Opini

Film Horor atau Film Porno

Ketika ada film yang judulnya diambil dari salah satu nama setan atau makhluk halus lainnya seperti pocong, kuntilanak, genderewo, beserta teman-teman mereka, maka yang ada dalam benak kita bukan lagi perasaan takut atau seram. Namun, fikiran kita justru akan terbayangkan adegan-adegan panas yang diperankan si tokoh. Betapa tidak, film horor di Indonesia kini telah menjelma menjadi film porno yang dibioskopkan.

Banyak sekali penyebab kenapa beberapa perfilman di Indonesia lebih mengedepankan adegan-adegan porno sebagai daya tarik. Salah satunya adalah animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap film-film tersebut. Para pembuat film bahkan tak tanggung-tanggung dalam menjalankan aksinya. Mereka menampilkan wajah-wajah bule yang ber-notabene sebagai pemain porno di tempat asal mereka.

Terra Patrick adalah salah satu nama yang telah hadir dan ikut andil menjadi pemeran dalam film “Rintihan Kuntilanak Perawan”. Tak ayal, akting demi akting tak senonoh ia mainkan secara lihai.

Selain bule, banyak juga artis-artis bokep jepang yang terjun langsung menjadi pemeran dalam beberapa film di Indonesia, seperti Maria Ozawa, Sora Aoi, dan Rin Sakuragi. Tentu saja itu akan semakin mengiang-ngiangkan pikirian para penikmat film-film yang berbau sex.

Seakan tak mau kalah, beberapa artis Indonesia pun kini begitu akrab dengan peran-peran binal. Demi mentotalitaskan perannya, tak jarang mereka rela menjual bagian-bagian tubuh yang seharusnya hanya bisa dinikmati oleh pasangan nikah yang sah.

Sejatinya, film horor sangat bisa dikatakan sebagai film yang kurang mendidik. Setting dan alur yang disuguhkan justru semakin membuat penikmatnya bodoh. Mereka akan berhalusinasi dan membayangkan hal-hal yang tak semestinya dipikirkan terlalu mendalam. Apalagi, film-film horror zaman sekarang sangat jauh dari kata “masuk akal”. Film tersebut kemudian diracik dan dibungkus sedemikian rupa sehingga masyarakat berbondong-bondong untuk menikmatinya.

Para pembuat film di Indonesia nampaknya terlalu takut bila filmnya tak laku di pasaran. Sayangnya, adegan yang sarat akan sex justru menjadi solusi dan pertimbangan.

Ini adalah PR bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan film. Mereka sudah seharusnya berhati-hati dalam menyuguhkan adegan-adegan yang layak dan tidak layak. Bukan tidak mungkin, Undang-undang pornografi dan pornoaksi di Indonesia akan diamandemen hanya karena segelintir orang yang terlalu bernafsu akan film-film ini.

Masyarakat Indonesia juga harus lebih bijak dalam memilih film-film yang dipasarkan. Bukan hanya kesenangan sejenak yang melulu wajib disimak. Tapi, yang paling penting adalah bagaimana dan apa hikmah yang bisa diraih.

Tugas berat yang harus diemban dalam rangka uji kelayakan juga sudah semestinya diteliti benar oleh LSF (Lembaga Sensor Film). Mereka, pihak-pihak yang akan menentukan adegan-adegan mana yang tidak seharusnya ditayangkan. Pastinya, kita tidak mau dibodohi dengan film-film yang hanya mengandalkan sex sebagai daya jual.

Zaenal Mustopa. Penulis adalah mahasiswa BSI UIN Bandung, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa SUAKA

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas