengadakan kegiatan lain di antara kendaraan yang sedang terparkir? Tentu tidak, semua itu akan kondusif ketika ditemani semilir angin, tidak ada kebisingan kendaraan, dan tempat teduh karena rimbunnya pepohonan.

Kita juga tentu akan jenuh ketika harus melulu mengadakan kegiatan di Aula, Gazebo atau di Gedung Student Center. Tapi ironisnya tak ada pilihan lain selain tempat-tempat itu, karena lahan parkir telah menggerus ruang-ruang publik untuk mahasiswa. Bahkan Gazebo pun kini sudah mulai dipenuhi kendaraan bermotor. Padahal itu adalah jantungnya ruang terbuka bagi mahasiswa.

Tidak etis rasanya jika semua lahan di kampus digunakan sebagai tempat parkir. Oleh karenanya salah satu solusi dari permasalahan itu adalah membuat basement khusus tempat parkir. Dengan cara itulah maka penataan kendaraan akan lebih mudah. Ruang-ruang terbuka pun bisa kembali digunakan mahasiswa untuk berkegiatan yang produktif.

Selain itu, jika memang kendaraan bermotor terus membludak sampai lahan parkir yang ada tak kuat menampung, maka kampus mesti berani menetapkan harga parkir yang lebih mahal. Mungkin dengan cara itu, mahasiswa yang dekat dengan kampus bisa berjalan kaki, dan mengurangi tingkat polusi udara dari kendaraan. Karena saat ini sangat jarang dijumpai pohon rindang sebagai penyerap Karbon Dioksida.

Pihak kampus harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dari setiap permasalahan yang terjadi. Sebagai langkah menuju kebaikan bersama. Tentunya setiap opsi yang dipilih harus melalui musyawarah dengan segenap sivitas akademika, karena merekalah yang paling merasakan secara langsung dampak dari setiap kebijakan yang dibuat. Jika tidak begitu, mimpi menjadi kampus unggul mungkin hanya isapan jempol belaka.

 

Adi Permana (adie.permana94@gmail.com)

Pemimpin Redaksi LPM Suaka

Anda ingin mengomentari tajuk di atas, silahkan kirim komentar ke e-mail penulis atau ke redaksi.suaka@gmail.com

11 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas