Opini

Alangkah Lucunya Kelakuan Para Pemimpin Kita

Dua momen pergantian kepemimpinan di tingkat rektorat dan mahasiswa tengah menjadi wacana hangat di pertengahan tahun ini. Peristiwa yang sama dengan cerita dan respon berbeda. Akhir kepengurusan Rektorat 2007-2011 dengan pimpinan Rektor Nanat Fatah Natsir diwarnai kisah “sakit hati” dua pembantunya, yakni Moh. Najib dan Endin Nasrudin.

Pasca pemilihan calon rektor, mereka memutuskan mundur. Tak tanggung-tanggung, dua media cetak lokal memuat berita pengunduran diri ini beserta alasannya yakni pengkhianatan dan sudah tak nyaman dengan kepemimpinan ‘Tukang Cukur’ yang dibawa Rektor Nanat. Mereka seolah ingin memberitahu seluruh dunia tentang keganjilan dalam pemilihan calon rektor UIN Bandung.

Lain halnya dengan situasi politik di ranah mahasiswa. Kesepakatan telah dibuat, tak ada pergantian Ketua Dema. Musema berganti menjadi semacam Kongres Mahasiswa Universitas (KMU) yang mengagendakan pembentukan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sistem yang disepakati untuk di usung, yakni Student Government (SG).

Sementara rektorat masih ‘adem ayem’ berkutat pada perkara pengunduran diri Endin dan Najib—masih melakukan lobi-lobi yang mereka sebut musyawarah— hal berlawanan terjadi di pergantian kepemimpinan mahasiswa. Akhir masa jabatan Dema menyisakan agenda besar berupa perubahan. Para aktivis mahasiswa itu pontang-panting berjibaku membenahi kinerja.

Dema dengan membawa aspirasi para senatornya bercita-cita mengembalikan sistem pemerintahan mahasiswa lewat kongres yang carut marut dan molor dari ketetapan waktu yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Meski konsep SG ini belum sepenuhnya disepakati oleh pihak rektorat, para aktivis peserta kongres tetap maju. Waktu sepekan ternyata tak cukup untuk merampungkan tatanan aturan SG, maka mereka kemudian memutuskan merampungkan semuanya awal Juni lalu di Villa Pangjujugan Desa Cilembu Pamulihan Sumedang.

Sungguh miris, para mahasiswa dari tingkat aktivis sampai yang apatis menjadi saksi drama pergantian kepemimpinan ini. Situasi perpolitikan yang rumit tak perlu membuat risau dan gelisah. Semua akan segera berlalu dan berganti dengan masalah baru. Maka hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah menertawakan para pemimpin kita yang kerap bertingkah “lucu” ini.

Wajah pejabat birokrat kampus terkesan jadi sangat tidak dewasa dengan kasus pengunduran diri. Mereka begitu saja melepaskan sisa tanggung jawabnya hanya karena hal yang sebenarnya dinilai bisa jauh disikapi lebih arif. Belum lagi sikap para pejabat rektorat yang terkesan acuh dan menutup-nutupi kejelasan tentang sebab pengunduran diri kedua pembantu rektor tersebut. Mempertebal citra buruk, mengesankan akhir kepemimpinan rektor yang su’ul khatimah.

Kepada para mahasiswa, dan para aktivis mahasiswa. Usaha perubahan sistem memang tak semudah membalikan telapak tangan. Sejatinya, usaha perubahan sistem Dema menjadi BEM adalah ke arah kepemimpinan mahasiswa yang lebih baik. Niat mulia ini bisa jadi tak terealisasi jika niat kepentingan golongan masih jadi prioritas. Janganlah mahasiswa maupun jajaran rektorat melulu cenderung berorientasi pada kepentingan-kepentingan segelintir pihak saja.

Keberanian merubah sistem memang masih dalam proses. Tapi yang terpenting, apakah kalian para aktivis mahasiswa berani memulai perubahan ini tanpa dinodai kepentingan golongan, demi mewujudkan masyarakat mahasiswa yang dewasa dengan demokrasi yang diagung-agungkan?

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas