Terkini

Bom Bunuh Diri, Kejahatan Kemanusiaan

[Suakaonline]-Terkait mengenai kasus Bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Jalan Arif Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah, Minggu (25/9) ini dinilai memiliki tujuan yang bias, kasus ini merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa dibenarkan.Menurut Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi,  salah seorang pengamat Politik  sekaligus Dosen UIN Bandung(10/10), sebaiknya dilakukan tindakan-tindakan preventif yang lebih produktif, bukan hanya tindakan reaktif yang kerap mengundang kesan tidak professional. Dalam konteks itu, dapat dilakukan, salah satunya dengan melakukan evaluasi komprehensif atas berbagai kemungkinan penyebab terjadinya tindakan bom bunuh diri.Senada dengan Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi, Rohmanur Aziz, salah seorang Dosen Pendidikan kewarganegaraan Fak Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung juga ikut berkomentar.

“Kasus itu merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa dibenarkan oleh agama manapun termasuk agama Islam. Pemerintah dan para pemuka agama harus bertanggung jawab. Selama ini mereka mempertontonkan drama turki: seolah rukun dalaam forum tapi kenyataannya tidak,” ungkap  Rohmanur Aziz saat di wawancarai kru suaka,  Senin (10/10).

Dibalik kasus ini, kaitannya dengan RUU Intelijen, momentumnya tepat dengan bom Solo, BIN dapat keuntungan pembenaran need assesment sekaligus harus menanggung resiko atas tudingan rekayasa sosial. RUU Intelijent  masih dipandang sebagian kalangan secara negative. Misalnya berkaitan dengan wilayah hak-hak sivil yang dikhawatirkan akan terganggu. Kekhawatiran-kekhawatiran ini bisa saja menjadi salah satu pemicu “hasrat” melakukan teror bom bunuh diri.

Ada sejumlah variable yang kemudian mendorong pelaku untuk nekad melakukannya. Salah satunya, adalah situasi sosial politik yang dalam pandangan subyektif para pelaku sebagai suasana timpang yang harus diperjuangkan. Kemungkinan faktor lainnya adalah soal kontrol yang seharusnya diperankan oleh lembaga control. Kasus teror seperti bom bunuh diri ini bukan terjadi sekali atau dua kali. Inilah yang dapat dijadikan umpan balik untuk melakukan kontrol yang lebih ketat. Jadi, kalau masih saja terjadi, maka dapat dipertanyakan aspek kontrol ini.

“Dari perspektif pandangan keagamaan, perlu dikakukan ikhtiar edukasi yang lebih utuh dan menyeluruh, khususnya berkaitan dengan tafsiran ajaran terkait perilaku terror bom bunuh diri. Usaha ini akan melibatkan banyak sektor, termasuk sektor pendidikan dan tentu saja sektor pelayanan publik yang kerap memicu kecemburuan sosial yang dapat menjadi trigger tindak kekerasan.” Ungkap Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi, menambahkan.[]. Sri cahya lestari /SUAKA

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas