Featured

Mengenang Kejayaan Kawali di Keheningan Astana Gede

Dok.Net

Dok.Net

SUAKAONLINE.COM, Ciamis Haylu a di ponah ponah- haylua di cawuh cawuh- inya neker inya ager- inya ninycak inya rempag. Jangan dirintangi janganlah diganggu yang memotong akan hancur yang menginjak akan tumbang. Begitu bunyi tulisan yang terpahat pada salah satu prasasti menggunakan aksara Sunda Kaganga dan bahasa Sunda Buhun yang ditulis oleh Rahyang Niskala Wastukencana.

Baris pertama tulisan pada prasasti menceritakan tetang Prabu Wastu yang bertapa dan bertahta di Kawali. Memperindah Keraton Surawisesa kemudian membuat parit yang mengelilingi kota dan mensejahterakan negeri, juga dalam prasasti tersebut ada sebuah harapan agar dikemudian hari ada yang melanjutkan berbuat kebajikan,.

Prasasti yang ditulis Rahyang Niskala Wastukencana berada di Astana Gede, pusat kebudayaan dan peninggalan sejarah masa Kerajaan Galuh pada abad 14 Masehi. Astana Gede atau dikenal juga sebagai Situs Kawali merupakan tempat suci pada masa Sunda Galuh.

Luas Astana Gede sekitar lima hektar dan ditumbuhi kurang lebih 100 jenis pohon. Ketika pertama kali memasuki pintu gerbang Astana Gede, udara lembab dan sejuk mulai merayap mengalahkan sinar matahari yang tidak mampu menembus rimbunnya pepohonan.

Seorang petugas, Saidin yang ikut merawat dan menjaga Astana Gede mulai menceritakan prasasti-prasasti beserta sejarahnya. “Disini ada enam prasasti dan satu kolam yang disebut Cikawali tempat susuci keluarga kerajaan termasuk Diah Pitaloka. Sepanjang tahun air di Cikawali tidak pernah surut,” cerita Saidin pada Suaka, Minggu (8/2/2015). Ia menambahkan bahwa prasasti ditemukan pertama kali oleh orang Belanda yang bernama Thomas Stamford Raffles pada tahun 1817.

Selain menjadi tempat pemujaan raja-raja yang masih menganut agama Hindu di dalam kompleks Astana Gede, terdapat pula makam orang besar seperti Adipati Singacala yang masih keturunan Sultan Cirebon yang telah menganut Islam.

Raja-raja yang pernah berada di kompleks Astana Gede yaitu Prabu Ajiguna Linggawisesa, Prabu Ragamulya, Prabu Linggabuwana yang gugur dalam perang bubat, dan Rahyang Niskala Wastukencana.

Astana Gede berada di sebelah utara atau 12 kilometer dari ibu kota Kabupaten Ciamis yaitu di Dusun Indrayasa, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pengunjung biasanya datang di bulan Mulud dan hari Kliwon. Mereka datang dari Kabupaten Ciamis maupun dari daerah luar Ciamis untuk berwisata sejarah ataupun ziarah.

Reporter         : Ratu Arti Wulan Sari                                                

Redaktur        : Isthiqonita

6 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas