Terkini

Bincang-bincang Tiga Cerpenis di Komunitas Rumput

Proses kreatif menulis tidak bisa hanya sekadar mengandalkan teori. Seorang penulis, terutama yang baru belajar, memerlukan ruang apresiasi di mana karya-karya mereka tak hanya menjadi konsumsi pribadi, namun juga layak dibaca publik. Di samping memberikan stimulus agar mereka yang ingin belajar menulis semakin termotivasi, ruang apresiasi juga diperlukan demi melatih mental seorang penulis mempertanggungjawabkan karya mereka di hadapan publik.

Oleh karenanya demi menjembatani hal tersebut, Kelas Menulis Komunitas Rumput mengadakan kegiatan Bincang-bincang Cerpen Tiga Cerpenis pada Rabu sore (25/5) di Taman Kampus UIN Sunang Gunung Djati Bandung. Mereka yang dibahas cerpennya adalah Khairunnisa Mawar Biduri (mahasiswi Jurusan Sains Biologi yang juga Ketua Komunitas Rumput), Maulida Althafunnisa (mahasiswi Jurusan Sains Biologi), dan Vivid Fitria (mahasiswi Jurusan Bahasa Sastra Inggris).

Pada kesempatan sore itu, tiga cerpen yang dibahas adalah hasil dari proses belajar tiga cerpenis selama mengikuti kegiatan kelas menulis di Komunitas Rumput. Setelah menjalani proses pembelajaran berupa teknik-teknik dasar, diskusi, dan pemberian stimulus-stimulus, pada akhirnya mereka yang belajar dalam kelas menulis harus berani menampilkan karya mereka ke hadapan publik.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi proses pembelajaran bagi anggota Rumput agar terbiasa dengan pandangan-pandangan yang lebih terbuka,” ujar Restu A Putra, selaku pegiat Kelas Menulis Komunitas Rumput.

Banyak gesekan-gesekan dan kritikan yang diberikan dalam Bincang-bincang Cerpen Rabu sore kemarin. Di antaranya pada cerpen berjudul “Penghuni Neraka” karya Mawar. Cerpen yang mengangkat tema sosial-religi dalam alur ceritanya itu mendapat respon hangat dari Irvan Nugraha, salah seorang pegiat Komunitas Rumput juga. Menurutnya, banyak yang harus dieksplor lagi dari segi isi, agar cerpen tersebut tidak terkesan terburu-buru dalam menyelesaikannya.

Namun di sisi lain, di samping kritikan, cerpen “Penghuni Neraka” tersebut juga mendapat pujian pada beberapa idiom yang puitis dari Galah Denawa dari Komunitas Sanggar Sastra Kampus (Sasaka). “Di antara ketiga cerpen yang dibahas sore ini, terus terang saya lebih suka cerpen Penghuni Neraka,” ujar Galah.

Kritikan lebih membangun juga disampaikan Redaktur Majalah Cupumanik, Atep Kurnia, pada ketiga cerpen. Di antaranya pada cerpen Penghuni Neraka yang disarankan agar ada kesinkronan antara isi dan judul. Begitu juga pada cerpen Maulida Althafunnisa yang berjudul “Uang Terakhir” dan Vivid Fitria yang judul cerpennya “Kerudung”.  “Cerpen Kerudung ini sudah bagus, namun pengarang tampak terlalu cepat mengakhiri cerita seperti pada karakter ayah yang cepat berubah pendirian,” papar Atep Kurnia saat memberi masukan.

Adapun dalam cerpen “Uang Terakhir” lebih banyak mendapat tanggapan dari para apresiator mengenai kekurangannya dalam riset. Sehingga cerita yang dibangun masih terasa kurang dalam dan mengena.

Diskusi sore itu berlangsung hangat dengan banyak tanggapan kritis dari para apresiator. Selain dari anggota Komunitas Rumput, diskusi ini juga dihadiri oleh pegiat-pegiat sastra dari komunitas-komunitas sastra independen seperti Penyair Pungkit Wijaya dari komunitas Sanggar Sastra Kampus (Sasaka), Herton Maidi Pemred Jurnal Sasaka dan juga Miftahul Khoer, pegiat sastra dari Komunitas Kabel Data. [] RAP/Kontributor

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas