Kampusiana

Pengkhianatan, dibalik Kursi Rektor UIN Bandung

Langit tampak sayu, seakan malu untuk menjadi biru. Begitu juga mentari yang masih enggan mengerlingkan sinarnya. Semua orang kembali menjalankan aktifitasnya setelah tiga hari dimanjakan dengan hari libur dan cuti bersama. Tak terkecuali dengan Endin Nasrudin dan Moh Najib. Dua nama yang akhir-akhir ini kerap disebut-sebut di beberapa surat kabar lokal, yang juga merupakan kandidat bakal calon rektor UIN Bandung tampak duduk bercengkrama di salah satu restoran di kawasan jalan Soekarno-Hatta Bandung.

Mereka tampak telah siap menjalani hari-hari tanpa jabatan Pembantu Rektor UIN Bandung, setelah pengajuan surat pengunduran diri keduanya sampai di meja Rektor sehari setelah acara pemilihan calon rektor 3 Mei lalu.

Saat SUAKA menanyakan perihal alasan pengunduran diri mereka, Endin dan Najib tampak menyunggingkan senyum sindiran. Rabu siang itu suasana masih mendung ketika Endin memaparkan alasan pengunduran dirinya. “Saya dan pak Najib sudah mengajukan surat pengunduran diri ke pak Nanat, untuk alasannya sendiri bisa dilihat di surat pernyataan pengunduran diri  saya bersama pak Najib,” ungkap Endin sambil sesekali terkekeh-kekeh.

Dalam surat pernyataan pengunduran diri dan permohonan pemberhentian yang ditujukan kepada Rektor UIN Bandung, Presiden Republik Indonesia, Menteri Agama Republik Indonesia, dan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara, tertulis alasan pengunduran diri Endin Nasrudin dan Moh Najib, yaitu suasana batin dalam hubungan kerja yang sudah tidak kondusif. Endin yang kini juga menjabat sebagai Ketua STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Sukabumi menambahkan, bahwa  alasan lain ia dan Moh Najib mengundurkan diri adalah mengenai komitmen yang perlu dipertimbangkan oleh  para pimpinan yang seharusnya saling menghormati.

Pemilihan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah dilaksanakan tiga minggu yang lalu, lantas menyisakan sejumput cerita. Hasil pemilihan menetapkan tiga nama dengan suara tertinggi yaitu Deddy Ismatullah dengan 22 suara, Asep Saepul Muhtadi 12 suara, dan Agus Salim Manshur dengan 11 suara. Seperti yang tertera di dalam statuta (anggaran dasar), ketiga nama tersebut akan diusulkan oleh senat ke Kementrian Agama Jakarta. Setelah diproses di Kementrian Agama maka akan ditentukan  melalui keputusan Menteri, siapa yang diangkat menjadi Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 2011-2015.

Ditengah tenggang waktu enam bulan menunggu keputusan Kementrian Agama atas Rektor terpilih, kedua bakal calon Rektor yang kalah dalam pemilihan Rektor yaitu, Endin Nasrudin (Pembantu Rektor III/red.) dan Moh. Najib (Pembantu Rektor IV/red.) mengaku telah mengajukan surat pengunduran diri dari Jabatan Pembantu Rektor kepada Nanat Fatah Natsir yang masih menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Pengunduran diri yang dilakukan oleh Endin Nasrudin dan Moh Najib mulai diikuti oleh calon Rektor lain yang kalah dalam pemilihan, yaitu Nurol Aen. Dalam kepemimpinan Nanat, ia menjabat sebagai Pembantu Rektor I. Hal tersebut pun dibenarkan oleh Endin Nasrudin, “Pak Aen juga akan mundur dari jabatannya sebagai Pembantu Rektor, soal surat resminya, kalau pak Aen sendiri kayaknya masih dalam proses,” ujarnya.

Menyinggung soal pemilihan calon rektor UIN 3 Mei lalu, Endin mengatakan bahwa semuanya berjalan dengan baik dan demokratis. “Pemilihan rektor itu sudah final, dan itu sangat demokratis,” katanya, meski dengan nada sindiran dan diselipi gelak tawa. “Pemilihan rektor itu demokratis karena dipilih oleh senat, senat sendiri kan terdiri dari guru besar, mereka sudah seperti malaikat, nggak bisa dipermainkan apa-apa,” tambah Endin.

Menanggapi surat pengunduran diri Najib dan Endin, Sardiman selaku Sekretaris Pribadi (Sekpri) Nanat Fatah Natsir, menyayangkan pengunduran diri tersebut. “Pak Nanat menginginkan mereka bisa menghadap rektor dahulu dan membicarakannya lebih lanjut, toh masa jabatan mereka belum selesai,” ujarnya.

Diakui Sardiman, sampai saat ini Endin maupun Najib belum menghadap Rektor sejak pemilihan calon rektor usai. “Surat pengunduran diri itu, tiba-tiba saja ada di meja pak Nanat, saya gak tahu apa-apa mengenai surat itu. Sampai saat ini pun, surat pengunduran diri tersebut belum disahkan kok oleh pak Nanat,” katanya.

Sedikit berbeda dengan Sardiman, Hendi Suhendi Dekan Fakultas Syariah dan Hukum berpendapat lain. Ia mengaku belum mengetahui perihal pengunduran diri dua pejabat kampus tersebut. “Secara administratif mereka belum mengundurkan diri, Cuma nggak ngantor aja. Di SKnya kan juga mereka masih menjabat sampai akhir masa jabatan,” katanya. Makanya ia berkesimpulan tidak ada kekosongan pemerintahan.

“Manajemen Tukang Cukur”, begitulah istilah yang disebut oleh Endin atas kepeminpinan Nanat saat ditanya SUAKA mengenai segala kegiatan yang berkaitan dengan tugas pembantu Rektor setelah pengunduran diri keduanya. Menurutnya, semua tanggung jawab yang berkaitan dengan PR III dan PR IV kini menjadi tanggung jawab Nanat Fatah Natsir selaku Rektor. “Kegiatan yang ada di UIN kembali pada rektor yang menangani semuanya. Itu namanya manajemen tukang cukur yang segala macam kegiatan dilakukan sendiri, karena tidak mau percaya pada orang lain. Bagi saya itu harus menjadi pembelajaran bagi pimpinan,” tegas Endin.

Meski mengaku mendukung sepenuhnya proses pemilihan Rektor, Endin dan Najib merasa dikhianati. “Penghianatan itu berasal dari para pimpinan, suara kita (Najib, Endin, Aen/red.) sepertinya digiring untuk memilih calon tertentu, bahkan saat itu (saat pemilihan rektor/red.) para anggota senat dipanggil ke ruang rektorat, saat dipanggil saya bertemu dengan anggota senat yang menjadi pemilih saya. Ia pun menjelaskan penyesalannya atas arahan (penggiringan suara) dari pimpinan  tersebut,” laki-laki kelahiran Sukabumi, Jawa Barat ini mengisahkan.

Isu Karantina Senator Pra Pemilihan Rektor

SUAKA pun mendatangi beberapa senator untuk mencari kebenaran terkait isu tersebut. Saat dikonfirmasi kepada salah satu senator, Hendi Suhendi, ia sempat menampik bahwa telah diadakan “karantina” kepada para senator. Namun begitu, Ia beranggapan bahwa hal seperti itu tidak seharusnya dipermasalahkan.

“Terpilihnya tiga nama tersebut melalui proses musyawarah, dan hasil dari musayawarah tersebut sebaiknya kita sepakati bersama,  kalau soal “karantina” saya nggak tahu jelas soal itu, kenapa itu disebut karantina, mungkin kalau ada istilahnya bukan karantina, bisa saja ngopi bareng, semuanya serba mungkin kok, itu sudah menjadi hal biasa, yang penting di sana tidak ada pemilihan,” ujar Hendi saat ditemui di ruangannya, Rabu (18/5).

Mengenai kebenaran berita tersebut Najib pun memberikan komentarnya, “Saya malam selasa tuh ada di rumah, saya hanya dengar-dengar saja, harusnya Anda yang menelusuri itu semua, ini bukan persoalan tidak tahu menahu, sebenarnya kita tahu, akan tetapi lebih baik anda mewawancarai  orang yang datang kesana, yaitu para senator, mengenai apa saja yang dibicarakan, dan apa saja kegiatan yang dilakukan, kalau kita yang ngomong jelas itu tidak etis dan bisa di cap sebagai kebohongan publik, posisi kita kan  sebagai calon. Jadi, kenapa dunia kampus sampai terjadi yang seperti begitu, kalau tidak ada yang begitu mungkin seharusnya kita juga bisa menang” kata laki-laki kelahiran Banyuwangi Jawa Timur ini.

Isu mengenai karantina tersebut akhirnya sedikit menemui titik terang, salah satu senator lain, Syahrul Anwar  menyatakan hal yang bertolak belakang dengan Hendi. Ia menegaskan bahwa pertemuan di Hotel Bali World memang benar terjadi. Hal tersebut dilakukan untuk menguatkan suara. “Pertemuan  ini bukan yang pertama, soal isu money politic itu tidak benar adanya. Pertemuan tersebut dilakukan oleh tim sukses dan pendukung untuk menyukseskan salah satu bakal calon rektor serta menyamakan visi,” ungkapnya.

Hal ini pun diperkuat dengan pengakuan sumber terpercaya SUAKA yang tidak mau disebutkan
namanya, “Pertemuan tersebut dilaksanakan tanggal 2-3 Mei, memesan 16 kamar, dan  mengatas namakan government UIN Bandung.” Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah pengunjung dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tercatat 11 orang dan 1 orang lagi memesan 4 kamar.

Agus Salim Manshur, yang menjadi salah satu dari tiga calon Rektor terpilih pun memberikan tanggapan. “Isu karantina dan adanya politik uang itu saya pernah dengar, namun mengenai kebenaran isu tersebut saya belum tahu, indikasi seperti itu mungkin saja ada, tapi perlu dibuktikan dan jangan sampai menimbulkan fitnah,  seharusnya tim mahasiswa, rival, dan kementrian agama  lah yang berhak menyelidiki adanya indikasi-indikasi tersebut,” tutur Agus.

Agus berpendapat, bahwa aspek politik di kampus akademik ini seharusnya bisa diturunkan tensinya. “Ini kan kampus akademik, seharusnya yang ada itu pendidikan politik, bukan politik pendidikan,” tambah dekan Fakultas Adab dan Humaniora ini.

Begitu pula Asep Saepul Muhtadi yang juga menjadi bagian dari 3 kandidat pemegang suara terbanyak. Saat SUAKA menghubungi via email, ia tidak mau berkomentar banyak.“Saya menerima hasil pemberian pertimbangan senat yang dilakukan secara demokratis. Ini bukan pemilihan rektor, tapi pemberian pertimbangan oleh senat untuk menentukan 3 orang calon rektor untuk diusulkan kepada Menteri Agama. Nanti menteri yang menentukan salah satu dari 3 orang yang diusulkan itu. Jadi, ketiga calon yang diusulkan memiliki peluang yang sama.”

Terlepas dari itu semua, Pemilihan Rektor sejatinya adalah refleksi tentang bagaimana seharusya pendidikan perpolitikan yang baik, agar UIN Bandung kedepannya lebih kompetitif dalam segala tingkat. Entah itu lokal, regional, nasional, politik. [] All Crew/Suaka.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas