Opini

Moloku Kie Raha

Oleh Herton Maridi*

Kenangan merupakan satu-satunya yang organik, sesuatu yang empirik untuk mengukur kembali realitas di sekitar kita, bagian dari proses pembentukan realitas bersama. (Afrizal Malna)

Tak banyak yang saya banggakan ketika saya lolos menjadi peserta TSI IV, karena dalam pikiran saya tentu tanggung jawab saya sepulang dari sana sangatlah besar dengan tidak melupakan dukungan dari kawan-kawan saya maupun dosen yang sudah mendukung keberangkatan kami. Jika bukan karena dukungan dari mereka mungkin saya, Galah Denawa, Pungkit Wijaya dan Restu A Putra tidak akan berangkat ke Ternate untuk menghadiri acara tahunan Temu Sastrawan Indonesia yang keempat.

Singkat cerita setelah berlama-lama mencari ongkos di sana-sini yang sebenarnya masih di lingkungan kampus, akhirnya seminggu sebelum keberangkatan dari jadwal yang sudah ditentukan kami berempat berangkat ke ternate meskipun dengan penerbangan yang berbeda. Saya memulai perjalanan dari bandung menuju jakarta dengan menggunakan bus primajasa bersama Pungkit Wijaya dan Jun Nizami penyair asal Tasikmalaya. Sesampainya di bandara Soekarno-hatta kami harus menunggu lama sebab keberangkatan saya pkl 05.00 pagi sedangkan kami sudah sampai di bandara pkl 17.00 itu pun kalo saya tidak salah mengingat. Seperti kebanyakan penulis lainnya kami memilih untuk merokok dan memesan kopi, dengan cara seperti inilah kami menghabiskan waktu di Bandara tepatnya depan wc umum. Setelah pkl 00.00 teman saya Jun Nizami chek-in duluan karena ia menggunakan pesawat yang berbeda. Kami pun berpisan untuk sementara.

Tak lama setelah merokok dan tiduran waktu menunjukkan pkl 03.00 pagi, saya dan Pungkit Wijaya langsung check-in dan menunggu lepas landas pkl 05.00 dari bandara soekarno-hatta menuju Manado karena kami harus transit dari sana untuk menuju Ternate. Saat berada di Manado secara kebetulan saya bertemu dengan peserta TSI lainnya; Rahmat Heldi, Abdul Salam dari Serang-Banten tidak lupa juga Maulana Satria Sinaga dari Medan dan penyair asal NTT Mario F Lawi. Kami pun mengobrol berbagi pengalaman bagaimana bisa lolos menjadi peserta TSI. Setelah sekian lama kami mengobrol pemberangkatan selanjutnya menuju Ternate dilangsungkan kembali.

Sesampainya di Ternate saya dan kawan-kawan disambut oleh LO (lesson officer) atau sebut saja panitia.

“ternyata wanita Ternate cantik-cantik juga” kataku.

“yaa lumayanlah buat ngisi kekosongan di waktu senggang” bisik Rahmat Heldy.

“ah dasar penyair kerjaannya memburu wanita dan memburu kesedihan” ucap Maulana SS.

Tawa pun meledak di lobi yang sebelumnya tenang-tenang saja.

***

Dalam acara seperti ini (TSI IV) apalagi tingkatnya nasional tentu ada seminar sastra yang membahas perkembangan sastra Indonesia. Meskipun sebenarnya saya sudah “olab” karena dalam sebulan sebelum keberangkatan saya ke Ternate, acara bedah buku Puisi dan Bulu Kuduk karya Acep Zamzam Noor dan diskusi heboh mengenai sastra dan dangdut sudah cukup membuat kepala saya bergoyang.

Segelintir perumusan masalah yang terjadi pada sastra Indonesia di abad ke-21 ini menjadi santapan utama, setelah di hari pertama dan kedua dibukanya acara ini dengan penobatan Gelar Adat Ternate kepada Cak Nun di Kedaton oleh Sultan Ternate.

Selanjutnya di hari ketiga Afrizal Malna bersama Maneke Budiman menyuguhkan Estetika sastra Indonesia Abad ke-21 meskipun diskusinya tidak kondusif dikarenakan sound-nya yang mendadak “ngadat” namun diskusi tetap berjalan lancer. Selama satu hari tersebut kami dicekokin diskusi seputar sastra seperti “Telaah karya Sastra Dekade Terakhir” oleh Bramantio dan Nurudin Asyhadie. Kemudian Eka Kurniawan dan Hilman Farid membahas “Komitmen Sosial dalam Sastra Indonesia”. Dan yang terakhir “Pengembangan Komunitas Sastra” bersama Sofyan Daud, Firman Venayaksa, Bandung Mawardi dan Azhari Aiyub. Saya tidak akan membahas secara rinci mengenai seminar sastra tersebut karena saya hanya ingin menulis catatan perjalanan atau entah apa namanya. Mungkin pembaca yang budiman bisa menemukannya dalam esai-esai sastrawan lainnya yang meresensi seminar sastra selama di Ternate.

Setelah berganti hari, selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan wisata budaya, kami mengunjungi beragam tempat seperti Benteng Kalamata, Pantai Sulamadaha, Batu Angus menikmati pemandangan Pulau Uang Seribu, mencicipi makanan khas Ternate juga tarian tradisional. Tidak lupa juga acara pembacaan puisi oleh beberapa peserta TSI. Mungkin yang paling mengesankan buat saya adalah ketika Happy Salma membacakan puisi. Suaranya mampu membenamkan semua pandangan kepada artis cantik asal Sukabumi ini.

Dari perjalanan saya menuju Ternate saya berharap dengan terselenggaranya acara Temu Sastrawan Indonesia bisa membawa perkembangan sastra Indonesia menjadi lebih baik khususnya di negeri yang konon selalu kita cintai dan umumnya di mata dunia.

Untuk mengakhiri tulisan ini mari kita berdoa, semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT bagi yang bersastra maupun tidak. Dan untuk para penulis semoga kita semua dijadikan penulis yang serius.

*Penulis adalah pembaca sastra, penikmat dangdut dan pemerhati sastrawati. Bergiat di Komunitas Sasaka, Forum Alternatif Sastra dan Komunitas Kabel Data. Sekarang sedang mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan hati yang pecah.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas