Aspirasi

Menjaga Kampus Islam Dengan Islam

Indira Sabet

Dok. Internet

Oleh: Indira S. Rahmawaty*

“If you want to destroy any nation without war,

make adultery or nudity common in young generation”

(Shalahuddin Al-Ayubi, Pahlawan Islam Pembebas Yerussalem)

Kasus “Ayam Kampus” di Kampus Islam: Sebuah Alarm Masalah yang Makin Menggunung

Jika kau ingin menghancurkan negara manapun tanpa perang,

buatlah perzinahan dan ketelanjangan

menjadi hal yang umum di kalangan generasi muda

 

Merinding perasaan saya ketika membaca pernyataan Shalahuddin al-Ayubi di atas dan mengkaitkannya dengan kondisi hari ini. Terlebih ketika di awal Pebruari 2015 kemarin mendengar berita bahwa ada kasus seorang mahasiswi kampus Islam negeri di Bandung yang menjadi “ayam kampus”. Kasus ini terungkap ketika foto-foto tanpa busananya dipajang di facebook. Kasus ini sebenarnya seperti “alarm” tentang rusaknya moral sebagian mahasiswa-mahasiswi di kampus secara umum. Kasus ini juga sebenarnya bukan kasus yang baru, menjadi menarik perhatian karena beritanya ramai di angkat oleh media. Bagi saya yang hidup sejak kecil di lingkungan masyarakat dengan banyak kost-kostan mahasiswa-mahasiswi, pergeseran demi pergeseran ke arah yang buruk makin saya rasakan. Keberadaan mahasiswa yang seharusnya membawa hal positif kini meninggalkan kekhawatiran yang selalu melekat tentang kemungkinan perilaku buruk yang mereka bisa lakukan. Mahasiswa-mahasiswi yang memiliki pribadi yang baik dan prestatif masih banyak saya temukan, tapi kasus demi kasus selalu saja sampai ke telinga saya, terutama kasus tentang pergaulan bebas mahasiswa-mahasiswi.

Padahal Wa bilkhusus, untuk sebuah kampus berlabel Islam, ada pengharapan lebih agar institusi ini menjadi pemberi “cahaya” penerang dan petunjuk pada kema’rufan. Orang-orang di dalamnya menjadi teladan akhlaq islami yang santun, terhormat nan menentramkan.

Baca juga:  Restoran Anjing, Sarana Otokritik Mahasiswa

Namun apa daya, nama besar “Islam” yang disandang memang harus berhadapan dengan arus kuat sekulerisme-liberalisme, godaan kesenangan dan gaya hidup hedonis kuasa untuk menerjang nilai-nilai moral yang harusnya tertanam kuat dalam mahasiswa-mahasiswi muslim di kampus dan masyarakat secara umum. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan dengan angka pergaulan bebas di negeri ini yang tak mau beranjak turun. Bahkan dalam sebuah tayangan televisi nasional, Indonesia dinyatakan sebagai menjadi negeri darurat pornografi juga darurat pelecehan seksual. Sebuah data yang dikeluarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atau Badan Koordinasi Keluarga Berencana Indonesia (BKKBN) juga menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda.

Salah seorang dosen universitas negeri ternama di Bandung membandingkan kondisi pergaulan remaja dari respon mereka terhadap valentine’s day. Menurutnya, tahun 1990-an para remaja tidak antusias bahkan tidak terlalu tertarik dengan valentine’s day tapi hari ini dinas pendidikan sampai harus mengeluarkan surat edaran kepada sekolah-sekolah agar para siswa-siswinya tidak merayakan valentine’s day. Hal ini tentu saja menjadi satu indikasi kuat bahwa cara pandang dan gaya hidup bebas telah menjadi bagian yang diadopsi oleh generasi muda kita, tak terkecuali mahasiswa.

Mengapa Ini Terjadi? Tak Ada Asap Kalau Tidak Ada Api!

Tentu kita dan siapapun yang peduli dengan nasib bangsa ini, tidak ingin bangsa ini berjalan menuju kehancuran. Walaupun dalam pandangan saya bangsa ini nyaris hancur andaikan tidak ada do’a-do’a tulus dan perilaku taat dari sebagian kecil orang. Kehancuran yang dalam pandangan Sang Pembebas Palestina diindikasikan dengan perilaku perzinahan dan membuka aurat yang umum terjadi di kalangan muda.

Tidak akan ada asap jika tidak ada api yang membakar! Ya, memang ada banyak versi tentang munculnya masalah ayam kampus ini, bercampur antara motif ekonomi, motif sosial juga motif psikologis. Kebutuhan hidup, gaya hidup, trauma masa lalu ditambah jalan masuk ke dunia itu yang terbuka, semuanya menjadi satu, bermuara pada keputusan menjajakan diri. Hal ini menunjukkan ada banyak faktor yang memicunya, setiap faktor saling berkaitan dan bermuara pada faktor terkuat yang menjadi landasan munculnya berbagai masalah yaitu tatanan kehidupan sekuler-kapitalis-liberal.

Baca juga:  Menunggu Hasil Keputusan Penyesuaian UKT 2019

Tatanan inilah yang menjadikan sistem pendidkan menjadi pragmatis dan berorientasi pasar, sistem sosial yang permisif penuh tindakan hedonis, sistem ekonomi neo liberal yang tidak mengenal halal-haram, mencabut subsidi dan memprivatisasi kekayaan alam milik rakyat, sistem media informasi yang menjajakan nilai konsumerisme, materialisme dengan pornografi-pornoaksi sebagai penariknya, sistem hukum yang melegalkan banyak keharaman dan masih seperti pisau yang tumpul ke atas tapi tajam ke bawah dan yang pasti sistem ini menjadikan nilai-nilai spiritual-transedental lebih rendah daripada nilai-nilai meterialisme-kemanfaatan.

Dalam sistem seperti yang kita terapkan hari ini, rasa takut kepada Alloh kalah dengan godaan uang dan kesenangan. Pertanyaannnya, apakah kita akan mempertahankan sistem rusak seperti ini ataukah melakukan upaya menegakkan sistem kehidupan baru yang akan membawa keberkahan dan memberi penjagaan dari kerusakan?

SebelumnyaSelanjutnya

9 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas