Puisi

Independensi Jiwa

Oleh Nurfauzy Abdillah*

Yang ku tahu, kabarnya kita hidup dalam gelombang udara purba yang memberi tanda bahwa tak ada yang tak menua. Janji-janji akan membuatnya semakin pilu, tak selalu bersama akan mengutuhkan juga. Namun, aku hanya ingin menjadi busur tanah, atau dari dengkul menjadi pelana. Salahkah?

Diam bukan berarti tak peduli. Tidak semua inti hati bisa kau mengerti dan kau telanjangi dengan panca indera. Pernahkah kau berfikir bahwa satu debu pun terdiri dari ribuan sel yang pernah bernyawa? Selalu ada hal yang tidak bisa dipahami nalar karena semua hal memiliki lapis makna yang tak terhingga.

Aku mempunyai pita film abu-abu tentang gambaran diri. Sering kali ku tonton gambar diriku bergerak terbang merendah dan menerima bahwa hanya kau yang ada dalam garis imaji dan batas realitasku. Aku yang selalu tersesat dengan dunia 4 dimensi ku sendiri. Kau yang selalu sadar akan dunia 3 dimensi kita. Kita terpisah oleh sekat yang entah tak terdefinisi. Dan tiada yang lebih pahit dan menyakitkan selain mendapati keterpisahan dan ketidaktahuan yang memabukan. Yang mampu ku baca bahwa kau tau caranya menghibur diri dan bahagia meski kita berada dalam lokomotif yang berbeda. Satu yang menguatkanku, bahwa kita hidup dalam satu pendar cahaya yang sama.

Aku harap kau mau menerimaku menjadi air, tanah, dan udara kapan saja. Aku adalah partikel mandiri yang lahir dari ribuan sel dan bersatu padu membentuk tunggal yang kuat, sehat dan berakar. Sejak lama jiwaku sudah bertransformasi dan merdeka, kau lah konsentrasi ku mengorbit dan melawan rasa takut akan kehampaan. Jika nanti ku tak tau jalan pulang, tarik aku semaumu dengan kendaraan rasio dan logika.

Aku merasakan kebahagiaan paripurna dalam ketidakberdayaanku berani mencinta. Yang aku miliki hanyalah independensi untuk merasa tidak repot saat kau harus tak ada. Dan aku akan menerima dengan lembut rasa sakit menahan hampa jika sekat semakin membatas. Mungkin suatu hari kita harus pergi sendiri-sendiri. Akan ada kesempatan berbeda, rupa, cara dan bentuk yang tak sama. Kau akan jadi bayi kecil lebah, aku akan jadi bunga Desember yang semerbak dan mengawal kelahiranmu. Atau aku menjadi bijih Vanili yang lembut menumbuh dan kau manjakan dengan belaian lembut anginmu. Kenapa tidak?

Dalam ruang-ruang kita yang kecil dan rahim dunia yang maha luas, mutasiku menjadi jiwa baru adalah setiap hari. Tapi tidak dengan muatan maknaku untukmu yang begini saja.

Tahan lama, purba dan tak juga menua.

*Penulis mahasiswa Bimbingan Konseling Islam semester IV.

6 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas