Opini

Rendra, Revolusi, dan Indonesia

Oleh Pungkit Wijaya

Naskah Mastodon dan Burung Kondor ditulis W.S Rendra antara tahun 1971 dan 1973 di Yogyakarta. Naskah itu  dipentaskan kembali 11-14 Agustus 2011, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM). Ken Zuraida, sebagai sutradara dan istri mendiang Rendra, melihat pararelitas antara sebagian narasi dalam Mastodon dan Burung Kondor dan situasi Indonesia kini. Artinya, Indonesia sejak tahun 1970-an itu tidak banyak berubah, persoalannya masih sama (Kompas, 14/08).

Pementasan tersebut berdurasi sekitar tiga jam, tentang pergulatan politik di Amerika latin yang mengalami kontra-revolusi, pemerintah berkuasa, yang diwakili oleh tokoh Kolonel Max dari pemerintahan militer yang berambisi melakukan pembangunan, Juan Federico pejuang yang gigih menyuarakan perubahan, Profesor Tofas, sebagai aktor intelektual, Jose Karacosta penyair yang mengusung kebebasan dan tidak memilih berorarganisasi, memilih jalur kebudayaan dan 37 pemain lainnya.

Dalam naskah itu jika dikaitkan dengan kenyataan hari ini, Kolonel Marx berambisi melakukan pembangunan besar-besaran dan melanggengkan status otoritariannya, terus memproduksi pembangunan yang akhirnya memunculkan kesatuan penolakan dari Juan Federico yang terus berjuang dan gigih untuk menyuarakan perubahan (revolusi), Karena ketertindasan. Akan tetapi Juan sebagai mahasiswa yang terpengaruhi juga oleh Profesor Tofas, aktor intelektual pada masa tersebut.

Oleh karenanya revolusi terus menjadi percepatan untuk melakukan perubahan sosial, menjadikan sesuatu yang baru. Karena revolusi secara definitife ialah perubahan yang cepat dibandingkan dengan evolusi yang memerlukan waktu. Apabila diam akan terus ditindas, proses berfikir akan didistorsi, apa yang dilakukan rezim penguasa untuk melakukan pembangunan, mahasiswa sebagai “agen social of change” terus bergolak untuk terus menyuarakan perubahan yang signifikant, ini semacam antithesis, sehingga terjadi dialektika antara penguasa militer dan mahasiswa.

Dengan demikian mahasiswa digambarkan menjadi pejuang pembebasan atau penyambung lidah rakyat, dalih-dalih kelas menengah (Midle Class) dan image kaum intelektual yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang bisa bergerak memacu perubahan. Dengan demikian, jika melihat kenyataan pada masa itu, penggambaran permasalahan sosial begitu kompleks, gejolak pun timbul dengan landasan melihat kehidupan yang bersifat material untuk mengkondisikan proses kehidupan sosial, politik dan intelektual, pada akhirnya keberadaan sosial yang menentukan kesadaran mereka.

Selanjutnya pemerintahan militer yang berambisi melakukan pembangunan, sangat ketatukan sehingga menjaga ketat dan membasmi aktor-aktor intelektual pada waktu itu, konon pada rezim orde baru seluruh mahasiswa atau masyarakat tidak boleh melakukan perkumpulan karena membahayakan negara, bisa-bisa menjadi hilang seketika, oleh karenanya banyak aktivis mahasiswa yang “digelandang” dan “hilang entah kemana jasadnya”. Ada ketegangan antara para penguasa dan rakyat sehingga mungkin tidak ada kata lain selain, revolusi dan keinginan merobohkan rezim kekuasan militer yang otoriter.

Di sisi lain tawaran revolusi itu mendapat tantangan dari penyair Jose Karosta. Sang penyair tegar, tak berpengaruh dan enggan bergeser dari ketetapan mempertahankan prinsip laku kebudayaan. Setiap revolusi hanya akan melahirkan sikap fanatik. Sikap ini niscaya akan melahirkan penindas-penindas baru. Ketika revolusi dimenangi oleh kaum-kaum radikal yang fanatik, tak urung akan melahirkan pemerintahan Mastodon.

Dengan demikian tokoh Jose Karosta menolak konsepsi tentang revolusi. Ia lebih memilih tidak masuk ke dalam rezim penguasa dan tak melegitimasi apa yang disebut revolusi. Di sisi lain ia lebih menyukai berada dalam posisi lokalitas sebagai orang pribumi yang tidak menyerap mentah-mentah pemikiran orang lain dan memilih merubah budaya tidak masuk ke dalam sistem.

Di samping itu pararelitas yang disebutkan Ken Zuraida terletak pada persoalan yang menukik. Semisal pasca krisis moneter persoalan di Indonesia begitu kompleks, kemiskinan tak kunjung usai, korupsi menjadi-jadi, rakyat semakin melarat, belum lagi pendidikan semakin mahal, lantas benar anekdot “yang kaya makin kaya, yang miskin semakin miskin”, sementara budaya globalisasi terus menggerus proses berpikir masyarakat dengan Westernisasi. Sebab kedatangan demokrasi setelah revolusi 1998 belum kunjung memberikan arti yang signifikant, atau memang bangsa ini harus melakukan revolusi kembali?

Pada titik inilah tiada salahnya dalam memperingati hari kemerdekaan yang ke 66 tepatnya jatuh pada 17 Agustus 2011 ini kita refleksikan kemerdekaan Indonesia dengan  memaknai kemerdekaan itu memerdekakan, membebaskan yang terjajah dan tertindas. Atau kita selalu diingatkan saat tanggal 19 Agustus 1977 di pelataran Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung, ketika seluruh mahasiswa dibakar dadanya, langit pecah, Rendra membaca Puisi yang berjudul Sebatang Lisong; “menghisap sebatang lisong/melihat Indonesia Raya,/mendengar 130 juta rakyat,/dan di langit/dua tiga cukong mengangkang,/berak di atas kepala mereka”.

*Penulis, Penyair, bergiat di Forum Alternatif Sastra (FAS) Bandung dan Komunitas Kabel Data

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas