Lintas Kampus

Kini, Peringatan KAA Sarat Lobi Proyek

KAA

Suasana berlangsungnya diskusi publik, untuk mengkaji kembali hakikat Konferensi Asia Afrika, di Meeting Room UIN SGD Bandung, Selasa (7/4/2015). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Demokratik. (Ahmad Rijal Hadyan/ Suaka)

SUAKAONLINE.COM, Bandung–Peringatan Konferensi Asia Afrika kini dituding kehilangan ruhnya. Pasalnya peringatan Konferensi Asia Afrika hanya diperingati secara seremonial, dan sarat dengan transaksi proyek. Demikian yang diungkapkan Ketua Pengurus Cabang PMII Kota Bandung, Ahmad Riadi dalam diskusi publik bertajuk ‘Mengkaji Kembali Hakikat Konferensi Asia Afrika’, di Meeting Room Student Center UIN SGD Bandung, Selasa (7/4/2015).

“KAA dulu menghasilkan Dasasila Bandung. Sedangkan sejak KAA 2005, menghasilkan lobi dan kontrak eksploitasi Indonesia, atau intervensi undang-undang,” tambah Ahmad selaku narasumber dalam diskusi tersebut.

Riadi juga menyayangkan hilangnya semangat kemanusiaan dari rangkaian peringatan KAA. Semangat KAA meliputi beberapa poin, yakni menghormati batas-batas teritorial negara di Asia-Afrika, Pengakuan kesetaraan bangsa-bangsa, dan membangun kerjasama dengan semangat kemanusiaan.

Hadir pula dalam diskusi tersebut perwakilan Serikat Perempuan Indonesia, Dewi Amelia sebagai narasumber. Ia mengkritik masih adanya peran-peran negara adi kuasa dalam kerjasama-kerjasama negara Asia-Afrika. “Misalnya PT. Dirgantara Indonesia bikin kerja sama pesawat Air Bus dengan negara Asia-Afrika, tapi kan paten Air Busnya punya siapa?” ungkap Dewi.

Dewi juga menyayangkan adanya peringatan bagi para aktivis untuk tidak berdemonstrasi pada gelaran KAA,  24 April nanti. “Rakyat yang mau, diajak terlibat. Yang gak setuju disuruh diam,” keluh Dewi disela-sela materinya.

Diskusi tersebut digelar Forum Mahasiswa Demokratik (FDM) untuk menyambut perhelatan peringatan KAA yang berlangsung 19 sampai 24 April nanti. Diskusi tersebut diakhiri dengan rencana tindak lanjut diskusi. “Rencananya kita juga akan menggelar demonstrasi, bersama Front Perjuangan Rakyat,” ujar Ketua FMD, Yogi Apendi, yang juga merangkap sebagai koordinator pelaksana diskusi tersebut.

Yogi berharap diskusi tersebut dapat membuka kesadaran dan kepedulian mahasiswa terhadap momen KAA. “ Terutama buat tanggal 24, semoga tidak cuma lapisan buruh atau Front Perjuangan Rakyat saja yang ikut aksi, tapi mahasiswa juga harus terlibat,” pungkasnya.

Reporter              : Ahmad Rijal Hadyan

Redaktur             : Isthiqonita

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas