Cerpen

Jerit Marriage

Oleh Pedi Ahmad*

Aku mencoba menarik nafas sepenuh dada. Aku pernah bertanya padamu suatu ketika, “Bukankah bahagia dan derita hanya dua sisi yang tak pernah bertemu dari sebuah gelas yang biasa kita gunakan untuk minum setiap hari? Yang mana bahagia? Yang mana derita? Apakah bagian luar atau bagian dalam dari gelas itu? Atau derita dan bahagia itu adalah kesatuan dari gelas sehingga tak terpisahkan dari minuman yang ada di dalamnya.”

“Atau ia hanya kata? Sebab, dimanakah letak sebenarnya bahagia dan derita itu? Bukankah dalam kesakitan ada bahagia dan di dalam bahagia ada derita?”

Aku ingat dulu kamu berkata, “Keperihan yang memadat pada awalnya, akhirnya menemukan jalan kelegaan bahwa ada yang tak dapat di tolak oleh manusia, meskipun kekuatannya sama dengan kekuatan cinta. Maut dengan kepastiannya mengatasi kehidupan yang selalu tak pasti”.

Akhirnya kaupun mengakui juga, bahwa kita memang selalu berjalan terpisah. Kita tidak pernah ada dalam satu rel yang sama. Kau selalu memaksaku untuk mengikuti jalanmu, dan itu awal dari kita selalu menaikan emosi. Terkadang aku takut ketika kamu mulai mengangkat tangan dan menamparku.

Aku selalu ingat waktu pertama kau menamparku. Itu baru sebulan kita menikah, yang menurut orang-orang adalah masa-masa romantis, ketika kita baru menjalani pernikahan. Tamparanmu membekas di pipiku lebih dari dua minggu, insiden itu terjadi karena aku hanya menyelamu bicara. Sebuah pembicaraan yang tidak penting untuk dikatakan. Sebuah pembicaraan yang hanya membuat bulan madu kita berantakan. Tamparanmu yang pertama membuatku meragukan rasa cintamu padaku. Rasa cinta yang selalu kau ucap sebelum kita menikah. Cinta yang membuatku terbuai mabuk asmara, kini aku mempertanyakannya. Adakah pertanyaan untuk cinta?

Bulan pertama pernikahan kita menjadi awal pudarnya rasa cintaku. Bukan karena tamparanmu, tapi karena ucapanmu yang mulai ingin diamini. Perkataan yang membuat setiap wanita menjadi tunduk dan takut atas suaminya. Perkataan yang sangat menyebalkan. Tapi bagiku itu tidak harus diamini, bahkan aku membencinya.

Sekarang kau mulai terbiasa menamparku. Bukanku tidak mampu melawan, tapi setiap aku melawan kau semakin menjadi, semakin membuat fisikku terluka. Lebih jauh lagi, hatiku sudah remuk, semakin berkurang rasa cintaku. Cinta yang dulu aku semai dengan segenap harap dan pengorbanan dan tak akan mampu untuk dikalkulasi, kini menjadi bumerang bagiku. Adakah pertanyaan untuk cinta?

Sekali lagi aku bertanya, adakah pertanyaan untuk cinta?

Kini kita habiskan waktu hanya untuk saling menyalahkan. Tidak ada keromantisan seperti waktu pacaran. Aku benar-benar bingung. Apakah sebenarnya yang kamu inginkan? Jika kau hanya ingin merasakan tubuhku, sebelum kita menikahpun kau sudah sering menyetubuhiku, menciumku dari ujung kepala sampai kaki. Kau selalu mengatakan sayang sebelum dan sesudah kita bercinta. Aku hanya menduga, kau hanya ingin memacu adrenalinmu saja. Bahwa kau ingin menyatakan diri sebagai seorang pemberani, menyetubuhi perempuan yang belum kau nikahi. Apakah itu yang menjadikanmu senang, ketika adrenalinmu terpacu? Jika seperti itu, seharusnya setubuhilah adrenalinmu, imaji keberanianmu.

Kini setelah pernikahan kita genap dua tahun aku menjadi benar-benar sadar, bahwa yang terjadi hanyalah suatu penderitaan. Penderitaan yang membuatku semakin imun atas semua siksaan dan perlakuan-perlakuan kasarmu. Kita baru dua tahun menikah, di mana pasangan suami istri yang lain mungkin sedang mengalami masa bahagia yang luar biasa, karena pada usia pernikahan itu mereka sudah mempunyai anak. Namun kita, semakin tidak karuan saja. Semakin melunturkan cinta yang telah sama-sama kita tambatkan pada sebuah keyakinan. Adakah pertanyaan untuk cinta?

Sesungguhnya aku terus berusaha meyakinkanmu, bahwa apa yang telah kita perjuangkan masih banyak harapan dan kemungkinan-kemungkinan untuk terus menjadi baik. Aku tidak memaksamu mengikuti saranku, tapi aku hanya ingin kamu tahu, kita masih punya harapan untuk menjadi baik. Bukankah kau dulu sering berkata padaku, bahwa seseorang menjadi berharga dan bermakna karena dia berbuat kebaikan pada orang lain.

Aku selalu ingat pertama kita berjumpa, kau selalu asik dengan buku-bukumu. Aku terkadang melihat wajahmu ditutupi buku, terkulai sampai kau tidur. Aku selalu merapihkan buku-buku itu. Semula tak kuhiraukan apa isinya, tapi aku mencoba menikmatinya. Lama-kelamaan aku merasa ikut menyukai sederet buku yang kau baca, sering aku tenggelam di dalam apa yang kubaca. Betapa manis dan mesra rasa cinta kita, ketika dulu kita sering membaca bersama, dan bertindak tidak karuan setelah menyelesaikan apa yang kita baca.

Tapi entah kenapa, setelah kita menikah dan kau meninggalkan hobi membacamu, kau mulai menjadi buas. Apakah buku-buku itu yang membuatmu menjadi buas, atau buku-buku yang kau baca itu sudah tidak menjadi pengikat akan kebuasanmu. Entahlah. Kini kau memang jauh berbeda. Mungkin karena bosan, atau karena rasa cintamu yang mulai luntur. Adakah cinta yang melukai? Adakah kekerasan atas nama cinta? Adakah cinta yang ingin menang sendiri? Adakah pertanyaan untuk cinta?

Aku ingat kutipan sebuah buku yang pernah dibaca, “Benarkah hidup yang sesungguhnya hidup akan seperti baja yang mengejang dalam musim dan cuaca? Seperti rel yang setia dijalani ribuan kereta, sedetikpun tak pernah mengeluh, atau berdesah ketika dihantam terik mentari, dan hujan yang menggenangi. Jika seluruhnya diterima dalam kepasrahan yang utuh, semuanya menjadi indah dinikmati dan dirasakan?” apakah itu terjadi padaku? Kukira itu sangat berbeda.

Dalam ruang yang kering ini, aku sudah tidak mampu menahan tangis yang semakin menjerit dalam dada. Jika mencintaimu adalah kebohongan paling kudus yang sedang aku lakukan, maka aku akan terus menjalaninya sampai kebohongan itu menjadi seolah benar. Mungkin ini jalan yang aku harus tempuh, walaupun kini aku sangat membenci pembicaraanmu. Pembicaraan yang selalu membuat kita berselisih, dan terkadang menghantarkan tanganmu menorehkan luka di sekujur badanku. Menyisit hatiku.

Kini sudah genap dua tahun pernikahan kita. Pernikahan yang berawal dan dibangun berdasarkan rasa percaya. Aku semakin merasa pernikahan kita tidak pantas untuk diteruskan. Pernikahan ini membuatku semakin terperosok pada lubang yang kelam dan tak berujung, yang membuatku semakin menyadari bahwa cinta tidak ada dalam waktu. Pepatah jawa yang dulu aku percayapun kini sudah mulai aku benci, “Witing tresna jalaran saka kulina”, mungkin itu berlaku untuk yang lain tapi tidak untuk kita.

Aku ingin sekali kamu mengatatakan cinta padaku. Cinta yang dulu, cinta yang setiap hari kamu tunjukan padaku. Ayolah katakan itu di usia pernikahan kita yang kedua. Apakah kamu sudah lupa? Katakanlah. Atau kau tak mampu lagi mengatakannya? Memang aku percaya, selalu ada yang tak tuntas lewat cakap. Tapi sungguh, aku ingin mendengarkan kata-kata itu. Cinta. Aku tidak memintamu untuk membelai dan mendaratkan ciuman tipis di keningku, aku hanya ingin mendengarkan kata cinta darimu. Aku benar-benar kangen akan perkataan yang dulu sering kau ucap. Maaf jika seolah aku memaksa.

Bersama gerimis

Kupupus cinta

Bersama gerimis

Kutambatkan cinta

Malam ini sangat dingin dengan sejuta gumam. Ketika badai masih angkuh dengan deru yang membutakan telinga. Aku masih saja diam, berharap kau mengatakan kata cinta. Malam ini genap dua tahun pernikahan kita. Aku tetap diam, ketika air mata mulai meleleh di pipiku.

Kini kau menjadi asing dari rasa dan semakin gaib dari pandang. Apakah kau tahu, sedetik menjadi setahun penantian akan dirimu? Aku masih diam di atas ranjang yang mulai lusuh menantimu. Suamiku, datanglah peluk aku, katakan kata-kata cinta untukku. walau hanya sedetik, tinggalkanlah kebiasaanmu demi aku.

“…..

Sampai ke titik ini aku masih saja bertan
ya

“kenapa hidup harus bahagia?”

(Sebuah kutipan puisi karya Bambang Q-Anees)

Akhirnya aku mulai mengakui, bahwa kita memang telah berjalan terpisah. Kita tidak pernah ada dalam perasaan yang sama. Aku sadar telah memaksamu untuk mengikuti sederet keinginanku. Namun aku masih bertekad untuk terus bersamamu. Mendampingimu walaupun aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Mungkin, mencintaimu adalah takdirku. Walaupun kau tetap saja asik dengan kelakuanmu, aku akan terus bersamamu. Inilah kado pernikahanku yang ke dua. (09.10.2011).[]

_____

*Penulis lahir di Garut 10 Desember 1988. Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung. Bergiat di Verstehn Community dan Sinestera Sastra

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas