Opini

Rahasia Dibalik OPAK

Oleh Firman Wijaksana*

Pengenalan dunia kampus merupakan ajang adaptasi bagi mahasiswa baru. Sebelum memulai perkuliahan mereka diharuskan untuk mengetahui keadaan di kampusnya. Kebanyakan orang  menyebutnya ospek atau orientasi studi dan pengenalan kampus.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung pun mempunyai istilah sendiri untuk pengenalan dunia kampus. OPAK yang merupakan singkatan dari Orientasi Pengenalan Akademik digunakan dari tahun 2008. Pada tahun-tahun sebelumnya istilah TA’ARUF dipakai sebagai nama orientasi di kampus ini. Tidak seperti di kampus-kampus lain, peserta orientasi di UIN tidak menggunakan atribut-atribut aneh. Terkadang orientasi diartikan sebagai ajang balas dendam. Akibatnya pandangan orang terhadap orientasi menjadi negatif.

Diluar kelebihan dan kekurangan orientasi, terdapat sekelumit permasalahan yang jarang diketahui oleh peserta orientasi. Di kampus yang berlabel Islam ini OPAK adalah ajang untuk mencari tender. Saat mahasiswa baru disibukkan untuk melakukan pendaftaran, mahasiswa lama pun disibukkan untuk melakukan pendaftaran. Mereka sibuk untuk mendaftar sebagai calon pemegang tender fasilitas yang akan dibagikan kepada mahasiswa baru.

Berbagai fasilitas yang dibagikan seperti buku, pin, kaos dan almamater pun menjadi incaran. Peluang bisnis terbuka lebar. Proyek fasilitas ini seakan menjadi sebuah angin segar untuk mengisi kantong mahasiswa yang kosong. Sekitar 3500 mahasiswa baru membayar uang pendaftaran OPAK sebesar Rp 175.000,-. Jika dijumlahkan, total pemasukan yang didapat sekitar 600 juta. Sebuah jumlah yang besar di kalangan mahasiswa.

Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi penyelewangan dana OPAK.  Pengadaan fasilitas pun tak sesuai harapan. Sebagai gambaran, jas almamater seharga 70-75 ribu sebenarnya hanya seharga 40-50 ribu. Jika diambil keuntungan sebesar 20 ribu dikalikan jumlah mahasiswa baru, maka total uang yang didapat oleh pemenang tender jas almamater adalah 70 juta. Ini hanyalah keuntungan dari jas almamater. Oleh karena itu, jangan aneh jika sampai detik ini panitia masih belum dapat membagikan fasilitas. Mereka masih sibuk untuk menghitung keuntungan atau bahkan bingung, karena uang OPAK malah kurang akibat sudah dibagikan kepada kolega.

Namun, uang yang dibayar tak sebanding dengan fasilitas yang didapatkan. Panitia OPAK pun tidak profesional dalam mengelola uang sebesar itu. Lokasi OPAK yang bertempat di lapang sepak bola pun tidak layak untuk dijadikan sebagai tempat orientasi. Cuaca yang terik membuat tanah menjadi berdebu. Peserta pun harus berdesakkan tanpa adanya kipas angin atau AC.

Jika panitia memang bertanggung jawab, seharusnya pembagian fasilitas harus segera dilaksanakan secepat mungkin. Jangan hanya memenuhi hak sebagai panitia saja, sedangkan hak para peserta tidak dapat terpenuhi. Sementara uang yang berada di tangan panitia merupakan uang peserta OPAK.

Bandung, 2011

*Penulis adalah mahasiswa jurnalistik semester 9 yang sedang mengerjakan skripsi.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas