Kolom

Di Balik Pemecatan Rektor

Dok. Suaka

Dok. Suaka

Beberapa bulan terakhir, sivitas akademika UIN SGD Bandung sempat dibuat gempar ketika Rektor Deddy Ismatullah diberhentikan dari jabatannya melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Agama. Namun informasi pemberhentian itu seperti diendapkan. Buktinya, SK dari Kemenag itu sudah keluar 6 Februari tapi baru sampai ke kampus pada 9 Maret lalu.

Alhasil selama lebih kurang tiga bulan, UIN SGD Bandung tidak mempunyai rektor definitif. Sebagai pengganti, ditetapkanlah Wakil Rektor II Bidang Keuangan, Mukhtar Solihin sebagai pengganti rektor sementara (Pgs). Hal itu sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor B.II/3/01991.1.

Berdasarkan statuta UIN SGD Bandung terbaru, penggantian rektor akan dilakukan pada Mei nanti. Berarti pemberhentian rektor secara terhormat hanya tinggal menghitung hari. Tapi realita berkata lain. Di penghujung masa jabatan, Rektor Deddy Ismatullah diberhentikan dari kursi rektor. Tentu hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan besar dan seakan berbau politis. Mengapa pemberhentian rektor harus dilakukan di akhir masa jabatannya yang hanya tinggal tiga bulan?

Selidik demi selidik, alasan pemberhentian rektor ternyata masih belum gamblang dibuka kepada publik. Beberapa pemberitaan di media massa juga tidak jelas alasan pemberhentiannya. Beberapa pihak ada yang bungkam, dan yang lainnya lebih memilih membola pimpongkan terkait alasan pemberhentian. Akibatnya, berbagai spekulasi muncul kepermukaan. Yang ramai dibicarakan yakni rektor telah menyalahgunakan wewenang, berkecimpung di partai politik dan pemberian Doctor Honoris Causa (DHC) kepada Ahmad Heryawan.

Namun, menurut Deddy, alasan itu minim konfirmasi kepada dirinya. Deddy pun dengan tegas menapik ketiga alasan itu. Saat dimintai konfirmasi ke pihak Kemenag, mereka juga ternyata tak mau banyak bicara soal alasan itu. Pihak kemenag dan Irjen malah membola pimpongkan keadaan dan lebih banyak no comment. Jika ketiga hal itu menjadi alasan kuat pemecatan rektor, seharunya Deddy sudah jauh-jauh hari diberhentikan dari jabatannya. Bukan justru diberhentikan menjelang pemilihan rektor baru.

Deddy pun tidak pasrah begitu saja ketika dirinya diberhentikan secara tidak hormat. Ia mulai melancarkan “serangan balasan” ke Kemenag melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jakarta. Tentu hal itu dilakukan Deddy untuk mencari kebenaran mengapa dirinya diberhentikan dari rektor. Deddy sempat berkata bahwa sebelum pemecatan, pihak Kemenag harusnya mengkonfirmasi apa yang menjadi kesalahannya. Bukan justru terburu-buru melayangkan SK pemberhentian rektor. Hal itulah yang kemudian menjadi landasan Deddy untuk menggugat Kemenag ke PTUN.

Sebelumnya Deddy sempat digadang-gadang mencalonkan diri menjadi rektor kembali. Namun karena kejadian itu ia lebih baik mundur. Deddy berkata, panitia pemilihan rektor baru dan pejabat-pejabat lainnya haram dilakukan sebelum ditanda-tangani oleh rektor definitif. Sebenarnya, posisi Deddy sebagai rektor yang diberhentikan pun masih belum final. Dirinya masih mengajukan guguatan di PTUN. Artinya kampus idealnya harus menahan diri, jangan terburu-buru melakukan pemilihan rektor baru, dan menunggu sampai Deddy selesai urusan di PTUN.

Bukan tidak mungkin apa yang dilakukan Deddy di PTUN bisa berhasil dan dapat mengembalikan nama baiknya. Bukan mustahil pula bahwa apa yang dilakukan oleh Kemenag, memecat Deddy sebagai rektor, adalah keputusan yang keliru. Kita tunggu tanggal mainnya. Siapa yang benar dan siapa yang salah. Juga apa yang ada di balik pemecatan rektor.

Adi Permana, Pemimpin Redaksi Suaka (adie.permana94@gmail.com)

Komentari Tajuk ini dengan mengirimkan opini Anda ke email: redaksi.suaka@gmail.com

Tajuk ini bisa dilihat pula di Tabloid Suaka edisi April 2015.

1 Comment

1 Comment

  1. Wahyu Nurhalim

    31 Oktober 2015 at 16:58

    SUAKA ONLINE TOP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas