Kampusiana

Para Pendekar di Komunitas Ilegal

Komunitas Ilegal adalah sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi yang tidak tahu diri. Maksudnya, tidak tahu diri bahwa kami itu hebat. Ya, semacam bakat terpendam yang kurang diperhatikan oleh pemiliknya sendiri. Namun tanpa sengaja bakat itu muncul tiba-tiba, karena tuntutan untuk bisa terkenal di kampus.

Awalnya kami sempat bingung untuk bisa menjadi terkenal di kampus. Soalnya ya itu tadi, kami tidak tahu diri. Bila mengandalkan kekayaan untuk terkenal, rasanya sangat sulit, masalahnya kekayaan kami dibatasi oleh orang tua dan negara. Sedangkan untuk terkenal lewat prestasi, itu pun kelihatannya sulit, karena kami bukan dukun (orang pintar).

Tadinya sempat kami putuskan untuk menjadi macan kampus saja, namun kami berpikir bagaimana jadinya nanti kalau orang tua kami mengetahui kalau kami ini menjadi macan di kampus, bukannya malah menjadi mahasiswa. Pasti mereka kecewa. Ketika kami putuskan untuk menjadi ayam kampus, berat rasanya hati ini, karena kami ini pemalu, sedangkan orang tua kami sudah menanamkan pada diri kami masing-masing kalau, “malu itu sebagian dari iman”. Untuk menjadi ayam kampus butuh orang yang tidak malu, maka gagal-lah kami jadi ayam kampus.

Pada saat kebuntuan melanda pikiran kami untuk menjadi terkenal di kampus, tiba-tiba saja datang sebuah ide untuk membuat sebuah buletin. Ide yang biasa saja, yang tidak begitu mewah. Tapi ide tersebut cocok dengan diri kami yang biasa saja, karena bagi kami, untuk menjadi yang luar biasa itu harus menjadi yang biasa dulu, biasa berbuat, biasa bertanggung jawab, biasa mengerjakan, biasa berusaha, dan lain-lain.

Akhirnya tanpa banyak bertanya-tanya, bicara dan berkata-kata lagi, kami membuat sebuah bulletin. Bulletin yang keren, seksi dan penuh pesona, kami menamainya dengan bulletin ilegal. Nama Ilegal diambil berdasarkan beberapa sebab. Sebab yang pertama, salah seorang pendiri ilegal mendengar perkataan seseorang yang sedang mengomentari bulletin orang lain dengan komentar, “ieu mah bulletin ilegal” mungkin karena buletinnya tidak memenuhi persyaratan. Mungkin nama Ilegal akan cocok dengan bulletin kami yang serba kurang ini.

Sebab yang kedua, kata “ilegal” itu mudah diingat dan sering disebut, jadi orang-orang bisa dengan mudah mengingat dan menyebut kita.

Sebab yang ketiga, kita mengerjakan bulletin ini dengan cara yang ilegal, dana yang kami gunakan untuk mencetak bulletin hasil dari korupsi. Kami mengkorupsi uang jajan kami sendiri, oleh karena itu kami hidup dibawah garis kecukupan. Tapi kami bersyukur karena Allah masih menitipkan rizki lewat orang tua kami, sehingga kami bisa dengan mudah mendapat uang jajan.

Tidak disangka, awal penerbitan bulletin ilegal mendapat respon yang luar biasa dari pembaca. Akhirnya kami putuskan untuk mengukuhkan diri kami sebagai sebuah komunitas.

Sekarang jumlah anggota ilegal ada 38 orang, terdiri 15 mahasiswi dan 23 mahasiswa. Sebelumnya ada beberapa fase yang dilalui hingga ilegal sampai seperti sekarang ini. Fase pertama adalah fase ideuing, sebuah fase dimana hanya berupa ide dan gagasan. Penggagasnya dua orang mahasiswa yang tidak tahu diri tadi (nama tidak kami sebutkan, karena takut terjadi kesombongan pada dua orang tadi).

Fase kedua adalah fase pendiri, dimana dua orang tadi mencari kawan-kawannya yang sama-sama tidak tahu diri untuk berjuang bersama. Akhirnya terhimpunlah tujuh orang sebagai pendiri (nama tidak kami sebutkan, karena takut terjadi kesombongan pada tujuh orang tadi).

Fase ketiga adalah fase pendekar, dimana ketujuh orang tadi mencari kawan-kawannya lagi yang sama-sama tidak tahu diri untuk berjuang bersama. Inilah awalnya dikukuhkan komunitas ilegal. Jumlah anggota ilegal bertambah menjadi dua puluh empat orang. Dari kedua puluh empat orang tersebut, ternyata beberapa orang diantaranya memiliki bakat yang lain selain menulis, ada yang berbakat menjadi seorang musisi dan juga ada yang berbakat ackting. Akan sulit sekali jika harus mencurahkan bakat musisi dan bakat acting mereka di dalam bulletin. Maka kami sepakat untuk menambah dua bidang baru di ilegal, yaitu musik dan film.

Maka pada tanggal 20 Maret 2010, komunitas ilegal dikukuhkan di Sumedang. Komunitas Ilegal menyebut anggotanya dengan sebutan pendekar. Sumedang menjadi saksi bisu dari ikrar para pendekar untuk berjuang bersama menjadi orang terkenal di kampus. Hal itu dilakukan demi membuat orang tua kami bangga, meskipun anak-anaknya tidak pintar, tidak punya prestasi, dan sering minta uang jajan, tetapi anak-anaknya menjadi orang terkenal di kampus. Sampai saat ini, kami belum juga terkenal. Tapi tidak apa-apa, karena Allah sudah mencatat niat kami untuk menjadi terkenal dikampus, kan yang penting mah niatnya.

Ikrar sumedang melahirkan empat butir ikrar. Yang pertama, Totalitas tanpa batas. Kedua, Kreasi tanpa henti. Ketiga, Inspirasi yang seksi. Dan yang keempat, Setia pada Ilahi. Penjabaran ikrar tersebut sudah tercatat pada Manuskrip Ikrar Sumedang. Jadi akan terlalu panjang jika butir ikrar tersebut harus dibahas disini.

Pada pengukuhan Sumedang tersebut, terpilihlah Azhar La Beta sebagai Kepala Suku, Dadan Maulana sebagai Sekretaris, Merlian sebagai Bendahara, Hamdan sebagai Koord. Div. Bulletin, Izay C sebagai Koord. Div. Musik, dan Imam sebagai Koord. Div. Film. Ke-enam pendekar tersebut ditunjuk untuk selalu siap melayani semua pendekar ilegal. Mereka berenam menjadi tumbal kami untuk bisa menjadi orang terkenal dikampus. Alangkah senangnya hati kami yang tidak terpilih, karena kami bisa terkenal tanpa penderitaan seperti mereka yang harus selalu melayani kami.

Fase keempat adalah fase pengembangan. Dimana fase tersebut kami melakukan regenerasi pendekar untuk pertama kalinya. Ciwidey terpilih menjadi tempat untuk melaksanakan regenerasi, yang dipimpin oleh Prabu Ziyan. Regenerasi tersebut melahirkan 14 pendekar baru. Tercatat hingga saat ini, sebagaimana sensus yang dilakukan oleh mentri kependekaran ilegal, terdapat 38 anggota, terdiri dari 15 mahasiswi dan 23 mahasiswa. Ada yang dari UIN SGD Bandung, UIN Djogdja, STAIPI, STEMBI, dan Universitas Kehidupan (UK).

Bulletin Ilegal

Sebagaimana ilegal awal pertama kali dibentuk, bulletinlah yang menjadi media kami untuk menjadi orang yang terkenal. Dengan isi tulisannya yang aneh, tidak seperti biasa, terkadang memperkosa kata, namun tetap setia pada makna didalamnya. Sering kali kami dikritik karena tidak bisa memilih kata-kata yang tepat untuk digunakan. Dengan tidak mau mengambil pusing kami jawab saja, “ya namanya bulletin ilegal”. Bulletin ilegal mempunyai slogan, “Gratis dan Minimalis”. Jadi yang mau bulletin kami tinggal minta saja tanpa harus memberikan sepeserpun uang. Ya itung-itung kami beramal, biar Allah lah yang menggantinya. Kami sudah kaya dengan uang hasil korupsi dari uang jajan kami.

Bulletin ilegal terbit setiap bulan, sebanyak seribu eksemplar setiap kali terbitnya (tapi bohong). UNPAD, UPI, UIN SGD, STAIPI, STEMBI, UNISBA dan beberapa Ormas menjadi langganan bulletin ilegal. Bukan karena bulletinnya bagus, tapi karena kami paksa mereka untuk selalu baca. Bila mereka tidak mau, kami ancam mereka. Akhirnya mereka dengan terpaksa menerima bulletin ilegal untuk disebarkan dikampusnya. Alangkah senangnya hati ini, karena sebanyak 12 kali terbitan sudah diterima mereka dengan terpaksa.

Musik

Ilegal
mempunyai divisi musik yang masih keren, yang masih belum terkenal, yang masih belum bisa tampil, dan yang masih dalam ridlo Ilahi. Kami tidak terlalu mempermasalahkan genre, yang penting enak didengar saja. Sudah ada beberapa lagu yang diciptakan; Bencana, Perkosa Bumi, Rintihan Pacar Tiri, Celoteh Orang Tersesat, dan Cubluk Derita. Mudah-mudahan tahun depan Album ilegal bisa keluar. Amin.

Film

Divisi film ilegal sedang menggarap filem sangat pendek yang belum selesai-selesai hingga saat ini. Kesulitan alat menjadi kendala utama. Yang akhirnya pengerjaan film tersebut tertunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Kami ingin membuat filem bermutu, tidak seperti film Porn Rabbit, Hot Mom, atau semacamnya. Karena film semacam itu terbukti merusak moral. Kami bukan asal bicara, soalnya film tersebut pernah kami pelajari beberapa kali.

Buat kawan-kawan yang ingin kami paksa untuk menerima bulletin ilegal bisa menghubungi kami, silahkan hubungi twitter kami, @ilegalberack, atau datang saja ke sekretariat kami di gedung Berackonipus Manisi Bandung. [] Deli Luthfi Rahman/Kontributor

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas