Terkini

Janet Steele: Jurnalisme itu Labour of Love

[suakaonline]-Ada yang berbeda dari diskusi rutin Komunitas Anak Tangga kemarin, Rabu (17/10). Selain kedatangan seorang dosen jurusan Jurnalistik UIN SGD Bandung Budi Subagjo, hadir pula seorang tamu istimewa yaitu seorang guru besar jurnalisme sastrawi dari George Washington University, Janet Steele. Wanita ramah yang fasih berbahasa Indonesia ini membagi ceritanya tentang perkembangan dunia jurnalistik Indonesia.

Bertempat di sebuah Café di Jl. Hassanudin Bandung, Janet bersama Komunitas Anak Tangga berdiskusi tentang ilmu Jurnalistik dan juga tentang kepentingannya datang ke Indonesia. Setelah menulis buku berjudul Wars Within: A Story of Tempo: An Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia pada tahun 2005, Janet rupanya tertarik kepada nilai-nilai jurnalisme dan ajaran Islam. Maka, akhirnya ia memutuskan untuk melakukan penelitian di Indonesia.

Ketika berdiskusi, Janet berulang-ulang menekankan bahwa pers haruslah independen dengan tidak berada di bawah payung pemerintahan. Ketika sebuah pertanyaan tentang pers yang bebas dan bertanggung jawab terlontar dari salah satu anggota diskusi, Janet mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan istilah bebas yang selama ini sering digunakan. “Well, sebenarnya saya jarang berbicara tentang kebebasan. Saya lebih suka berbicara tentang pers yang independen. Sebagai negara yang demokratis, kata yang lebih cocok tentunya pers yang independen. Independen dari pemerintah. Tapi rupanya, media belum bisa independen dengan pemilik modal. Maka kualitas independen ini yang penting,” katanya dengan serius.

Janet sangat tertarik dengan majalah Tempo. Ia banyak bercerita tentang pengalamannya saat meneliti Tempo khususnya saat dibredel oleh Rezim Soeharto. Dengan segala rintangannya, termasuk kendala bahasa, Janet membutuhkan waktu selama 7 tahun sampai akhirnya ia bisa menulis buku Wars Within: A Story of Tempo: An Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia.

Bekerja Dengan Cinta

Setelah selama kurang lebih selama 1 jam berdiskusi mengenai pers Indonesia dan penelitiannya di Tempo, Janet menyatakan bahwa jurnalisme itu labour of love atau bekerja dengan cinta.

Budi Subagjo menanggapi pernyataan Janet tentang  labour of love ini. “Jurnalis adalah profesi yang mulia. Dan saya mengaku bahwa saya tidak mempunyai banyak keberanian untuk menjadi jurnalis. Jurnalis itu gajinya kecil, kecuali media seperti Kompas, pekerjaannya berat. Tapi, ada janji ukhrawi kalau berhasil membuat perubahan sosial. Biar Allah yang menggantinya,” katanya. Pernyataan tersebut  disetujui dan ditanggapi dengan antusias oleh Janet.

Kedatangan Janet ke tengah-tengah Komunitas Anak Tangga ini adalah berkat link dari Indra Nugraha sebagai pendiri sekaligus Pembina. Berawal dari bertemunya Indra dengan Janet pada bulan Mei lalu saat mengikuti pelatihan dari Yayasan Pantau, Janet dan Indra makin intens berkomunikasi perihal penelitiannya tentang jurnalisme dan Islam, khususnya bagian jurusan jurnalistik dibawah Fakultas Dakwah.

Indra berpesan agar mahasiswa Jurnalistik harus membangun banyak relasi. “UIN (Mahasiswa Jurnalistik) jangan hanya terkungkung di dalam. Kita harus banyak berjejaring dengan banyak pihak. Dalam maupun luar negeri. Sehingga, setelah lulus punya banyak akses dan nggak mandek. Ayolah, mulai berjejaring dari sekarang. Di Indonesia banyak kok tokoh-tokoh jurnalistik,” pungkasnya.[]Alin Imani/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas