Opini

Dangdut Menjadi Murahan Saat Bercerai dengan Sastra?

Oleh Neng Hannah*

Sejenak saya termangu menjelang menuliskan pengantar Kongkow Sastra dan Dangdut. Ada hubungan apa antara sastra dan dangdut di Indonesia? Mengapa dangdut kini identik dengan penyanyi perempuan seksi yang bergoyang seronok? Mengapa juga syair lagu dangdut kini terkesan murahan? Berbeda dengan sastra yang bernilai tinggi namun sukar diraih dan memiliki masa yang elit yang jumlahnya sedikit. Sebelum pelbagai teori melesak masuk, sekilas sebuah peristiwa terkait dengan dangdut menyapa.

Bulan Mei lalu saya menyaksikan pertunjukan dangdut live di atas sebuah feri yang menghubungkan Bakauheni dan Merak. Feri terahir yang melintas ini saya tumpangi selama hampir 3 jam. Selama itu pula 3 penyanyi dangdut menampilkan performa terbaik mereka. Mereka bernyanyi bergantian dan terus bergoyang dengan gaya masing-masing dengan mengharap saweran dari penumpang yang ikut berjoget. Dari ketiga penyanyi tersebut yang menarik buat saya adalah sosok penyanyi dengan pakaian paling rapi. Dia memakai celana panjang pensil hitam dan kaos tangan panjang berwarna hitam yang ketat. Sang penyanyi ini bergoyang dengan goyangan yang teratur dan berirama. Dua penyanyi lain memakai pakaian yang seronok. Super pendek dan ketat dengan gaya joget yang luar biasa binalnya. Saya sebenarnya agak malu melihatnya, namun karena ingin tahu dan sangat tertarik, saya mencoba untuk bertahan di atas dek feri paling atas dan meninggalkan kursi VIP saya untuk melihat fenomena yang baru kali ini saya temui secara dekat dan jelas.

Ternyata dari ketiga penyanyi tersebut, penyanyi berbaju hitam yang saya jagokan ternyata penyanyi yang performanya konsisten dan dapat saweran terbanyak. Dia berjoget begitu berirama dengan suara yang merdu dan menikmati apa yang dia bawakan. Sedangkan dua penyanyi yang lainnya terlihat tersengal-sengal dan goyangannya menjadi tidak karuan. Penikmat ketiga penyanyi dangdut ini sangat beragam. Namun sebagian besar yang menonton adalah penumpang laki-laki kelas ekonomi.

Musik dangdut selalu mendapat apresiasi dengan jumlah masa yang banyak. Setiap lima tahun sekali pada saat pemilu presiden musik dangdut menjadi primadona. Disetiap kampanye musik ini menjadi magnet penarik masa untuk hadir. Namun sayang saat ini performa penyanyi sebagian besar selalu menampilkan gaya berpakaian seronok  dan goyang erotis.

Perubahan performa penyanyi dan syair dangdut sebenarnya tidak terjadi dengan sendirinya. Banyak hal yang mengakibatkan dangdut seperti apa yang kita saksikan saat ini. sejarah dangdut memiliki tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia.

Sekilas Sejarah Dangdut

Dalam sejarah dangdut Munif Bahasuan yang dianggap pelopor musik dan maestro dangdut tanah air, mengaku tidak tahu darimana istilah itu berasal. Sebab, ungkapnya, pada 1940-an sudah banyak musik yang lahir berbau dangdut, tetapi belum dinamakan musik dangdut., Munif menyebut lagu Kudaku Lari, yang dilantunkan A Harris pada 1953, sebagai satu di antara lagu pelopor irama yang kelak disebut dangdut ini. Alasannya, lagu itu telah memberanikan diri memasukkan suara gendang ala India pada orkes yang semula hanya memakai gitar, harmonium, bas dan mandolin.

Pada 1950-an, selain ada A Harris, juga ada nama-nama penyanyi dangdut lain, seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, dan Juhana Satar. Tapi, kemudian datang masa ketika supremasi terhadap lagu-lagu berirama Melayu direbut negeri jiran Malaysia.

Popularitas P Ramlee, biduan Malaysia yang mengaku keturunan Aceh, memindahkan kiblat musik Melayu ke negeri itu. Melalui tembang Engkau Laksana Bulan dan Azizah, P Ramlee berjaya tak tersaingi. Apalagi setelah itu ia juga membintangi beberapa film layar lebar. Popularitasnya di Indonesia pun makin subur. Semua yang berbau Ramlee menjadi tren.

Tapi, pada 1960-an, muncullah Said Effendi, yang berhasil mengembalikan supremasi irama Melayu dari Malaysia ke Indonesia. Lewat lagu Bahtera Laju, Said Effendi menempatkan diri sebagai pelantun irama Melayu nomor wahid negeri ini. Ia menyingkirkan popularitas P Ramlee.

Said Effendi memiliki lagu-lagu populer yang diciptakannya sendiri, seperti Bahtera Laju, Timang-timang, dan Fatwa Pujangga, serta lagu karya orang lain, misalnya Semalam di Malaysia (Syaiful Bahri) dan Diambang Sore (Ismail Marzuki). Ketenaran Said Effendi makin tak tertahan, ketika ia muncul dengan lagu Seroja karya Husein Bawafie. Sukses Seroja menarik minat sutradara Nawi Ismail untuk menokohkan Said Effendi ke dalam film dengan judul yang sama. Setelah itu, sutradara Asrul Sani pun menarik Said Effendi untuk membuat film Titian Serambut Dibelah Tujuh.

Dangdut di awal kemunculannya begitu dekat dengan sastra Indonesia. Syair-syair dangdut banyak diadaptasi dari pantun, gurindam dan sarat dengan nilai budaya ketimuran yang menjunjung tinggi etika. Dangdut setelah tahun 1970 diramaikan oleh A. Rafiq, Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Mansur S, Mukhsin Alatas, Herlina Effendi, Reynold Panggabean, Camelia Malik, Ida laila. Pada masa ini dangdut semakin berfariasi dengan memasukan unsur lagu lain seperti rock, pop, disko, musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin. Di era ini dangdut  menjadi mainstream musik Indonesia.

Masa kejayaan dangdut semakin hari semakin memudar. Meski setelah tahun 1970 bermunculan penyanyi dangdut yang berkualitas seperti Vetty Vera, Nur Halimah, Ikkeu Nurjanah, Kristina, Cici Paramida dan lain-lain, namun dangdut semakin bergeser menjadi musik pinggiran. Hal ini diantaranya diakibatkan oleh performa penyanyi dan gaya panggung yang dianggap tidak sopan serta syair yang semakin hari semakin jauh dari nilai sastra dan adat ketimuran.

Dangdut Menjadi Murahan?

Dangdut saat ini yang identik dengan goyang erotis dan pakaian seronok, sebenarnya tidak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak hal yang mengakibatkan dangdut menjadi seperti ini. Menurut perspektif gender, kapitalisme yang kawin mawin dengan patriariki mengakibatkan performa dan gaya penyanyi dangdut merendahkan perempuan. Bagi para kapital, perempuan penyanyi dangdut takubahnya seperti komoditi yang menjanjikan keuntungan besar sehingga perlu dibuatkan struktur jaringan yang kuat untuk ‘memaksa’ mereka agar tampil. Sehingga terjadilah eksploitasi seks perempuan dengan memarginalkan dangdut sebagai sarananya.

Citra perempuan dalam media hiburan saat ini terutama dangdut masih belum lepas dari lima ciitra. Pertama citra Pigura (memikat secara Biologis) bagaimana sensualitas penyanyi dangdut perempuan  dimunculkan sedemikian rupa dengan gaya berpakaian seminim dan seseksi mungkin agar menarik perhatian. Sebagai sesuatu yang dianggap pinggiran dan sebelah mata kadang melakukan hal yang berbeda dengan norma yang ada dan citra Pigura ini pada ahirnya yang dipilih dalam setiap pertunjukan dangdut.

Kedua citra Pilar (nyonya /pengelola rumah tangga) seperti lirik lagu Rhoma Irama yang berjudul Emansipasi Wanita “Wanita ditakdirkan yang melahirkan, bukankah ini bukti kelemahan, Wanita adalah ibu manusia. Janganlah bersikap seperti ayah, Lelaki adalah pemimpin wanita, dalam tata kehidupan dunia, Begitulah ketetapan Sang pencipta, Lalu kenapa kau coba merubah, Kalau aturan Tuhan sudah diubah-ubah, Pasti kau akan dapatkan kepincangan, karena kaum wanita banyak yang memenuhi kantoran ahirnya laki-laki jadi pengangguran.” Lirik-lirik bernada seperti ini banyak ditemukan di lagu dangdut.

Ketiga citra Peraduan (seks dan seksualitas) terlihat dalam lirik lagu Keong Racun “Dasar Kau keong racun baru kenal sudah ngajak tidur, ngomong gak sopan santun kau anggap aku ayam kampung……”, Keempat,  citra Pinggan (urusan dapur) seperti lirik “Cari istri jangan bingung bingung cari saja seperti saya bisa masak dan cuci pakaian soal dandan
gak ketinggalan”. Citra Pergaulan (diruang publik sebagai pendamping/darma wanita) lirik lagu Rhoma Irama “Majulah wanita giatlah bekerja, namun jangan lupa tugasmu utama, Apa pun dirimu, Namun kau ibu rumah tangga”.

Kelima citra ini diamini kalangan  Feminis yang melihat dangdut dalam hal ini perempuan penyanyi dangdut pinggiran sebagai perempuan yang dibelenggu oleh kultur patriarki dan bukan sebagai subjek yang memandang dan menyiasati kekuatan-kekuatan dominan dan hagemonik. Padahal negosiasi dan perlawanan senantiasa terjadi dalam dinamika kehidupan mereka. Apakah perempuan yang termarginalkan ini tidak bisa berbicara?

Pengalaman perempuan seperti pelangi. Perempuan kulit berwarna memiliki pengalaman penindasan yang berbeda dengan perempuan kulit putih. Perempuan etnis minoritas berbeda dengan mayoritas. Subaltern dengan dominan. Apalagi kalau kita sadar bahwa selain faktor kultural, faktor ekonomi dan agama pun turut memberi corak yang berbeda bagi pengalaman perempuan. Jadi saat melihat perempuan penyanyi dangdut pinggiran banyak hal yang harus kita pahami tidak sekedar justifikasi atas aksi yang mereka lakukan.

Dangdut saat ini terlihat seperti murahan karena mengikuti pencitraan yang telah di jelaskan di atas yang diakibatkan oleh budaya patriarki dan kapitalisme. Dangdut yang kemunculan awalnya bersenyawa dengan sastra menempati hati mayoritas masyarakat Indonesia. Selain menikmati irama yang mendayu-dayu masyarakat juga dilenakan dengan syair-syair yang indah. Namun saat ini dangdut bercerai dengan sastra, sehingga liriknya menjadi murahan dan tidak jelas. Perceraian ini berakibat buruk pula buat sastra, sastra menjadi sepi peminat. Ia seolah menjadi barang elit yang hanya bisa dijangkau para intelektual semata. Semoga dangdut dan sastra bisa kembali rujuk. Wallahu’alam.

[Catatan ini merupakan pengantar pada acara “Kongkow Sastra” bertema Sastra dan Dangdut, Senin 17 Oktober 2011. Dilakukan sedikit refisi seusai berdiskusi dengan Bambang Q-Anees.]

*Penulis adalah Aktifis Perempuan dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas