Opini

Lalai Akan Watu, Rugilah Dia

Manusia pada dasarnya berada dalam kerugian. Siapakah ia? Lantas, mengapa? “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. al ‘Asr: 2-3)

Demikianlah ungkapan Allah SWT tentang pentingnya menggunakan waktu yang tercantum dalam kitab suci al Qur-an. Waktu ibarat pisau. Jika pisau digunakan untuk memotong tomat, maka tomat itu dapat dimakan dengan lezat, namun jika pisau itu digunakan untuk membunuh, maka pisau dapat mengantarkannya masuk ke penjara.

Orang yang rugi di antaranya. Pertama, orang yang tidak beriman kepada Allah SWT. Orang yang tidak beriman kepada Allah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi. Sebab amalnya tidak diniatkan untuk Allah. Amalnya tidak didasari pada keimanan pada-Nya. Maka amal yang telah ia lakukan tersebut hanyalah sia-sia dan tak bernilai. Begitupun dengan waktu. Jika waktu digunakan untuk beriman dan menjalankan perintah Allah SWT, maka waktu dapat mengantarkannya pada golongan orang-orang yang beruntung. Namun, apabila waktu digunakan untuk maksiat dan tidak mengimani Allah SWT sebagai Tuhan Semesta Alam, maka ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

Kedua, orang-orang yang tidak mengerjakan amal saleh. Orang yang mengerjakan amal saleh berarti melakukan segala sesuatu dengan niat karena Allah (Lillahita’ala), sehingga apabila apa yang diinginkan tidak mampu didapat, hatinya pun menerima dengan ikhlas. Tidak kecewa berlebihan dan tidak menyalahkan dirinya sendiri. Selanjutnya, melakukan amal saleh berarti melakukan hal yang  berguna bagi lingkungan sekitar khususnya dan masyarakat luas umumnya sesuai dengan kemampuan. Membantu yang lemah dan sedang kesusahan. Tidak berpangku tangan ketika ada yang membutuhkan bantuan baik secara materi maupun moril.

Orang-orang yang tidak mau melakukan amal saleh termasuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi, karena ia tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk berbuat baik dan mendapatkan pahala berlimpah. Akhirnya, ia bukan hanya merugi tapi juga ia termasuk orang yang bodoh. Ia tidak mengerti akan pahala yang melimpah dan berlipat ganda. Sebagaimana firman-Nya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir (berisi) seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. al Baqoroh: 261)

Ketiga, orang yang tidak mau saling bernasehat dalam kebaikan. Orang yang tidak mau saling bernasehat dalam kebaikan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi. Sebab hilanglah kesempatan baginya untuk berdakwah dan mengembangkan bendera Islam. Allah SWT berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. an-Nahl: 125).

Selain itu, orang yang tidak mau bernasehat berarti ia termasuk orang yang sombong. Merasa dirinya tidak membutuhkan nasehat orang lain. Merasa ilmunya sudah cukup dan tidak membutuhkan ilmu dari orang lain. Sedangkan Allah SWT tidak senang pada orang-orang yang berbuat sombong.  Sebab orang-orang yang sombong adalah sahabat iblis yang terkutuk, sebagimana Allah melarang iblis masuk dan menikmati syurga-Nya.

Karenanya, waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Sebab jika waktu telah pergi dan menjadi masa lalu, bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Kita harus menjaga hari ini dan hari-hari  yang  akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam. Masa lalu harus digunakan sebagai cermin manusia menuju kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Begitu pula bagi bangsa Indonesia. Indonesia, yang konon memiliki banyak sejarah harusnya mampu menjadi salah satu negara yang makmur dan damai. Menjadi contoh kejayaan bagi bangsa-bangsa lain. Karena selain Indonesia memiliki banyak sejarah, Indonesia pun memiliki warga negara yang cukup banyak. Seandainya seluruh orang di negeri ini memanfaatkan waktu dengan benar. Melakukan apa saja yang bisa ia lakukan guna memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain, maka Indonesia tidak akan memiliki pengemis. Indonesia tidak akan memiliki pengangguran. Indonesia tidak memiliki koruptor dsb.

Kerugian manusia lah bagi mereka yang tidak mengambil pelajaran dari masa lalu. Kerugian manusia lah bagi mereka yang tidak mau beriman. Kerugian manusia lah bagi mereka yang tidak melakukan amal saleh. Kerugian manusia lah bagi mereka yang tidak mau saling bernasehat. Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Amiin.

Sri Lina Qomariyah. Penulis adalah mahasiswa UIN Bandung, jurusan Bahasa Sastra Arab semester 8

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas