Opini

Mahasiswa, Lebah atau Wabah?

Sebuah Renungan terhadap Mahasiswa Jelang Akhir Tahun 2012

Oleh Indira S.Rahmawaty*

Pengantar

Mahasiswa, harusnya jadi lebah bukan wabah!” Begitu ungkap bapak saya suatu waktu. Sebuah ungkapan yang menggelitik saya untuk memikirkan lebih lanjut dan akhirnya sampai pada kesimpulan cepat dengan senyum simpul bahwa ungkapan itu memang layak dilontarkan kepada mahasiswa saat ini…Dan sekali lagi, sungguh-sungguh layak disampaikan pada siswa yang menyandang kata “maha” di depannya!

Di waktu yang berbeda, ibu saya menyampaikan pesan seorang temannya untuk saya. “Teh, tolong ingatkan para mahasiswanya, jaga ucapan dan sikapnya”. Temannya ibu saya ini, dapur rumahnya memang tepat di belakang kantin mahasiswa sebuah fakultas di UIN Bandung. Ucapan kasar dan obrolan “free sex” kerap didengar dari mahasiswa-mahasiswa yang jajan di kantin. Hasilnya, ibunya teman saya ini mengalami sakit kepala berat karena tak kuat dengan obrolan”kelewat batas” dari para mahasiswa ini.  Obrolan harian mahasiswa di kantin bak “polusi” jahat yang masuk ke telinga si ibu.

Antara Mahasiswa Lebah dan Mahasiswa Wabah

Itu hanya 1 fragmen diantara banyak sekali fragmen lain tentang fakta mahasiswa yang sekarang kebanyakan menjadi “wabah” bukan “lebah”. Memang masih ada yang jadi lebah dan membawa “solusi” bukan “polusi” tapi bisa dihitung jari. Data dari berbagai survey makin menguatkan hal ini.

Lebah adalah makhluk Allah yang luar biasa, binatang yang seringkali diberi gelar Nabinya kalangan binatang. Lebah hanya hinggap di tempat yang baik dan menghasilkan yang baik. Saya pernah memiliki satu koloni lebah di rumah saya. Saya bisa dengan tenang mengambilnya dan menempatkannya di tangan saya, tapi hanya jika saya punya niat baik, tenang dan yakin untuk “menyapa” mereka. Namun, begitu ada yang mendekat dengan niat buruk, sekedar mengganggu dan memandangnya dengan kebencian,  maka siap-siaplah anda menjadi sasaran sengatannya.

Ya, begitulah mahasiswa sebagai moral force seharusnya berperilaku bak lebah. Dia Baik, hinggap di tempat baik, menerima yang baik dan menghasilkan yang baik. Hal ini tentu saja bukan hal sulit untuk mahasiswa, peluangnya besar hingga mereka menjadi sosok yang menghadirkan citra positif di tengah masyarakat. Hanya saja selain ada potensi, ada tantangan dan hambatan hebat di depan mahasiswa.

Sedangkan wabah, adalah kata yang berkonotasi negatif. Tidak ada orang yang mau membawa dan kena wabah. Mahasiswa wabah berarti membawa “penyakit” menular yang berbahaya pada orang-orang di sekitarnya, terlebih kalau orang-orang tersebut memiliki system imun yang lemah. Kekesalan dan cap kalau seseorang adalah “trouble maker” dari orang-orang di sekitarnya menjadi salah satu indikasi seseorang termasuk mahasiswa bahwa ia memiliki ciri menjadi wabah.

Mengidentifikasi wabah itu  mudah jika yang dimaksud adalah wabah penyakit kesehatan (fisik) tapi kalau sudah wabah penyakit sosial, ini jadi sulit. Persoalannya, cara pandang orang melihatnya sebagai “penyakit” atau “bukan penyakit” dalam ranah sosial seringkali berbeda. Misalnya saja, bagi saya pacaran adalah penyakit yang bisa mengantarkan pada kebahayaan zina, tapi bagi sebagian yang lain, pacaran adalah hal normal, bukan masalah, ini adalah kewajaran yang tidak usah dilarang. Menjadi sulit bukan? Sehingga diperlukan peran pihak lain untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Pihak ini mestilah yang memiliki pandangan ke depan dengan pembacaan akurat serta tanpa kepentingan. Dan pihak yang tepat untuk menentukan hal ini, tidak bisa makhluk karena makhluk selalu memiliki kepentingan dan keterbatasan, DIA pastinya adalah AL-KHALIQ

Jangan Salahkan Mahasiswa (saja)!

Anda adalah apa yang anda makan! Garbage in, Garbage out!. Pernyataan ini bukan hanya berlaku untuk kasus makanan yang masuk ke perut kita, tapi berlaku juga untuk makanan untuk jiwa dan makanan untuk pikiran kita. Misalnya saja, seseorang yang menderita kolesterol, bisa kita duga kuat dia banyak mengkonsumsi makanan berminyak, apa yang dia makan terlihat dari penyakit yang dia derita. Begitu pula orang yang jarang sakit ternyata (salah satunya) adalah karena dia banyak minum air putih dan memiliki kebiasaan untuk shaum.

Nah, bagaimana dengan mahasiswa yang menjadi wabah? Berarti ini menunjukkan apa yang masuk ke dalam dirinya, lingkungan dimana dia hidup, kebiasaan yang dia lakukan adalah “sampah” alias “kotoran”. Darimana dia dapatkan sampah itu? Di rumahkah? Di ruang kelaskah? mungkin… Tapi ternyata ada sekolah yang lebih besar dimana kita semua belajar bahkan dengan cepat menjadi berpengalaman yaitu masyarakat dan Negara.

Artinya kualitas mahasiswa adalah potret dari kualitas sistem pendidikan sekaligus kualitas system social dan negara. Benar sistem pendidikan adalah pilar peradaban dan sistem pendidikan akan mampu melahirkan generasi berkualitas, namun kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah sekolah besar bagi siapapun, sehingga tidak boleh hanya berhenti pada sistem pendidikan. Sistem Pendidikan pun tidak bisa dilepaskan dari aturan perundang-undangan yang lahir dari sistem politik dan kualitasnya  tidak akan pernah terlepas dari kemampuan pembiayaan pendidikan yang bergantung dengan sistem ekonomi

Nilai-nilai pendidikan yang akan ditransfer melalui sekolah kepada generasi idealnya juga dikristalisasi  oleh kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bukan malah sebaliknya, faktanya justru kehidupan bermasyarakat dan bernegaralah yang justru menghancurkan generasi ketika generasi itu mulai memasuki kehidupan politik di partai politik atau bekerja di lembaga-lembaga perekonomian, atau berbagai sektor lain. Kenapa? karena ternyata nilai-nilai dan sistem yang membangun supra sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara itu berasal dari peradaban yang rendah, yaitu ideology Kapitalisme yang pragmatis. (Zidny Sa’adah, Konferensi Intelektual Muslimah untuk Bangsa, Mei 2012)

Artinya kita adalah “korban”, mahasiswa juga adalah korban, korban dari kedzaliman system kapitalis yang menghambakan kepuasan materi. Dalam aturan seperti ini,  standar benar-salahnya adalah nisbi dan sering kali bertolak belakang.  ibarat melihat air sungai yang kotor, bau, menjijikan tapi di pandang indah, harum dan hebat.

Gerakan Imunisasi Kesadaran Mahasiswa !

Pernah suatu saat seorang pemuda datang kepada Rasulullaah SAW., ada maksud yang ingin disampaikan sang pemuda. Pemuda ini ingin meminta izin kepada Rasulullaah SAW. Izin yang membuat para sahabat yang saat itu bersama Rasulullah saat itu, wajahnya menjadi merah padam karena marah. “Izinkan aku berzina Ya Rasulllalah” Pinta sang pemuda kepada Rasulullaah SAW. Tentu kita jadi mengerti kenapa para sahabat yang mulia menjadi marah. Tapi sungguh indah, sikap yang ditunjukkan Rasulullah SAW.  Rasulullah SAW berkata: “Dekatkan pemuda tersebut kepadaku”. Kemudian terjadilah dialog antara Rasulullaah dengan sang pemuda.

Kisah dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Thabrani ini kemudian menggambarkan dialog tersebut.  Setelah jarak antara beliau dengan pemuda tersebut dekat, Rasulullah SAW berkata: “apakah kamu suka jika hal itu –zina- menimpa pada ibumu?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu” Beliau menambahkan lagi: “Dan orang-orangpun tidak suka bila hal itu menimpa ibu mereka”. Beliau bertanya lagi, “Dan apakah kamu suka jika hal itu menimpa putrimu?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu” Beliau menambahkan lagi: “Dan orang-
orangpun tidak suka bila hal itu menimpa putri-putri mereka”.
Beliau bertanya lagi, “Dan apakah kamu suka jika hal itu menimpa saudari ayahmu?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu” Beliau menambahkan lagi: “Dan orang-orangpun tidak suka bila hal itu menimpa saudari-saudari ayah mereka”. Beliau bertanya lagi, “Dan apakah kamu suka jika hal itu menimpa saudari ibumu?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu” Beliau menambahkan lagi: “Dan orang-orangpun tidak suka bila hal itu menimpa saudari-saudari ibu mereka”. Beliau kemudian menempatkan tangan beliau di atas kepala pemuda tersebut dengan berdoa “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya”. Sesudah itu sang pemuda tidak pernah berpaling kepada hal yang keji.

Subhanalllah, Rasulullah SAW memang layak menjadi teladan kita. Uswatun hasanah dalam segala aspek kehidupan. Dialog yang terjadi antara Rasulullah SAW dengan sang pemuda menunjukkan proses membangun kesadaran yang Rasululllah lakukan, kesadaran akan standar suatu hal disukai atau tidak disukai, kesadaran akan standar apakah suatu hal baik atau buruk. Penjelasan beliau menyentuh rasionalitas sang pemuda serta pada saat bersamaan menggugah perasaaannya.

Inilah yang sama-sama harus kita lakukan, melakukan gerakan menggugah kesadaran mahasiswa, tentang setiap konsekuensi dari perbuatannya. Inilah yang seharusnya digencarkan, memberi penjelasan dan contoh yang tak bisa dielakkan tentang bahayanya penghambaan terhadap kehendak hawa nafsu, yang dalam bahasa sekarang dikemas dalam istilah hedonism dan permisivisme. Kesadaran inilah yang akan menjadi imun bagi mahasiswa agar tak menjadi wabah dan justru menjadi  lebah. Dan dengan potensi intelektualitasnya, mahasiswa memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi lebah. Tidak terseret arus sekulerisme-kapitalisme-hedonisme maupun permisivisme juga semua turunannya dan hebatnya lagi,  mahasiswa justru bergerak-berjuang mengganti kerusakan system ini dengan system yang datang dari yang Maha Benar yaitu Sistem Islam.

Terakhir, mari perhatikan hadits berikut ini:

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)

Dan juga Pesan Imam Al-Ghazali:

“Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.”

Wallahu A’lam bisShawab.

*Penulis Adalah Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas