Kampusiana

3 Bocah Itu, Memulung

Disaat anak seusia mereka bermain, tiga bocah itu lebih memilih mengumpulakn botol-botol dan kardus bekas, yang kemudian mereka tukarkan dengan beberapa rupiah, yang bisa mereka gunakan untuk jajan dan bekal sekolah.

Ketika matahari tepat berada diatas ubun-ubun, seiring civitas kampus yang semakin ramai, penuh sesak dengan aktivitas mereka masing-masing. Terdengar nyaring muadzin melantunkan panggilan lima waktu, namun hanya segelintir orang yang merasa terpanggil oleh adzan saat itu. Kebanyakan mahasiswa yang lain melanjutkan kegiatannya tanpa peduli panggilan tersebut. Mungkin bukanya tidak peduli, tapi tampak mereka mengundur-undur waktu untuk beribadah. Mereka lebih suka hotspot-an diselasar kampus, lunch dikantin, atau sekedar nongkrong ditempat yang digemari para mahasiswa untuk ngopi dan merokok.

Tampak sebuah botol air mineral yang sudah kosong, menggelinding dilicinnya lantai oleh tendangan angin yang tiba-tiba bertiup dari luar aula gedung SC (Student Center). Terlihat tidak jauh dari botol itu, seorang bocah laki-laki mengejar laju botol itu menuju. Bocah laki-laki yang berumur 13 tahun itu mengambil botol, dan memasukan botol itu kedalam karung berukuran besar, yang disimpannya dibawah tangga gedung SC. Tidak lama dua orang sebayanya menghampiri dengan membawa benda yang serupa, yaitu botol bekas yang kemudian dimasukan kedalam karung yang sama.

Disaat anak seusia mereka bermain, tiga bocah itu lebih memilih mengumpulakn botol-botol dan kardus bekas, yang kemudian mereka tukarkan dengan uang yang bisa mereka gunakan untuk jajan dan bekal sekolah.

Dengan tanpa alas kaki ketiga bocah ini menyebar dan terus berjalan dibawah teriknya raja siang denagn mata yang tetap awas, tanpa peduli mata para mahasiswa yang mencibir ketika mereka memungut atau mengais-ngais ditempat sampah, padahal itu adalah kegiatan yang mengasikan buat tiga bocah ini.

Dengan tinggi sekitar 140 cm-an, rambut ikal kemerahan karena terjemur matahari, Igo -nama bocah itu- mengumpulkan botol-botol dan barang bekas yang biasa kegiatan itu disebut memulung ini. Ia mulai sejak kelas 4 SD, dan kini Igo duduk dikelas 6 SD di SD Cipadung. Bocah bersuara serak ini, mengaku kegiatan memulungnya ia lakukan atas keinginan sendiri tanpa paksaan siapapun. ”Abdi mah teu aya nu miwarang. Mulung teh kahoyong nyalira we, meh gaduh artos nyalira (“Tidak ada yang menyuruhku. Mulung merupakan keinginanku, biar punya uang sendiri.”),” tutur Igo yang mengaku rajin mengaji setiap sore ini.

Pernyataan serupa terlontar dari bocah yang lebih tinggi dari Igo, dengan badan kurus dan tanpa alsa kaki. Lukman juga memulung karena keinginan sendiri. “Sami jiga Igo abdi oge mulung kahoyong abdi nyalira, (“Sama seperti Igo, aku pun mulung karena keinginan sendiri”)” ucap bocah yang sedikit pemalu ini.

Berbeda dengan bocah yang tiga tahun lebih muda dari Igo dan Lukman. Jaka, terlihat masih sangat kecil namun tubuhnya sedikit tambun, dan telihat lucu jika sedang membawa karung yang tinggi karungnya hampir sama dengan tingginya. Namun, sebenarnya memulung bukanlah keinginannya, melainkan disuruh oleh Ibunya.”Jaka mah mulung teh da dipiwarang ku mamah kanggo jajan jaka di sakola (“Kalo Jaka, mulung karena disuruh mamah, buat jajan Jaka di sekolah”),” ucap bocah yang terlihat manis ketika tersenyum karena memiliki dua lesung pipi disenyumnya itu.

Lukman, Igo dan Jaka, tiga bocah polos korban ekonomi negeri ini. Ayah mereka hanyalah seorang buruh bangunan, yang dapat bekerja ketika ada borongan membangun, dan selebihnya hanya pekerja serabutan yang tidak jelas.

Memulung bagi tiga bocah ini, sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. ”Pokonamah mun aya waktu di luar waktu sakola, kita mah sok nyempetkeun mulung di kampus (“Pokonya jika ada waktu di luar jam sekolah, kita suka nyempetin mulung di kampus”),” seru Igo seraya menunjukan bahwa sekolah adalah hal yang terpenting bagi mereka. Meskipun Lukman pernah tidak naik kelas ketika kelas empat dikarenakan sakit typus. Bocah pemalu ini ikut mengiyakan ucapan Igo tadi. ”Kitamah mulungna uih sakola mun sakola na enjing-enjing, tapi sok mulung enjing-enjing mun sakola na beurang (“kita mulungnya setelah pulang sekolah,itu kalo sekolahnya pagi-pagi. Kalo sekolahnya siang, kita mulungnya pagi”),” jelas Lukman dengan sedikit malu-malu.

Matahari semakin terik diluar gedung SC, namun terlihat diantara lalu lalang para civitas kampus ada dua orang anak laki-laki seumuran dengan Lukman dan Igo sedang berjalan melintas depan pintu gedung SC. Spontan Lukman dan Igo jongkok dan memendamkan diri mereka dibalik tembok tihang depan LPM SUAKA. Ternyata mereka tidak ingin temanya yang barusan lewat itu tau bahwa mereka suka memulung. “Sien dibeja-beja karerencangan sakola teh (“takut dikasih tau ke temen-temen di sekolah teh”),” jelas Igo dengan muka yang sedikit merah padam. Berebeda dengan Jaka. “Jaka mah teu isin mulung di kampus mah, da teu aya nu wawuh ka jaka (Kalo Jaka ga malu mulung di kampus, karena ga ada yang kenal sama Jaka),” ujar bocah yang tetap berdiri menyender ditembok tidak ikutan bersembunyi.

Memulung, bukan lagi kegiatan hal yang memalukan saat ini. Tidak sedikit pemulung yang memulung di daerah kampus. Walaupun tidak ada persaingan antar pemulung, namun terkadang mereka mendapat tatapan sinis dari pemulung lainya yang secara tidak sengaja berpapasan ketika sedang memulung. ”Mang Dase jeung Mang Asep nu sok mulung di kampus oge,” ujar Jaka sambil memainkan batang lidi ditanganya.

Tidak jarang tiga bocah ini mendapatkan sikap yang tidak bersahabat, ketika sedang memulung di daerah kampus. Lukman pernah dimarahin seorang dosen, ketika ia sedang mengambil botol bekas. Dan Igo pernah dilarang memulung di daerah depan ruangan DEMA (Dewan Mahasiswa). “Sahenteu na mah dicarioskeun we nu leres. Ulah abdi na nu dicarekan, da abdimah moal maok (“Seenggaknya dinasehatin aja yang bener. jangan akunya yang dimarahin. Lagian aku ga akan nyuri”),” tegas Lukman tampak sedikit kesal.

Setelah botol-botol dan kardus bekas dirasa sudah cukup penuh dikarung mereka. Kemudian sore harinya mereka setorkan kepada Mang Isur, seorang penadah barang bekas di Cipadung belakang kampus UIN Bandung. Yang nantinya akan dijual kembali oleh Mang Isur ke seorang bandar rongsokan di daerah Buah Batu.

Hasil keringat tiga bocah itu, biasa ditukar dengan uang lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Karena harga tukar botol dan kardus saat ini sedang menurun menjadi seribu rupiah per kilogram. ”Nya lumayan we kenging tiga rebu atawa lima rebu sajalmi mah teh (“Ya lumayan aja dapet tiga ribu sampai lima ribu per orang”),” ucap Igo datar.

Biasanya benda yang dipulung mereka tidak hanya botol dan kardus bekas saja. Kaleng,besi,duplek, dan alumunium, serta harga tukar yang paling mahal yaitu untuk benda yang berjenis tembaga, bisa dihargai Rp.10.000/kg tembaga. “Tembaga teh hese dicarina, padahal hargana teh pang mahalna (“Tembaga susah dicarinya, padahal harganya paling mahal”),” jelas Igo antusias.

Namun, tiga bocah polos ini juga pernah mendapatkan hasil hingga lima puluh ribu rupiah. Walaupun hal itu didapat saat moment-moment tertentu tapi cukup membanggakan bagi tiga bocah ini. “Mun aya wisudaan jeung mun aya panggung di aula kampus,” ungkap Jaka sambil memperlihatkan senyumnya yang dihiasi dua lesung pipinya.

Uang hasil memulung sehari-hari tidak hanya untuk jajan saja, terkadang mereka juga memberikan kepada ibu, tanpa diminta sebelumnya. Dan mereka pun menyisikan untuk ditabung dipengajian sesudah magrib dimesjid Al-Ikhlas.

Tidak terasa keakrabanpun semakin menyelimuti hingga waktu terasa begitu cepat dan pelan-pelan menenggelamkan rasa canggung dan malu dalam obrolan itu. Lantunan ajakan muadzin kembali terdengar menunjukan waktu ashar. Setelah berpamitan, dengan inisiatif tiga bocah ini memb
ereskan isi karung. Terlihat dari mata mereka harapan-harapan, dari hasil kegiatan yang sangat mengasyikan bagi tiga bocah ini yaitu, memulung. []Ikhmah Umaida Firdaus/ SUAKA

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas