Kampusiana

Eksistensi Mahasiswa UIN SGD di Masyarakat

Bumi mulai menjemput senjanya. Di sudut gang kecil diantara deretan rumah kontrakan mahasiswa dan warga setempat, terseliplah sebuah Mesjid. Seorang mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Madarasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan terlihat bergegas menuju mesjid di gang tersebut. Iha Solihat namanya. Ia mulai melangkah sembari menanggalkan atribut kemahasiswaannya. Beralih menjadi seorang pengajar ngaji.

Adalah mesjid Nurul Karim, terletak di Gang Pesantren 2, Desa Cipadung, sebuah kawasan belakang kampus UIN yang menjadi  tempat pemukiman warga dan kontrakan mahasiswa. Beberapa menit setelah adzan Ashar berkumandang, Iha mulai membaurkan dirinya dengan anak-anak yang datang untuk menuntut ilmu agama. Lantunan ayat suci Al-Quran pun mulai terdengar dari bocah-bocah yang menjadi muridnya itu.

Sebagai mahasiswa muslim, semboyan Tridarma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat haruslah diterapkan. Bukan hanya saat Kuliah Kerjanyata Mahasiswa (KKM) yang merupakan kegiatan akhir yang menjadi prasyarat kelulusan. Namun, ternyata bentuk pengabdian terhadap masyarakat bukan hanya pada saat KKM saja. Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya bisa dilakukan sejak tahun pertama menyandang status mahasiswa. Hal ini bahkan dapat dijadikan ajang latihan untuk belajar bersama masyarakat secara nyata.

Terkait eksistensi mahasiswa di masyarakat, disinilah beragam bentuk variasi yang dilakukan para mahasiswa. Seperti yang dilakukan Iha Solihat. Ia merupakan salah satu mahasiswa yang membagi waktunya antara belajar di kampus dan mengajar ngaji. Jadwalnya mengajar adalah 5 hari dalam seminggu, dibagi menjadi 2 waktu yakni ba’da Ashar untuk tingkat TPQ, dan ba’da Maghrib untuk kelas klasikal (SMP dan SMA/red.).

Iha mengaku memiliki motivasi kuat terkait pengabdiannya tersebut. “Eksistensi mahasiswa di masyarakat dapat dijadikan sebagai tempat melatih diri agar punya rasa percaya diri dan kemampuan, jadi ketika nanti kita sudah ada di masyarakat, kita akan memperoleh pengalaman,” ungkapnya.

Iha yang juga mengajar mata pelajaran Bahasa Arab dan Qur’an Hadist ini juga mengatakan bahwa keberadaan mahasiswa sangat diakui masyarakat. Lingkungan harus dimanfaatkan sebagai bahan pengalaman kedepan ketika mahasiswa sudah hijrah kembali ke rumahnya. ”Kita bisa memberikan pendapat, memberi inovasi, memberikan hal baru di lingkungan kampung halaman karena sudah berpengalaman di luar kampus,” tambahnya.

Meski kerap mendapati jalan terjal dan melelahkan dalam proses pengabdian dalam masyarakat, tak lantas menyurutkan semangat mahasiswi asal Tangerang ini. “Perlu kesabaran yang ekstra untuk dapat eksis di masyarakat. Sabar menghadapi lingkungan masyarakat dan ujian dari masyarakat serta omongan-omongan miring dari masyarakat,” ungkapnya. “Kadang mereka suka bilang kalau mahasiswa itu tidak disiplin karena tidak mengajar, untungnya pihak DKM mengerti. Paling kalau bentrok dengan kuliah, digantikan dengan rekan yang lain,” lanjut Iha.

Dalam menghadapi anak didiknya, Iha punya cara tersendiri apabila murid-muridnya tengah dilanda kebosanan. “Biasanya saya mengatasi kebosanan anak-anak dengan mengadakan nonton bareng film-film islami setiap seminggu sekali. Dengan begitu mereka termotivasi untuk terus belajar,” tuturnya.

Tidak hanya mengajar ngaji, Iha mengaku banyak berpartisipasi dalam kegiatan lain yang ada di masyarakat. “Selain ngajar ngaji, paling ngisi pengajian ibu-ibu atau Bapak-Ibu di Mesjid, melatih anak-anak pildacil dan kosidah ibu-ibu. Kebetulan, mesjid Nurul Karim sudah terdaftar di Depag, jadi setiap ada perlombaan-perlombaan di Bandung, selalu ikut berpartisipasi,” papar Iha.

Satu lagi mahasiswa eksis lainnya, Yusuf Nurmansyah. Mahasiswa Jurusan Muamalah Fakultas Syariah dan Hukum semester 8 ini terhitung cukup lama mengabdi di masyarakat sekitar dan area luar kampus lainnya. “Saya mengajar di Mesjid Al-Anshari dari Juli 2007, pertama kali masuk kuliah hingga sekarang. Awalnya karena diajak oleh kepala madrasah, pak Jarkasih,” ujarnya saat ditemui di sela-sela mengajarnya.

Yusuf merupakan satu dari 9 orang lainnya yang mengajar di mesjid Al-Anshari. Setiap hari kecuali hari Minggu, dimulai ba’da Maghrib hingga jam 8 malam. Mahasiswa asal Majalengka ini turut menuturkan pandangannya terkait eksistensi mahasiswa di masyarakat. “Ketika dia dipaksa harus eksis di masyarakat, bisa-bisa dia tidak menerima. Intinya kalau mau eksis di masyarakat jangan pernah merasa diri kita rendah. Maksimalkanlah kemampuan diri kita dalam kebaikan, untuk memperbaiki kekurangannya,” terang Yusuf.

Apalagi Yusuf dengan segudang kesibukannya, ia pandai menyiasati waktu agar tetap seimbang dengan kuliahnya. “Selain saya ngajar ngaji di mesjid Al-Anshari tadi, saya juga mengajar di SMA Krida sebagai guru pementor, terus kerja di BMT Cicaheum serta usaha di perusahaan kumpulan anak mahasiswa mandiri. Semester awal hingga semester 7, merasakan hari-hari sibuk. Untungnya semester delapan ini banyak waktu kosong jadi bisa membagi waktu,” tuturnya.

Bukan hanya dari perorangan, upaya mahasiswa eksis di masyarakat juga bisa dilakukan dengan membawa nama organisasi. Terbukti dengan pengakuan Entin, salah seorang warga. Ia menyebut-nyebut nama salah satu organisasi ekstra mahasiswa. “Paling pernah dulu kalau donor darah dari PMI (Palang Merah Indonesia) sama HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) ngadain bekam dulu teh,” ujar Entin selaku ketua RT 4.

Senada dengan Bu Entin,  Ibu Tuti turut merasakan kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan oleh mahasiswa UIN. “Bekam sama sembako pernah saya dapat dari HMI aja tuh,”katanya. Bu Teti, warga RT 03 Desa Cipadung turut berkomentar positif. “Saya senang kalo melihat mahasiswa dari UIN yang suka mengajar di mesjid-mesjid,” katanya di sela-sela keluhannya soal sembako dari UIN yang pernah ia terima 2 tahun ke belakang namun tidak ada kelajutannya.

Pembentukan Citra positif Otomatis

Dimana bumi di pijak, disitu langit dijunjung. Hubungan baik dengan masyarakat (community relations) merupakan salah satu kegiatan eksternal seorang Public Relations. Tak bisa dipungkiri, eksisnya mahasiswa di masyarakat sekitar kampus membawa kesan baik bagi lembaga tempat ia menimba ilmu, UIN Bandung. Secara langsung maupun tidak langsung, kelakuan mahasiswa di masyarakat turut andil dalam membantu kinerja jajaran rektorat khususnya bagian Hubungan Masyarakat (Humas) dalam pembentukan citra positif atau negatif di masyarakat.

Seorang mahasiswa yang tidak mau menyebutkan namanya menanggapi pencitraan baik UIN lewat aktivis mahasiswa dan mencoba menghubungkan dengan kinerja Humas Al-jamiah. Berawal dari tugas kuliah, ia kemudian melakukan observasi ke masyarakat terkait kinerja Humas Al-jamiah dalam penumbuh-kembangan citra positif di masyarakat. “Saat saya wawancara ke pihak Humas, bagian ini tidak memiliki program yang terstruktur untuk melakukan kegiatan community relation, yang saya amati cenderung kondisional aja kerjanya,” ujar mahasiwa asal Tasik ini.

Seperti yang dituturkan Helmi bagian Humas Al-jamiah, faktor kondisional yang dimaksud contohnya memberi kompensasi materi kepada warga sekitar kampus terkait pembangunan yang tengah berjalan saat ini. Hal ini diamini oleh Eva, pemilik warung belakang kampus. “Ya, saya dapat kompensasi dari pihak UIN, karena rumah saya kena debu, atau bisi kagandengan (takut keberisikan, terganggu/red.), saya sih seneng aja.”

Menurut mahasiswa yang mengadakan observasi tersebut, seharusnya kinerja Humas tidak terbatas hanya pada hal kondisional saja. “Sebagaimana yang saya pelajari bahwa tugas badan Humas di masyarakat seharusnya ada program yang terstruktur dan terus-menerus agar mendapat timbal balik yang  positif dari masyarakat,” tambahnya.

Akan tetapi, tidak sedikit mahasiswa sekarang yang cenderung individualis. Bahrun Rifa’i selaku
sekretaris Pusat Informasi Kajian Islam (PIKI) Al-Jamiah UIN Bandung mengamini hal ini. Ia kemudian berbagi saran untuk menumbuhkan jiwa bermasyarakat pada mahasiswa. “Harus ada pendidikan atau penjelasan dari UIN dalam bertata krama di masyarakat, selain itu harus diberi pengetahuan tentang budi pekerti agar ketika di masyarakat mahasiswa bisa secara spontan berbaur dengan masyarakat.”

Senada dengan Bahrun, Yusuf pun mengurai pendapatnya, “Peran mahasiswa dimasyarakat diperlukan. Sebab kehidupan mahasiswa pada realitasnya memang di masyarakat. Kampus lingkupnya kecil, pasti orang yang kita temui hanya itu-itu saja. Sedangkan di luar kampus kesempatan untuk memperoleh relasi dan bertemu orang sangat banyak. Aktif di kampus hanya itu saja. Sedangkan kalau di luar, orangnya lebih banyak. Kita tidak mengabaikan yang di dalam juga,” paparnya mengakhiri. [] Santi, Indah, Sonia/SUAKA

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas