Opini

Kunci Kemajuan Barat

Oleh: Atep Kurnia*)

Kunci kemajuan Barat berawal dari sebuah peristiwa besar. Peristiwa itu dikenal sebagai renaisans. Kata kunci tersebut mengacu kepada penemuan kembali kebudayaan Yunani dan Romawi Klasik oleh Barat, terutama Eropa Barat.

Penemuan kembali kebudayaan Yunani dan Romawi klasik tersebut bukan dalam artian harfiah, yakni menghidupkan kembali tradisi yang dulu hidup di masa klasik. Orang Barat tidak membangkitkan paganisme, melainkan menghidupkan kembali semangat orang Yunani dan Romawi klasik yang mengedepankan rasio untuk menghadapi problema hidup sehari-hari, sehingga tidak langsung merujuk kepada otoritas agama, yang diwakili kalangan agamawan dan kitab sebagai sumber otoritas pemaknaan hdup.

Dengan kata lain, kebudayaan Yunani klasik itu dijadikan sumber emansipatoris bagi lahirnya subyektivitas, kontemporaritas, kritik diri, dan kemajuan sebagai konsekuensi logis ketika subyektivitas orang ditegakkan dan masa kini dijadikan sebagai titik pijakan.

Dari perjalanan bangsa Barat menemukan kembali dirinya tersebut, sebenarnya ada yang saya kira dapat kita pelajari. Dari sana, saya pikir ada dua sikap yang menjadi kata kuncinya. Kedua kata kunci tersebut adalah sikap dialektis ketika berhadapan dengan setiap pengaruh yang menghinggapi diri, baik pengaruh dari luar diri maupun dari dalam diri.

Hal kedua adalah sikap menghargai kepada setiap karya-karya intelektual yang dihasilkan dari pergulatan dialektis mereka dengan pengaruh luar tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pelestarian karya-karya intelektual tersebut. Dalam hal yang kedua ini, tentu berkaitan dengan tumbuhnya lembaga ilmu pengetahuan yang ada dalam khazanah peradaban Barat.

Pada mulanya adalah idealisme yang mengemuka pada metafisika dalam pemikiran Sokrates dan Plato. Namun pada gilirannya idealisme tersebut ditentang oleh rasionalisme yang memusat pada logika sebagaimana yang dapat kita baca dari karya-karya Aristoteles. Filsuf murid Plato dan guru Iskandar Agung ini memang memperkenalkan metode induktif dan deduktif ketika menarik sebuah kesimpulan.

Perbenturan antar satu pendapat dengan pendapat lainnya terus berjalan demikian dalam peradaban Barat sejak para filsuf Pra-Sokrates, masa Sokrates, hingga zaman sekarang. Dari satu tesis, lahir antitesisnya, kemudian disatukan dalam sebuah sintesis. Sebuah mata rantai yang terus berjalin-kelindan hingga kita tak kunjung mendapatkan ujungnya.

Namun bila kita baca, sebenarnya inti dari dialektika Barat adalah mengedepankan keberanian untuk terus bertanya. Dalam artian selalu menyangsikan setiap pernyataan yang datang kepada kita. Atau bisa juga ketika terjadinya proses internalisasi dalam diri, dalam artian ketika pikiran kita memikirkan sesuatu, seharusnya dibiarkan bahkan harus dipupuk. Dengan syarat tetap memenuhi rambu-rambu pemikiran yang didedahkan dalam logika.

Hal kedua adalah kontinuitas lembaga keilmuan yang ada dalam khazanah peradaban Barat. Dalam artian, proses pewarisan keilmuan dari generasi ke generasi yang bersandarkan pada dialektika tetap berlangsung meskipun dalam perjalanan sejarahnya dapat berubah bentuk. Pada batas tertentu, justru perubahan bentuk lembaga keilmuan di Barat dapat dibaca sebagai representasi dari dialektika yang menjadi jantung pemikiran intelektual Barat.

Dari The Reinventing Knowledge (2008) karya Ian F. McNeelly bersama Lisa Wolverton, yang edisi Indonesianya menjadi Para Penjaga Ilmu: dari Alexandria sampai Internet (2010), kita tahu ada enam bentuk lembaga keilmuan sepanjang peradaban Barat, hingga kini. Mulai Perpustakaan Alexandria yang menyimpan buku klasik; Republik Surat untuk menyebarkan ilmu pengetahuan tanpa sensor dari otoritas gereja sebagaimana yang dilakoni oleh Galileo Galilei, Coperninus; laboratorium ilmiah yang menerakan positivisme; Universitas; hingga dunia maya yang kini tengah digandrungi oleh orang seantero jagat.

Meskipun harus dicatat pula, dalam perjalanan menuju ke arah kemajuan intelektual itu, menuju kepada kepada penemuan kembali dirinya melalui renaisans ternyata orang Barat berhutang budi pada dunia Timur (baca: Islam). Tanpa terjemahan atas dunia Yunani Klasik yang dilakukan para intelektual muslim di abad pertengahan dapat dikatakan Barat tidak akan maju. Karena bisa jadi tanpa tradisi terjemahan kaum muslim, Barat tidak akan sempat lagi membaca karya-karya klasik dari dunia Yunani.

Satu lagi yang patut dicatat. Meskipun pada akhirnya peradaban Barat menjulang, ternyata masih menyisakan bolong-bolong, seperti yang ditunjukkan para pengeritik modernitas, seperti Nietzche, aliran Frankfurt, dan posmodern. Kritik itu berkaitan dengan modernitas yang terlalu mengedepankan “akal instrumental”, “oposisi biner”, sehingga terjadi “kecelakan sejarah” yang memuncak pada Perang Dunia I dan II yang mengorbankan manusia sekian juta.

Dalam artian, ketika modernitas jadi pegangan yang terjadi adalah eksploitasi manusia oleh manusia lainnya, juga eksploitasi atas lingkungan. Karena modernitas Barat memang menempatkan manusia lain termasuk alam sebagai “obyek” bagi diri mereka. Sedangkan para pengeritik modernitas, dengan tidak melepaskan nilai-nilai modernitas, mereka mengedepankan ironi akan nilai-nilai modernitas itu. Sehingga formulanya menjadi modern plus ironi.

Tapi dalam konteks kita di Indonesia, masih jauh untuk mengejar nilai-nilai modernitas plus nilai-nilai posmodernitas itu. Karena untuk mengarah ke arah sana kita masih belepotan dengan urusan “modernitas yang belum usai”. Karena pendidikan yang tidak merata. Karena dunia pendidikan kita tidak menghasilkan manusia Indonesia yang sadar diri dan kritis, plus mengedepankan nurani. Tanpa menjadikan orang lain sebagai obyek. Tanpa menjadikan alam sebagai obyek yang dapat dan harus dieksplotasi.

Oleh karena itu, dari sisi ini, sepanjang lembaga keilmuan belum mentradisi di Indonesia, dalam artian tidak tersebar luas ke masyarakat dan memampukan mereka mempunyai kesadaran diri, kritisisme dan sadar waktu, jangan harap Indonesia bisa maju.

Sebaliknya kini, yang paling terasa di kita, kemajuan itu hanya milik beberapa golongan tertentu, yang mampu “membeli” pendidikan. Dalam artian kini, yang dapat membayar biaya pendidikan. Yang dapat membeli buku. Yang dapat masuk ke Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), Sekolah Berstandar Internasional (SBI), dan Perguruan Tinggi Negeri-Badan Hukum Milik Negara (PTN-BHMN). Itulah mereka yang dapat mengakses sejumlah lembaga keilmuan sebagaimana yang diterakan Ian McNelly dalam bukunya.

Karena pada akhirnya, di Indonesia hari ini, soal biaya pendidikan tentu berkaitan erat dengan uang lebih, yang jarang mengisi dompet kebanyakan penduduk negeri ini. Oleh karena itu pula, masih jauh jalan yang harus ditempuh oleh rata-rata penduduk negeri ini untuk menjadi “para penjaga ilmu” sebagaimana judul terjemahan buku Ian McNeely dan Lisa Wolverton di atas.

*) Penulis, peneliti literasi di Pusat Studi Sunda (PSS)

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas